Flickr Images

Wednesday, September 2, 2015

Badai Di Hari Itu



Badai Di Hari Itu
 Oleh : Bintun Nahl

Hujan masih mengguyur kota kecil itu, begitu deras hingga lalu lalang kendaraan yang melintas tak terdengar. Terlihat seorang gadis duduk termangu di depan teras rumah tak jauh dari hiruk-pikuk kesibukan warga kota, menyaksikan rintikan hujan dengan penuh harap cemas.
“Ya Allah, hujan adalah sebuah anugrah terindah dari-Mu untuk kami. Dengan air hujan, Kau hidupkan yang mati, Kau suburkan yang tandus, dan Kau sejukkan hati yang gersang. Sebelum sore ini berlalu dan sebelum hujan ini mereda, hamba ingin memohon kepada-Mu ya  Allah, ridhoilah hamba untuk mendaki malam ini.” Matanya terpejam, setetes butiran kristal mengalir penuh ketenangan.
Lili, gadis manis berparas ayu itu rupanya tengah menunggu hujan mereda. Ia ingin segera bergegas ke sekolah karena sore ini ada kegiatan pendakian. Jilbab memang menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, namun kesenangannya terhadap hal yang berbau petualangan membuatnya tak mau kalah axis.
Satu jam berlalu, langit menampakkan senyumnya seiring berlalunya awan. Seusai shalat ashar, Lili segera bersiap. Ia tenteng tasnya ke teras depan untuk mempercepat sembari menunggu temannya yang berjanji akan mengantarkan ke sekolah.
“Assalamu’alaikum.” Sebuah motor berhenti tepat di depan rumah Lili, sosok wanita berjilbab panjang keluar dari balik mantol.
“Wa’alaikumsalam, sempat kehujanan ya? Langsung berangkat aja yuk mbak, takut nanti telat.” Jawab Lili langsung menggendong tas ranselnya.
“Ya begitulah nduk. Ya sudah yuk!” Senyumnya manis.
Motor biru dengan dua orang gadis yang mengendarainya segera meluncur ketempat tujuan dengan hati-hati. Jalanan yang cukup ramai dan beberapa tempat yang masih tegenang air hujan membuat Mb’Nadya enggan mempercepat laju motornya.
Kring… Kring… ponsel ditangan Lili tiba-tiba bergetar. Tanda sebuah sms mampir, ia lihat layarnya. Tertulis nama Kak Reihan, hatinya ragu untuk membuka. Seminggu lalu, ia harus bertengkar dengan kakak kelasnya ini kerena ia tak diijinkan mendaki dengan berbagai alasan.
“Assalamu’alaikum. Hari ini jadi ikut naik gunung kah ukh?” Akhirnya ia buka sms tersebut, kalimatnya yang begitu sopan mampu meruntuhkan hati Lili. Sekejap pikirannya melayang menjelajahi zona lamunan nan luas, tak terbayangkan olehnya jika Reihan sampai mengetahui hal ini.
Nduk, udah sampai.” Berulang kali Mbak Nadya mengucap kalimat itu pada Lili yang masih terdiam.
“Astagfirullah, maaf Mbak. Tadi sedikit mengantuk, hehehe…” jawabnya dengan sedikit berbohong.
Melihat sikap Lili yang terlihat melamun, Mbak Nadya yang sedari tadi menemani Lili di perjalanan menjadi ragu. Ia khawatir akan keselamatan Lili nantinya, ditambah teman-teman yang membersamai Lili belum terlalu dikenalnya. perasaannya semakin cemas kala mendengar bahwa peserta yang ikut pendakian malam ini mayoritas laki-laki.
“Kamu yakin mau ikut kegiatan ini? Masih ada waktu lho kalau kamu berubah fikiran, mumpung Mbak juga masih stay di sini.” Canda Mbak Nadya kepada Lili.
“Insya Allah yakin Mbak,” jawab Lili mantap.
“Syukurlah, ya sudah sana kumpul sama temen-temen.” Perintah mbak Nadya sambil mengelus jilbab Lili.
Lili berlalu berkumpul bersama teman-temannya, Mbak Nadya masih berdiri termangu. Semilir angin menghempas jilbab birunya yang lembut, wajahnya menyimpan sejuta rasa kegelisahan.
