60
Menit Bertemu Sakura
Oleh :Bintun Nahl
Kuncup-kuncup
bunga pohon plum berjajar tunjukkan pesonanya, ribuan bunga sakura mulai
bermekaran dari ujung selatan Okinawa, Pulau Kyushu, merambat ke Pulau Honshu,
Shikoku, dan terakhir di Hokkaido yang berada di utara Jepang.
Burung
raksasa baru saja mendarat di Haneda bersama
puluhan pengikutnya, seorang gadis keluar bersama rombongan yang lain sambil
membawa tas koper kecil di tangan kirinya. Beberapa langkah setelah melewati
pintu keluar, gadis itu membuka kacamata yang terpajang di wajahnya lalu ia
selipkan di saku mantelnya.
“Perfect…” gadis itu tersenyum memegang
kertas ditangannya. Lalu ia menghentikan sebuah taxi.
“Kon'nichiwa.” Sapa sang supir.
“Doko e ikimasuka ?” Supir taxi itu menanyakan tempat
tujuan si penumpang cantik tersebut.
“marunouchi e ikita.i”
Gadis itu menyebutkan sebuah tempat yang tak begitu asing.
“Hai.” Sang Supir menyetujui lalu memutar
balik kendaraannya untuk mencari jalan yang lebih dekat.
“Arigatōgozaimashita.” Gadis itu
mengucapkan terima kasih dan mengulurkan beberapa yen.
Sesaat
setelah kakinya berpijak diatas negeri sakura tersebut, ia hirup udara musim
semi yang khas.
“Tempat
ini banyak berubah, tujuh belas tahun akhirnya kita bisa bertemu juga.” ucapnya
lirih. Beberapa gedung sudah tertata di depan mata, namun masih menyisakan
beberapa bangunan rumah tradisional.
Tingg…Gadis itu menekan bel. Seorang wanita
separuh baya menggeser pintunya, gaun kimono berwarna biru muda yang melekat
pada tubuhnya membuat wanita itu tampak lebih muda. Sebagian rambutnya sudah
tak hitam lagi.
“Okaasan,
Saya mencari Ayuka.” Gadis itu memberikan salam hangat khas jepang.
“Kon'nichiwa.” Wanita itu membungkuk
memberikan salam, seorang perempuan terlihat melintas dibelakangnya..
“Ayuka-chan.”
Gadis itu sontak langsung memeluknya.
“Aku
Keyko, teman Kamu waktu kecil.” Gadis itu menangkap raut kebingungan di wajah
Ayuka.
“Keyko?”
Ucap Ayuka lirih mencoba mengingat teman-teman masa kecilnya.
“Kamu
pasti lupa, wajahku memang sedikit berubah. Begitupun dengan Jepang sudah
banyak berubah,” Gadis itu menjelaskan, ia melihat-lihat beberapa koleksi foto
sahabat lamanya itu yang terpajang di ruang tamu.
Wanita cantik yang tadi membukakan pintu
tengah menyiapkan makan siang, tak menunggu waktu lama mereka bertiga duduk sejajar
menikmati hidangan makan siang.
“Hmm..Yakitori. daging ayamnya empuk
sekali Okaasan. Tau saja Okaasan kalau Aku mau datang.” Puji gadis itu sambil
bernostalgia dengan makanan favoritnya tersebut.
“Kamu
temannya Yuka? Nggak pernah main
kesini ya?” tanya sang Okaasan
“Tujuh
belas tahun terakhir ini Saya tinggal di Indonesia Okaasan, di Yogyakarta.
Disana juga ada yakitori semacam ini, tapi namanya sate.” Ujar Keyko sambil
mengamati makanan khas jepang ditangan kanannya.
“Eh,
bagaimana dengan hadiah yang bulan kemarin Aku berikan? Kamu suka?” Tanya Keyko
pada Yuka.
“Hadiah?”
Sepertinya Yuka tak mengerti maksud dari pembicaraan Keyko.
“Kau
tidak menerimanya? Kain batik yang kamu inginkan, Aku membelinya langsung dari
produsennya.” Keyko menelisik.
“Gomen, Watashi…” Yuka mengerutkan
dahinya, matanya menatap tajam Keyko.
“Apa
benar dulu kita sempat berteman?” Lanjutnya.
Pernyataan
itu sontak membuat yakitori yang masuk ke mulut Keyko menjadi pahit.
“Okaasan,
apa yang terjadi dengan Yuka-chan. Apakah akhir-akhir ini dia mengalami
kecelakaan?” Keyko memegang kepala Yuka berharap Yuka baik-baik saja dan memang
benar tak ada luka apapun.
“Atau
dia terserang penyakit?” Lanjutnya.
Wanita
itu hanya menggeleng.
“Akhir-akhir
ini Yuka murung, dia ingin melupakan seseorang yang pernah berarti di
hidupnya.” Ucap wanita itu setengah berbisik.
