Flickr Images

Thursday, October 5, 2017

Surat dari Abe untuk Bintun



Surat ini dibuat oleh seorang sahabat untuk menyembuhkan sebuah rasa rindu yang dialami oleh sahabatnya kepada Pak Pos, sekalipun keduanya berasal dari kota yang sama dan teknologi sudah secanggih ini namun selembar kertas tetap menjadi pilihan untuk menyambung bincang kebermaknaan. 



Surat dari Abe untuk Bintun


Assalamu’alaikum
Hai kamu,
Dirimu yang entah tulang rusuk nya sesiapa
Apa kabar dirimu disana?
Semoga tetap dalam lindunganNya

Selamat malam penantian, lama tak berkisah denganmu. Bukan aku rindu padamu, aku tak seberani itu. Tak apa aku jalani hari-hari dengan seorang diri. Sendiri, namun kesendirian dalam penantian yang menjaga iman adalah lebih baik daripada selalu bersama saling memadu syahwat dalam kemudharatan.

Penantian, lupakan sejenak tentang kesetimbangan reaksimu. Mari kita bicarakan canda dalam seduhan secangkir rindu.

Suatu sore yang sendu di bulan kemarau.
Aku berinisiatif meliburkan diri dari gemerlapnya hiruk pikuk perkuliahan. Aku mengunjunginya salah satu pusat keramaian di bumi gamping (read : jogja). Jogja memang istimewa, seperti makhluk yang bernama wanita. Singkat cerita, saat aku melamun tak sengaja atau memang kebetulan aku disuguhkan pada suatu pemandangan tak lazim. Bagian tubuh perempuan yang tak seharusnya kulihat, tiba-tiba terbit berseri-seri dipelupuk mataku. Yang tentu saja memaksaku untuk menikmatinya. Bukan munafik, aku pun tak mau melewatkan kesempatan yang tak datang kedua kali. Lama aku menaruh pandang pada wanita itu, lambat laun ia pun mulai merasa gelisah. Dan dengan malu-malu ia mecoba menutupi auratnya dengan barang sekenanya sambil memandangku penuh sindiran. Sambil berlalu, kulempar senyum sejuta makna pada wanita tersebut. Entah ia menafsirkan senyumku seperti apa. Tapi aku mengartikannya sebagai sebuah pelajaran agar tak lagi mengumbar sesuatu yang seharusnya tak diumbar.

Abe

Share:

Follow Us

BTemplates.com

Labels