Flickr Images

Thursday, October 12, 2017

Keyakinan di atas Harapan



Keyakinan di atas Harapan
-Bintun Nahl-

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku”. Sebuah kutipan romantis yang tak pernah terbasikan oleh zaman, di dalamnya terkandung banyak pembelajaran. Bahwa dari yang kita fikirkan tumbuhlah doa-doa yang akan mengguyur nasib kita dikemudian hari. Jika yang slalu terfikirkan hal-hal yang baik maka imbasnya akan baik, begitupun sebaliknya. Aku buka tulisan ini dengan kalimat penuh cinta dari yang tercinta, agar kita tak lupa dengan Sang Maha Pemilik Cinta. Begitu mudahnya Ia membolak-balikkan hati dan begitu sederhananya Dia dalam mengajarkan sebuah nilai kedisiplinan fikir.
Beberapa tahun yang lalu seorang pencari ilmu bernama Masaru Emoto melakukan riset pada strukture air. Dua gelas air dijadikannya sampel penelitian dengan perlakuan yang berbeda. Segelas air ia letakkan pada sebuah ruangan khusus, diberinya kalimat-kalimat positif pada air tersebut dengan suara yang halus nan santun. Segelas yang lain juga ia ajak berbincang namun bincang yang ia berikan berbeda, kalimatnya kotor, suaranya keras dan kasar. Berhari-hari orang tersebut melakukan itu, ah bahkan sampai berminggu-minggu. Dihari terakhir, kedua sampel air itu dibekukan dan dilihat strukturnya di bawah mikroskop canggih. Air-air itu ia ambil dari sumber yang sama. Namun bentuk akhir keduanya sangatlah bertolak belakang, segelas air yang diberikan kalimat positif setiap pagi memiliki Kristal yang cantik sedang segelas yang lain hancur tak berbentuk.
Dari riset Pak Masaru kita dapat belajar mendisiplinkan sebuah ucapan, begitu mudahnya struktur air itu berubah hanya dengan sebait kalimat yang diterima setiap pagi. Padahal 70% manusia tersusun dari air, sedikit terpeleset kita dalam berucap rusaklah struktur air yang kita miliki. ucapan yang dimaksud disini tak hanya yang bisa didengar oleh telinga dan keluar dari mulut, tapi berfikir juga menjadi bagian dari ucapan yang terbisukan oleh ruang.
Inilah modal utama yang harus diketahui oleh seorang pemimpi, kedisiplinan berfikir yang menumbuhkan keyakinan.  Setelah harapan-harapan itu kau tuangkan dalam agenda masa depanmu, maka kau harus yakin bahwa tubuhmu mampu merealisasikan angan tersebut. Karena mimpi yang baik adalah mimpi yang terwujud, dan ikhtiar pertama kita dalam mewujudkan mimpi tersebut adalah yakin. Ketika keyakinan itu telah digenggam maka ikhtiar-ikhtiar lain akan berjalan beriringan, namun jika kau merasa masih disitu-situ saja berarti kau belum mampu menggenggam keyakinanmu sendiri.
Bung, jika keyakinan itu telah bersamamu maka jangan hanya memimpikan hal-hal kecil! Bermimpilah seperti Al-Fatih sang penakhluk konstantine, mimpinya bertumbuh dari sebuah keyakinan. Keyakinan bahwa dirinyalah yang diramalkan Rasul sebagai penakhluk kota terkuat pada zamannya tersebut. Mimpinya besar, keyakinan yang ia miliki besar, dan ikhtiar mendekatkan diri pada Sang Pemilik Skenario terbaik juga tidak tanggung-tanggung.
“Aku sesuai prasangka hamba-Ku”. Tak peduli sebesar dan setinggi apapun mimpimu, jangan pernah mundur dalam berjalan ke arahnya selama keyakinan itu masih bersamamu. Sekalipun peluang itu datangnya mungkin hanya sekali dan celah pencapaiannya begitu kecil, ingatlah bahwa kamu memiliki Dzat yang Maha Berkuasa. Berfikirlah menang dan berproseslah layaknya seorang pemenang, maka dengan Kun Fayakun-Nya kemenangan itu akan kau dapatkan.
Sekali lagi akan sedikit aku bongkar tentang penakhluk kota Istanbul. Sekelumit proses telah ia lalui bersama dengan pasukannya untuk menakhlukkan Sang Byzantium (re : Konstantinopel), ah bahkan mereka tak hanya sekedar pasukan Al-Fatih tapi gelar tentara Allah pun pantas mereka kenakan. Awal kepemimpinan Sultan Mehmed II dibangunlah sebuah benteng baru bernama Beyazid sebagai salah satu strategi penakhlukannya, beliau juga membuat berbagai meriam untuk menghancurkan tembok besar yang mengelilingi Konstantinopel. Tapi sayang, api yunani itu tetap saja menjadi kota dengan pertahanan paling bagus. Sedikit saja tembok mereka berlubang maka sesegera mungkin ditambal hingga kembali seperti sedia kala. Melelahkan bukan? Tidak! Bahkan keyakinan Al-Fatih dan tentaranya untuk menang telah membutakan mata dan fikirannya, keyakinan itu menendang jauh-jauh rasa lelah yang ada.
Sekali lagi aku perjelas bahwa kota itu adalah kota dengan pertahanan paling bagus, jalur darat untuk memasuki kota tersebut dibangun tembok yang sangat panjang dan kuat. Sedang jalur lautnya dipasang rantai-rantai berukuran raksasa untuk mempertahankan keutuhan kota. Ada sedikit celah yang tak begitu ketat penjagaannya yaitu Selat Bosporus, tak terlalu lama berfikir namun juga tak seenaknya sang sultan menyeberangkan 70 kapal besar melewati selat tersebut. Sebagai bentuk ikhtiar dan pembuktian keyakinannya. Kapal-kapal besar itu menyeberangi sebuah daratan yang tak datar, mungkinkah? Inilah keyakinan yang berhasil mereka tanamkan dalam hati, keyakinan yang merenggut segala ketidakmungkinan. Karena di dalam keyakinan mereka terdapat Allah yang menjadikan segala bentuk ketidakmungkinan menjadi mungkin, yang menjadikan segala ketidakpastian menjadi pasti. Dalam kurun waktu tak kurang dari satu malam, kapal-kapal itu berhasil diseberangkan.
Hingga pada tanggal 29 Mei 1453 sejarah itu berhasil terukir dengan indahnya, kota yang dianggap penting karena memiliki wilayah paling strategis tersebut berhasil takluk. Penakluknya adalah pemimpin dan pasukan terbaik. Disitulah nama Al-Fatih terukir sebagai pemimpin terbaik sekaligus pemimpi terbaik yang mimpinya dikenang selama berabad-abad lamanya.
Itulah sepenggal kisah tentang keyakinan diatas harapan, tentang bagaimana berkomunikasi dengan baik terhadap diri sendiri dan bagaimana menyuntikkan kalimat-kalimat positif pada air-air ini. ketika Allah berfirman bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya, maka pandai-pandai lah kita dalam melobby agar skenario yang awaknya biasa saja menjadi skenario yang luar biasa. Intensitas bincang dengan-Nya harus ditingkatkan agar mimpi ini tak sekedar menjadi buaian belaka, supaya keyakinan ini semakin nyata adanya.
Share:

Saturday, October 7, 2017

Sangkrah




Sangkrah



-Bintun Nahl-

Kisah ini disampaikan seorang kakak kepada adiknya yang sedang belajar banyak hal. Tak terlalu spesial, tapi akan sangat sayang ketika suatu pelajaran berharga lapuk karena tak pernah dibagi. Namanya Ilyas, pemuda pinggiran kota jogja yang usianya terpaut beberapa tahun di atasku. Ibunya telah meninggal, sang ayah tercinta merantau ke kota seberang atau mungkin ke pulau seberang, dan tinggallah ia dengan seorang adik perempuan yang telah menginjak usia dewasa.

Beberapa tahun silam. Ketika usianya masih belasan, ketika seragam putih abu-abu masih sering melekat di tubuhnya. Pemuda ini memerankan tokoh utama dalam lingkungannya, dalam sebuah drama hanya akan ada 2 sifat tokoh utama yaitu antagonis atau protagonist selebihnya hanya pemeran pendamping. Ia tak mendapat jatah memainkan lakon protagonist. Habitsnya selain menjalani rutinitas di sekolah hanyalah bermain, memancing dan nongkrong  nggak jelas dengan teman-temannya.  Mata-mata pengamat itu slalu ada, celetuk indah yang slalu keluar untuk memberikan julukan kepada mereka adalah “Sangkrah”.

Kau tahu bung, apa itu sangkrah? Dalam bahasa jawa sangkrah atau rerencekan dapat diartikan segala sesuatu yang hanyut di sungai. Daun kering, ranting patah, bahkan sampah yang berakhir disungai akan slalu disebut sangkrah. Terkadang disini aku sering merasa terbimbangkan, siapakah yang sejatinya menjadi tokoh antagonis? Kakakku yang belum pernah melakukan habits yang bermanfaat ataukah mereka yang selalu memandang penuh kesinisan? 