“Kenapa hati ini masih ragu. Aku takut teman-temannya Lili yang sekarang dapat memengaruhinya.” Gumamnya dalam hati
“Astagfirullah, kenapa malah jadi berpikiran yang negative gini sih. Aku yakin Lili sudah bisa menjaga dirinya sendiri.” Lanjutnya, lalu pergi dengan sepeda motornya.
***
Sementara itu, di depan masjid sekolah Reihan dengan cemas menanti balasan sms dari Lili, berulang kali ia melihat layar hp nya. Ingin rasanya ia menelepon Lili, namun ia tak mempunyai cukup keberanian untuk melakukan hal tersebut.
Obrolan-obrolan ringan dengan temannya di masjid menjadi salah satu alternative untuk menunggu balasan sms dari Lili. Sembari berharap kalaupun Lili akan lewat di depannya dan ia akan mencegatnya untuk berbicara beberapa hal.
Jam tangan yang bertenger di pergelangan tangan Reihan telah menunjuk ke angka enam dan dua belas, itu artinya ia harus segera pergi untuk memenuhi janjinya terhadap orang lain. Namun, kabar dari seorang adik yang ia nantikan sejak tadi tak kunjung ia dapatkan.
“Hemb..aku nggak tahu dik Lili jadi ikut atau nggak, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya. kalaupun jadi, pasti dia sudah tahu apa yang baik dan buruk untuknya. Semoga Allah slalu mengingatkannya dan semoga ia mampu membawa segudang hikmah dari kegiatan ini. Amin.” Katanya dalam hati, lalu beranjak pergi meninggalkan sekolah.
***
“Bagi peserta dan panitia pendakian gunung harap segera merapatkan diri ke area halaman depan sekolah karena truk yang kita nantikan telah datang.” Pengumuman dari ketua panitia terdengar begitu lantang.
Setelah semua barang dan peserta masuk, truk segera meluncur ke lokasi. Suasana didalamnya riuh akan keramaian gelak tawa antar peserta. Namun hal itu tak bertahan lama, beberapa menit kemudian suasana menjadi hening. Para remaja yang mulai tumbuh dewasa itu rupanya ingin menyimpan tenaganya, mereka tertidur pulas dalam truk yang tak begitu luas.
Lain lagi dengan gadis disudut bangku truk masih memainkan phonsel mungilnya, rupanya ia masih kepikiran dengan sms dari kakak kelasnya tadi sore. Sudah terlalu jauh jika ia harus membatalkan ini semua, namun ia juga tak mau mengecewakan kakak kelas yang sejak dulu ia hormati tersebut. Dengan tangan bergetar, ia balas sms tersebut apa adanya.
“Wa’alaikumsalam. Jadi.” Ia tekan tombol send.
Semenit..dua menit. Sms balasan kembali menggetarkan benda kecil ditangan Lili,
“Berhati-hatilah! Tetaplah menjaga sikap dalam bergaul, terutama dengan seorang laki-laki karena seorang laki-laki mampu membuat seorang perempuan kalang kabut. Yang aku tahu, kamu sudah mampu membedakan yang baik dan buruk.” Nasihat dari Reihan.
Tiga jam berlalu, tiba-tiba truk tergoncang degan hebatnya. Sekejap membuat para penumpang didalamnya terbangun, belum genap nyawa terkumpul. Tangan-tangan itu mencari meraba apapun untuk mempertahankan diri. Untungnya tak ada korban terjatuh dalam kejadian itu, mungkin hanya jalanan yang mulai rusak. Tak lama setelah itu, truk berhenti.
“Ayo, segera turun. Kita sudah sampai, kalian dikasih waktu sepuluh menit untuk mempersiapka diri.” Kembali suara sang pemimpin acara bergema.
Malam kian larut, angin malam semakin menggerogoti tulang-tulang kecil sang pencari jejak. Harap-harap cemas Lili menanti pengumuman, ia ingin sekali mendapatkan kelompok perjalanan yang pertama naik. Namun, hingga pembagian kelompok habis, nama Lili tak jua disebutkan. Apakah panitia lupa ya kalau aku ikut, fikir Lili.
“Lili, kamu mendampingi kelompok satu.” Perintah ketua panitia.
