Surat ini dibuat oleh seorang sahabat untuk menyembuhkan
sebuah rasa rindu yang dialami oleh sahabatnya kepada Pak Pos, sekalipun
keduanya berasal dari kota yang sama dan teknologi sudah secanggih ini namun
selembar kertas tetap menjadi pilihan untuk menyambung bincang kebermaknaan.
Surat dari Abe untuk Bintun
Assalamu’alaikum
Hai kamu,
Dirimu yang entah tulang rusuk nya sesiapa
Apa kabar dirimu disana?
Semoga tetap dalam lindunganNya
Selamat malam penantian, lama tak berkisah denganmu. Bukan aku
rindu padamu, aku tak seberani itu. Tak apa aku jalani hari-hari dengan seorang
diri. Sendiri, namun kesendirian dalam penantian yang menjaga iman adalah lebih
baik daripada selalu bersama saling memadu syahwat dalam kemudharatan.
Penantian, lupakan sejenak tentang kesetimbangan reaksimu. Mari
kita bicarakan canda dalam seduhan secangkir rindu.
Suatu sore yang sendu di bulan kemarau.
Aku berinisiatif meliburkan diri dari gemerlapnya hiruk
pikuk perkuliahan. Aku mengunjunginya salah satu pusat keramaian di bumi
gamping (read : jogja). Jogja memang istimewa, seperti makhluk yang bernama
wanita. Singkat cerita, saat aku melamun tak sengaja atau memang kebetulan aku
disuguhkan pada suatu pemandangan tak lazim. Bagian tubuh perempuan yang tak
seharusnya kulihat, tiba-tiba terbit berseri-seri dipelupuk mataku. Yang tentu
saja memaksaku untuk menikmatinya. Bukan munafik, aku pun tak mau melewatkan
kesempatan yang tak datang kedua kali. Lama aku menaruh pandang pada wanita
itu, lambat laun ia pun mulai merasa gelisah. Dan dengan malu-malu ia mecoba
menutupi auratnya dengan barang sekenanya sambil memandangku penuh sindiran. Sambil
berlalu, kulempar senyum sejuta makna pada wanita tersebut. Entah ia
menafsirkan senyumku seperti apa. Tapi aku mengartikannya sebagai sebuah
pelajaran agar tak lagi mengumbar sesuatu yang seharusnya tak diumbar.
Abe










