Sangkrah
-Bintun
Nahl-
Kisah ini disampaikan
seorang kakak kepada adiknya yang sedang belajar banyak hal. Tak terlalu spesial,
tapi akan sangat sayang ketika suatu pelajaran berharga lapuk karena tak pernah
dibagi. Namanya Ilyas, pemuda pinggiran kota jogja yang usianya terpaut
beberapa tahun di atasku. Ibunya telah meninggal, sang ayah tercinta merantau
ke kota seberang atau mungkin ke pulau seberang, dan tinggallah ia dengan
seorang adik perempuan yang telah menginjak usia dewasa.
Beberapa tahun silam. Ketika
usianya masih belasan, ketika seragam putih abu-abu masih sering melekat di
tubuhnya. Pemuda ini memerankan tokoh utama dalam lingkungannya, dalam sebuah
drama hanya akan ada 2 sifat tokoh utama yaitu antagonis atau protagonist
selebihnya hanya pemeran pendamping. Ia tak mendapat jatah memainkan lakon protagonist.
Habitsnya selain menjalani rutinitas
di sekolah hanyalah bermain, memancing dan nongkrong nggak
jelas dengan teman-temannya. Mata-mata
pengamat itu slalu ada, celetuk indah yang slalu keluar untuk memberikan
julukan kepada mereka adalah “Sangkrah”.
Kau tahu bung, apa itu
sangkrah? Dalam bahasa jawa sangkrah atau rerencekan dapat diartikan segala
sesuatu yang hanyut di sungai. Daun kering, ranting patah, bahkan sampah yang
berakhir disungai akan slalu disebut sangkrah. Terkadang disini aku sering
merasa terbimbangkan, siapakah yang sejatinya menjadi tokoh antagonis? Kakakku yang
belum pernah melakukan habits yang
bermanfaat ataukah mereka yang selalu memandang penuh kesinisan?
Ah
tidak, aku saja yang terlalu cepat menilai dan mengambil kesimpulan. Ternyata
terselip doa yang begitu luar biasa di balik julukan itu. Hiasan sungai tanpa
makna tersebut tak jarang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Petani mengambilnya
untuk membendung sungai agar airnya bisa mengalir ke sawah miliknya, penambang
menyusun sangkrah dengan beberapa batu untuk membelokkan arah aliran agar pasir
yang ia cari lebih mudah untuk diperoleh, dan seorang laboran akan memanfaatkan sangkrah untuk menfilter
air-air yang ia kelola.
Terhapuslah kata tanpa
makna dalam sebuah sangkrah, justru ia membantu keberlangsungan hidup banyak
orang. Karena nasi yang terhidang di meja makan tak akan jadi nasi ketika sawah
tak menghasilkan apa-apa. Hotel yang megah tak akan pernah terealisasikan jika tak
ada pasir dalam komposisi bangunannya. Bahkan sangkrah-sangkrah itu dijadikan
tempat berlindungnya makhluk air yang sizenya
mungkin tak mampu menahan derasnya air sungai.
Sekali lagi, begitu
luar biasa doa yang dipandang hanya sebuah sindiran. Perlahan secara bertahap,
pemuda yang akrab di sapa Ilyas tersebut menemukan habits barunya. Ia memposisikan sangkrah miliknya menjadi sangkrah
yang dicari banyak orang, melepaskan kata tanpa makna dalam dirinya. bukan hal
yang mudah memang untuk memposisikan diri ditempat tersebut, karena memutuskan tampil
dimasyarakat sama artinya dengan menyumbangkan banyak tenaga. Lelah itu pasti
ada, bahkan mungkin hanyalah kelelahan yang mengejarnya sampai saat ini. Kelelahan
yang membahagiakan banyak orang, terkesan tidak adil bukan? Tidak! Itu hanya
peletakkan sudut pandang kita yang
kurang tepat.
Dan untukmu yang sedang
berjuang. Tetaplah menjadi sangkrah yang
dicari banyak orang, biarlah lelah itu lelah mengejarmu. Kalaupun suatu saat
nanti tak ada orang yang menghargaimu, tetap akan ada balasan untuk setiap
tenaga yang kau keluarkan. Ajarkan kepada adik-adikmu ini cara memaknai
sindiran dari sudut pandang yang kece :)