Dengan sumringah, Lili langsung mengiyakan perintah tersebut. Ia benahi lagi tasnya supaya tak terasa terlalu berat, lalu ia benahi jilbabnya yang sedikit lusuh karena tertidur di truk waktu perjalanan tadi.
Doa bersama mengawali pendakian mereka, secara perlahan tapi pasti mereka melangkah. Bersama dengan lima laki-laki dan seorang perempuan membuat Lili slalu was-was, ia slalu mengingatkan bahwa yang harusnya memimpin didepan adalah laki-laki dan yang menjadi tim penjaring di kelompok itu adalah laki-laki.
 Perjalanan begitu menyenangkan, canda tawa sengaja mereka hadirkan untuk mengisi kesunyian. Saat letih menyerang, mereka hentikan sejenak langkah kaki lalu mereka balikkan badan ke belakang. Gemerlap lampu kota Nampak indah dipandang dari ketinggian, cahayanya mampu mengusir penat di hati. Rasa syukur tak henti terucap dari hati-hati suci itu.
Setengah perjalanan telah ditempuh, angin semakin kencang memamerkan keelokan pesonanya. Ia menghampas semua yang ada dihadapannya, hingga ketujuh pendaki pertama itu harus melakukan perhentian perjalanan.
“Kita harus berhenti dulu, anginnya terlalu kencang. Ayo kita menepi!” perintah Candra sang ketua rombongan dengan tegas, lalu bergegas menepi dibalik tebing yang tak terlalu tinggi.
“Jam sudah menunjuk ke angka dua belas lebih empat puluh lima, kalau kita tidak segera naik. Kita tak punya waktu untuk istirahat nanti.” Jawab Dimas dengan berteriak, suaranya terbawa oleh angin.
Entah apa yang ada difikiran Dimas malam itu, ia nekat melangkahkan kaki memijak tangga alami gunung satu persatu meninggalkan rombongan yang lain. Langkahanya begitu berat, angin berulangkali menghempas tubuhnya yang tak berdaging.
“Dimas, jangan memaksakan diri. Berhentilah dulu, setidaknya sampai angin ini mereda.” Ucap Lili yang sedikit khawatir dengan aksi nekat Dimas.
Belum lama bibir itu terdiam, tiba-tiba teriakan Dimas mengejutkan teman-teman rombongan yang masih ada dibawah. Setengah berlari mereka menyusul Dimas, berharap tak ada sesuatu yang terjadi pada temannya tersebut.
“Astagfirullah, Dimas!” teriak Lili melihat Dimas jatuh tersungkur. Tubuhnya tak mampu menahan terjangan angin.
“Gimana ini Li? Ada luka robek besar di tangannya. Kamu harus menolongnya! ” Ucap Candra bergegas mendekati Dimas.
“Aku nggak bisa melakukannya, kenapa harus aku? Kalian sudah diajari cara survival kan?” jawab Lili kebingungan.
“Kamu jangan  egois Li! Kita memang sudah diajari untuk survival, tapi diantara kita semua yang paham dengan perawatan kayak gini kan kamu.” Jawab Candra dengan muka memerah, ia berusaha mengangkat tangan Candra agar pendarahan yang terjadi tidak terlalu banyak.
“Tetaplah menjaga sikap dalam bergaul, terutama dengan seorang laki-laki karena seorang laki-laki mampu membuat seorang perempuan kalang kabut” memorinya melayang, nasihat itu mampu membuatnya termenung.
Ia hanya berdiri terdiam, kodratnya sebagai seorang wanita muslimah di era globalisasi ini menuntutnya untuk selalu menjaga sikapnya terhadap laki-laki yang bukan makhram baginya. Namun disisi lain, ada seorang teman yang sangat membutuhkan bantuannya sekarang. Ini pilihan yang sulit baginya.
“Li!” teriak Candra kepada Lili.
Gadis berjubah panjang itu langsung tersadar dari lamunannya, ia turunka tas ranselnya lalu ia keluarkan sebagian isinya dengan segera. Wajahnya terlihat pucat, tangannya berkelana membongkar tasnya yang terlihat penuh. Kemanakah kotak kecil itu? Fikirnya.
“Alhamdulillah ketemu,” senyumnya sumringah, kotak kecil p3k yang ia bawa ternyata terletak dibawah sendiri. Ia buka kotak tak berwarna itu, lalu ia ambil sehelai benang dan jarum.
