-Bintun Nahl-
“Nduk bangun, tidur nya pindah kamar!” Bapak tua itu membangunkan
sambil mengangkat beberapa wadah dagangan yang kosong.
“Nek bobok itu mbok
langsung mapan, lha wong sudah di sediakan kamar lho.” Celotehnya sedikit kabur di pendengaran, belum sempurna betul
rasanya mata ini terbuka. Sedikit mengumpulkan kesadaran, Aku lepaskan kaos
kaki yang masih menempel.
“Pak, anterin ke kamar mandi!” Pintaku lirih. Belum sempat isya
tertunaikan, namun tubuh ini terlalu letih untuk menghadap dan terlalu takut
kalau-kalau di pertengahan pertemuan indah itu harus rusak karena rasa kantuk. Hingga
Aku putuskan untuk merebahkan letih ini barang satu atau dua jam di atas kursi
ruang tamu. Kursi dari anyaman bambu berwarna hitam yang tak pernah memberikan
rasa hangat.
“Allahuakbar…” Sebuah ketukan
ringan yang cukup terdengar oleh sang pemilik rumah. Atmosfirnya tidak berubah,
angin yang berhembus juga masih sama tapi tanpa kusadari pintu itu langsung
terbuka. Bak seorang pelayan menghadap tuannya, laporan demi laporan kuucapkan
seperti biasa. Tak kudengar jawaban atas kebiasaanku tersebut karena memang
telinga ini terlalu lemah untuk menerimanya.
“Allahuakbar..” Saat-saat
terberat adalah saat rukuk, beruntunglah Aku karena dosa-dosa itu tidak
diwujudkan seperti batu. Mungkin bila demikian maka Aku tak mampu lagi menopang
punggung serta anggota badan yang lain dalam rukukku.
Sunyi yang begitu menggelayut
rindu. Sudah memasuki tengah malam, saat dimana orang tertidur pulas untuk
mengisi ulang tenaganya. Tapi Aku malah masih berkutik pada sebuah kewajiban
yang belum tuntas.
“Allahuakbar…” Dalam niat yang
berbeda, setelah kewajibanku gugur. Aku lanjutkan kunjungan. Mungkin ini belum
berada di sepertiga malam terakhir, dan sekali lagi kecemasanku datang. Kalau-kalau
saja esok mata ini terlambat atau bahkan sudah tak bisa di buka lagi.
“Allahuakbar…” Bagian dimana
Aku akan tersadar bahwa diri ini bukanlah siapa-siapa, Sujud.
“Subhaana Rabbiyal A’laa
Wabihamdih.” Kuulang kalimat indah itu tiga kali, lalu diamku menguasai.
“Aku MencintaiMu,” entah
bagaimana Aku memiliki keberanian untuk mengucapkan hal tersebut dalam sujudku,
bahkan perilaku yang aku tunjukkan tak cukup mampu membuktikannya. Namun itulah
sebuah rasa yang tak sanggup Aku tutupi. Sebuah rasa yang tak berani Aku
lepaskan.