Ah tidak, aku saja yang terlalu cepat menilai dan mengambil kesimpulan. Ternyata terselip doa yang begitu luar biasa di balik julukan itu. Hiasan sungai tanpa makna tersebut tak jarang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Petani mengambilnya untuk membendung sungai agar airnya bisa mengalir ke sawah miliknya, penambang menyusun sangkrah dengan beberapa batu untuk membelokkan arah aliran agar pasir yang ia cari lebih mudah untuk diperoleh, dan seorang laboran  akan memanfaatkan sangkrah untuk menfilter air-air yang ia kelola.

Terhapuslah kata tanpa makna dalam sebuah sangkrah, justru ia membantu keberlangsungan hidup banyak orang. Karena nasi yang terhidang di meja makan tak akan jadi nasi ketika sawah tak menghasilkan apa-apa. Hotel yang megah tak akan pernah terealisasikan jika tak ada pasir dalam komposisi bangunannya. Bahkan sangkrah-sangkrah itu dijadikan tempat berlindungnya makhluk air yang sizenya mungkin tak mampu menahan derasnya air sungai.

Sekali lagi, begitu luar biasa doa yang dipandang hanya sebuah sindiran. Perlahan secara bertahap, pemuda yang akrab di sapa Ilyas tersebut menemukan habits barunya. Ia memposisikan sangkrah miliknya menjadi sangkrah yang dicari banyak orang, melepaskan kata tanpa makna dalam dirinya. bukan hal yang mudah memang untuk memposisikan diri ditempat tersebut, karena memutuskan tampil dimasyarakat sama artinya dengan menyumbangkan banyak tenaga. Lelah itu pasti ada, bahkan mungkin hanyalah kelelahan yang mengejarnya sampai saat ini. Kelelahan yang membahagiakan banyak orang, terkesan tidak adil bukan? Tidak! Itu hanya peletakkan sudut pandang  kita yang kurang tepat.

Dan untukmu yang sedang berjuang. Tetaplah menjadi sangkrah  yang dicari banyak orang, biarlah lelah itu lelah mengejarmu. Kalaupun suatu saat nanti tak ada orang yang menghargaimu, tetap akan ada balasan untuk setiap tenaga yang kau keluarkan. Ajarkan kepada adik-adikmu ini cara memaknai sindiran dari sudut pandang yang kece :)
Share:

Thursday, October 5, 2017

Surat dari Abe untuk Bintun



Surat ini dibuat oleh seorang sahabat untuk menyembuhkan sebuah rasa rindu yang dialami oleh sahabatnya kepada Pak Pos, sekalipun keduanya berasal dari kota yang sama dan teknologi sudah secanggih ini namun selembar kertas tetap menjadi pilihan untuk menyambung bincang kebermaknaan. 



Surat dari Abe untuk Bintun


Assalamu’alaikum
Hai kamu,
Dirimu yang entah tulang rusuk nya sesiapa
Apa kabar dirimu disana?
Semoga tetap dalam lindunganNya

Selamat malam penantian, lama tak berkisah denganmu. Bukan aku rindu padamu, aku tak seberani itu. Tak apa aku jalani hari-hari dengan seorang diri. Sendiri, namun kesendirian dalam penantian yang menjaga iman adalah lebih baik daripada selalu bersama saling memadu syahwat dalam kemudharatan.

Penantian, lupakan sejenak tentang kesetimbangan reaksimu. Mari kita bicarakan canda dalam seduhan secangkir rindu.

Suatu sore yang sendu di bulan kemarau.
Aku berinisiatif meliburkan diri dari gemerlapnya hiruk pikuk perkuliahan. Aku mengunjunginya salah satu pusat keramaian di bumi gamping (read : jogja). Jogja memang istimewa, seperti makhluk yang bernama wanita. Singkat cerita, saat aku melamun tak sengaja atau memang kebetulan aku disuguhkan pada suatu pemandangan tak lazim. Bagian tubuh perempuan yang tak seharusnya kulihat, tiba-tiba terbit berseri-seri dipelupuk mataku. Yang tentu saja memaksaku untuk menikmatinya. Bukan munafik, aku pun tak mau melewatkan kesempatan yang tak datang kedua kali. Lama aku menaruh pandang pada wanita itu, lambat laun ia pun mulai merasa gelisah. Dan dengan malu-malu ia mecoba menutupi auratnya dengan barang sekenanya sambil memandangku penuh sindiran. Sambil berlalu, kulempar senyum sejuta makna pada wanita tersebut. Entah ia menafsirkan senyumku seperti apa. Tapi aku mengartikannya sebagai sebuah pelajaran agar tak lagi mengumbar sesuatu yang seharusnya tak diumbar.

Abe

Share:

Follow Us

BTemplates.com

Labels