“Sini biar aku tangani, kamu pegang jarum dan benang ini. Panggil satu teman lagi untuk membantu…” perintah Lili. ia berusaha menginstruksi Candra untuk menolong Dimas, hanya ini cara satu-satunya agar Dimas selamat tanpa membuatnya melanggar peritahNya.
“Sis, segera ambil kompor di tasku. Aku takut anak satu ini tak bisa bertahan, tubuhnya menggigil.” Ucap Candra pada Siska.
Tak menunggu waktu lama, Siska segera melaksanakan instruksi. Namun nasib berkata lain, angina semakin kencang menerjang. Kehangatan tak kunjung didapat, api sulit untuk dihidupkan.
“Apinya tak mau hidup, angin terlalu kencang.” Teriak Siska, suaranya sedikit terbawa angina.
“Jangan panic!” Perintah Lili, lalu ia menghampiri Siska.
Candra melepas jaket tebalnya lalu menyelimutkan pada Dimas, terlihat tangannya bergerak. Dimas sadar, namun ia tetap menggigil dan terlihat masih sangat pucat. Sedangkan Lili mengkoordinasikan rombongannya untuk merapatkan diri agar api tak terjamah oleh angin liar malam itu.
“Apinya sudah menyala, bawa Dimas kemari!” ucap salah seorang teman.
Sedikit tertatih Candra menuntut Dimas, badannya begitu lemas tak berdaya. Ia bawa tubuh Dimas mendekati segenggam cahaya panas, ia atur jaraknya supaya tak membakarnya. Kehangatan mulai membawa Dimas pada sebuah dunia yang selama ini ia jalani, perlahan ia mulai membuka matanya.
“Maafkan aku teman-teman.” Ucap Dimas dengan penuh penyesalan, mukanya tertunduk malu.
“Makanya lain kali nggak usah sok jagoan, bikin orang susah aja.” Celoteh Lili dengan rasa kesal.
“Habis kalian lama.” Jawab Dimas dengan entengnya.
“Dasar egois.” Kali ini emosi Lili sedikit tidak terkendali, perasaan khawatir masih menyelimutinya.
“Sudah..Sudah! jangan bertengkar disini, lima menit lagi kita harus bersiap untuk turun!” Ucap Candra yang cukup mencengangkan.
Bagai dihantam badai gunung yang begitu dahsyat, Lili terhenyak. Hatinya jatuh dalam jurang ketidak percayaan, menerima harus kalah sebelum perang usai adalah sebuah pekikkan keji baginya. Namun jika harus diteruskan akan sulit, dan jika memang mengalah adalah satu-satunya jalan menuju pintu kebaikan maka ikhlas akan mempermudah dalam menjangkaunya.
“Kau ini berfikir apa Can? Apa gara-gara aku, kita nggak jadi naik? Lihat dong! Detik berlalu, sakitku pun berlalu.” Tepis Dimas.
“Aku takut kamu nggak kuat nanti, jangan menutupi keadaan yang sebenarnya deh Dim.” Lirik Candra pada temannya yang punya nyali nekat tersebut.
“Takut nanti aku nggak kuat apa takut nanti tak repotin dijalan?” candanya pada Candra.
“Oke-oke, kita tetap naik.” Jawabnya dengan sedikit kesal, mukaya merah padam.
Semua tertawa riang melihat tingkah laku Candra dan Dimas, terselip rasa lega melihat Dimas yang terlihat membaik. Perjalanan dilanjutkan, tak berjalan bersama namun melangkah bersama. Dalam hati, Lili mengucap puji syukur yang begitu dalam pasalnya keinginan yang sejak lama ia nantikan tak jadi tertunda.
SATU…DUA..TIGA….
“DUNIA, LIHATLAH AKU! AKULAH AL-FATIH DI ZAMAN GLOBALISASI….” Teriak Candra setelah empat jam mendaki.
“Alhamdulillah, Engkau masih memberiku kesempatan dan kekuatan sehingga ku mampu melihat ciptaanMu yang lain dari sisi yang baru.” Ucap lili dalam hati, malu rasanya jika harus berteriak meniru gaya Candra.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Us

BTemplates.com

Labels