“Wakarimashita.”
Jawab Keyko lirih.
“Kamu
benar-benar tak mengingatku?” Keyko mendekatkan wajahnya ke Yuka. Tak ada
respon berarti dari Yuka.
“Atau
mungkin ini akan membuatmu ingat.” Keyko mengeluarkan beberapa souvenir jepang
yang iya dapatkan dari Ayuka.
“Tidak…”
Ayuka menggeleng.
Setelah
menyelesaikan makan siangnya, Keyko mohon diri dari keluarga Yuka. Matanya
berkaca-kaca, pandangannya kosong, langkah kakinya begitu berat. Usahanya untuk
membuat ingatan Ayuka kembali tak membuahkan hasil.
“Pertengkaran
kita dua bulan yang lalu ternyata benar-benar sudah tak berbekas dihatimu, ingatanmu tentang Aku pun ikut kau hapus.”
Guman Keyko sambil memandangi voucher
liburan untuk dua orang, kini voucher
itu hanya akan jadi rencana yang tak akan pernah terlaksana.
Boeing
777-300ER tiba di Bandara Soekarno-Hatta lewat tengah malam, Keyko berniat akan
langsung pulang ke Yogyakarta namun penerbangan ke sana baru dibuka besok pagi
pukul 06.15. Ia memutuskan untuk istirahat sejenak di salah satu hotel
terdekat. Matanya sulit untuk terpejam, semalaman ia terjaga merenungkan
peristiwa pahit yang harus dia bawa pulang.
Belum
genap mesin waktu menunjuk pukul 8, Keyko sampai di depan rumahnya yang berada
di kawasan Jl.Simanjuntak.
“Keyko!”
Seorang wanita terkejut ketika membukakan pintu, sesaat kemudian Keyko pingsan.
“Keyko-chan…”
Suara itu terdengar sedikit asing di telinga Keyko, ada aroma aneh yang mampir
ke indera pembaunya.
“Keyko-chan,
kamu cantik.” Seorang gadis mengamati wajah Keyko dengan seksama. Selang
seperseratus detik Keyko membuka matanya, ia merasakan keanehan di hidungnya.
Nampaknya sang ibu terlalu banyak mengoleskan minyak agar ia tersadar.
“Ayuka?”
Gadis yang berada di depannya itu nampak berbeda dengan gadis Jepang yang
kemarin ia temui, tapi Keyko sangat yakin kalau itu Ayuka. Kimono yang
dikenakan gadis itu, motifnya sama persis dengan kain batik yang ia pesan
khusus untuk sahabatnya.
“Hai. Ayu-chan.” Begitulah Ayuka slalu menyebutkan namanya disetiap berjumpa
dengan Keyko lewat surat-suratnya.
“Kalau
Kamu Ayuka. Perempuan yang kemarin siang Aku temui, dan alamat itu.” Keyko kini
benar-benar sadar bahwa ada kesalahan ejaan di alamat surat Ayuka.
“Nanti
aku jelaskan. Yang jelas sekarang aku mau keliling kota tercintamu ini. Okaasan
tadi bercerita kalau orang Yogyakarta itu alus-alus.”
“Wakatta..Dimana tempat pertama yang
ingin kamu kunjungi?” Tanya Keyko lalu bangkit untuk segera berkemas.
“Kyoto
in Java.” Jawab Yuka penuh antusias.
Puluhan
burung berkicau diatap gedung bekas istana Negara tersebut, kesedihan Keyko
kini benar-benar sudah berlabuh dipulau yang tak diketahui letaknya. Ia hanya
membawa semangat dan kebahagiaannya saja. Kyoto in Java adalah lambang untuk
kota Yogyakarta yang sempat menjadi ibu kota Negara sebelum akhirnya pindah ke
Jakarta.
“Lalu, sejak kapan kamu pindah ke
Hokkaido?” Seteguk es the manis meluncur ke tenggorokkan Keyko.
“Seminggu setelah kamu mengirimkan
ini.” Ayuka menunjuk pada kimono yang tengah ia pakai.
“Rumah lamamu?”
“Ojii-chan menjualnya.” jawab Ayuka.
“Lalu gadis yang ada di rumah itu..?
namanya mirip kamu. Aku kira..” Keyko tidak melanjutkan ucapannya.
“Mungkin hanya kebetulan saja.”
Ayuka menanggapi cuek, tangannya sibuk mengutak-atik lensa kameranya.
Luka yang kemarin masih menganga di
hati Keyko seketika tertutup. Ia sudah terbangun dari mimpi buruk yang
membuatnya terbang sampai negeri sakura. Mentari semakin memuncak hingga
akhirnya ia harus kembali ke singgasananya.







mantap nin
ReplyDeletebelum baca cuma nimbrung hehe,,
ReplyDeletesegera Lanching http://ssbscommunity.blogspot.com/