Flickr Images

Saturday, October 7, 2017

Sangkrah




Sangkrah



-Bintun Nahl-

Kisah ini disampaikan seorang kakak kepada adiknya yang sedang belajar banyak hal. Tak terlalu spesial, tapi akan sangat sayang ketika suatu pelajaran berharga lapuk karena tak pernah dibagi. Namanya Ilyas, pemuda pinggiran kota jogja yang usianya terpaut beberapa tahun di atasku. Ibunya telah meninggal, sang ayah tercinta merantau ke kota seberang atau mungkin ke pulau seberang, dan tinggallah ia dengan seorang adik perempuan yang telah menginjak usia dewasa.

Beberapa tahun silam. Ketika usianya masih belasan, ketika seragam putih abu-abu masih sering melekat di tubuhnya. Pemuda ini memerankan tokoh utama dalam lingkungannya, dalam sebuah drama hanya akan ada 2 sifat tokoh utama yaitu antagonis atau protagonist selebihnya hanya pemeran pendamping. Ia tak mendapat jatah memainkan lakon protagonist. Habitsnya selain menjalani rutinitas di sekolah hanyalah bermain, memancing dan nongkrong  nggak jelas dengan teman-temannya.  Mata-mata pengamat itu slalu ada, celetuk indah yang slalu keluar untuk memberikan julukan kepada mereka adalah “Sangkrah”.

Kau tahu bung, apa itu sangkrah? Dalam bahasa jawa sangkrah atau rerencekan dapat diartikan segala sesuatu yang hanyut di sungai. Daun kering, ranting patah, bahkan sampah yang berakhir disungai akan slalu disebut sangkrah. Terkadang disini aku sering merasa terbimbangkan, siapakah yang sejatinya menjadi tokoh antagonis? Kakakku yang belum pernah melakukan habits yang bermanfaat ataukah mereka yang selalu memandang penuh kesinisan? 

Ah tidak, aku saja yang terlalu cepat menilai dan mengambil kesimpulan. Ternyata terselip doa yang begitu luar biasa di balik julukan itu. Hiasan sungai tanpa makna tersebut tak jarang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Petani mengambilnya untuk membendung sungai agar airnya bisa mengalir ke sawah miliknya, penambang menyusun sangkrah dengan beberapa batu untuk membelokkan arah aliran agar pasir yang ia cari lebih mudah untuk diperoleh, dan seorang laboran  akan memanfaatkan sangkrah untuk menfilter air-air yang ia kelola.

Terhapuslah kata tanpa makna dalam sebuah sangkrah, justru ia membantu keberlangsungan hidup banyak orang. Karena nasi yang terhidang di meja makan tak akan jadi nasi ketika sawah tak menghasilkan apa-apa. Hotel yang megah tak akan pernah terealisasikan jika tak ada pasir dalam komposisi bangunannya. Bahkan sangkrah-sangkrah itu dijadikan tempat berlindungnya makhluk air yang sizenya mungkin tak mampu menahan derasnya air sungai.

Sekali lagi, begitu luar biasa doa yang dipandang hanya sebuah sindiran. Perlahan secara bertahap, pemuda yang akrab di sapa Ilyas tersebut menemukan habits barunya. Ia memposisikan sangkrah miliknya menjadi sangkrah yang dicari banyak orang, melepaskan kata tanpa makna dalam dirinya. bukan hal yang mudah memang untuk memposisikan diri ditempat tersebut, karena memutuskan tampil dimasyarakat sama artinya dengan menyumbangkan banyak tenaga. Lelah itu pasti ada, bahkan mungkin hanyalah kelelahan yang mengejarnya sampai saat ini. Kelelahan yang membahagiakan banyak orang, terkesan tidak adil bukan? Tidak! Itu hanya peletakkan sudut pandang  kita yang kurang tepat.

Dan untukmu yang sedang berjuang. Tetaplah menjadi sangkrah  yang dicari banyak orang, biarlah lelah itu lelah mengejarmu. Kalaupun suatu saat nanti tak ada orang yang menghargaimu, tetap akan ada balasan untuk setiap tenaga yang kau keluarkan. Ajarkan kepada adik-adikmu ini cara memaknai sindiran dari sudut pandang yang kece :)
Share:

Follow Us

BTemplates.com

Labels