Flickr Images

Sunday, October 14, 2018

Garam Dalam Lautan



Selain senja, rembulan juga tak kalah eksis memahat rindu bersama gemerlapnya bintang. Ditengah musim kemarau yang gersang dan diantara dinginnya malam yang menerjang, menanti waktu subuh selepas qiyamul lail di taman pondok sembari memandangimu merupakan hal istimewa. Denganmu, menanti menjadi hal yang menyenangkan.
“Nahla sudah shalat tahajud?” Ustadzah Ana berjalan mendekat dengan mukena yang masih belum ditanggalkan, beliau berjalan dari arah masjid utama.
“Sudah Ust,” jawab Nahla tak berpaling.
“Nahla sedang apa?” Uztadzah muda itu kembali bertanya, ia posisikan duduk tepat bersebelahan dengan anak didiknya.
“Itu!” Telunjuk Nahla mengarah pada sebuah bulan sabit yang cahyanya hampir teredupkan fajar.
“Kenapa?”
“Maksud Ustadzah?” kini Nahla benar-benar memalingkan wajahnya dari sang rembulan, menatap lekat mencari sebuah arti pertanyaan gurunya.
“Kenapa Nahla begitu senang memandang bulan itu? Ustadzah sering lho melihat Nahla duduk disini sambil melihat bulan, bukankah bentuknya sama saja?” Ustadzah Ana memperjelas maksud pertanyaannya.
“Abah itu dulu pernah bilang bahwa kita perlu belajar syukur dari rembulan,” Nahla menjelaskan.
“Belum lama ini Nahla baru mengerti apa yang dimaksud Abah. Ternyata pada dasarnya rembulan itu tidak memiliki cahaya, yang selama ini kita lihat hanyalah cahaya yang diterima dari matahari.” Jelas Nahla tak mau lepas dari pengamatannya.
“Sudah begitu Ustadzah,” suara gadis berusia 10 tahun tersebut mengeras, matanya berbinar seolah ingin menitik penjelasan yang akan ia jabarkan.
“Rembulan itu kan gelap, menerima cahaya dari matahari kan jadi terang. Eh masih aja tu cahaya di bagi ke kita, jadi kan kita kebagian terangnya juga.” Gadis itu tersenyum sumringah.
“Lalu?” Tanyanya kembali.
“Beginilah cara rembulan bersyukur dan bersedekah, karena hakekatnya kita tak memiliki apa-apa. Setiap makhluk Allah pasti mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam bersyukur.” Nahla mengucapkan ajian sakti sang Abah yang selalu ia dengarkan setiap khotbah jum’at.
“Betul sekali Nak, kamu banyak belajar ya dari Pak Kyai.” Ustadzah Ana menyentuh hidung kecil Nahla dengan sedikit gemas, kepolosan gadis itu benar-benar memikat perhatian setiap mata yang memandang.
“Hari ini kan Nahla dapat jatah libur, ada rencana mau pergi kemana gitu?” Fajar mulai menyapa, kedua makhluk hawa itu mulai meninggalkan taman menuju bangunan megah yang terletak ditengah-tengah pesantren. Samar suara adzan semakin memantapkan langkah mereka.
“Sudah dong ustadzah, kan ustadzah sendiri yang bilang bahwa waktu itu lebih berharga dari emas jadi nggak boleh disia-siakan.” Jawabnya sambil meraih tangan sang ustadzah meminta untuk digandeng.
Perbincangan hangat itu mereka akhiri dengan shalat subuh berjamaah di masjid, bersama santri-santri lain yang ingin juga berjumpa dengan Sang Rabby. Selepas shalat, ketika mentari mulai menyundul garis timur kota jepara Nahla bersiap untuk menjalankan agenda liburannya kali ini. ia kenakan baju sederhana berwarna tosca dengan kombinasi rok biru dongker dan jilbab instan berwarna putih.
“Abah, hari ini Nahla jadi dapat jatah libur kan?” Tanya Nahla ketika menemui Pak Kyai yang hendak mengisi pengajian rutinan.
Pak Kyai mengangguk sambil tersenyum lembut, beliau serahkan kartu berwarna hijau kepada putri kecilnya. Santri-santri yang lain sering menyebut bahwa kartu hijau tersebut merupakan kartu sakti Pak Kyai, karena jika seorang santri telah memegang kartu tersebut maka ia boleh keluar masuk pondok sesuka hati. Namun para santri itu tak pernah menyalahgunakan kartu tersebut untuk kepentingan pribadi yang sifatnya hanya untuk bersenang-senang.
Nahla menuju gerbang utama sambil mendorong gerobak kecil beroda tiga, sebuah tas berukuran sedang juga bertengger dipunggungnya. Ia tunjukkan kartu miliknya ketika hendak melewati penjaga, maka pelayanan pembukaan gerbang utama pun akan ia peroleh.
Wah putri Pak Yai mau kemana ini?” Sapa penjaga yang memang sedikit akrab dengan Nahla.
“Biasa Pak, ngapel tetangga sebelah.” Jawab Nahla enteng sebelum berlalu dan menghilang dari penglihatan.
Pondok pesantren yang kini menjadi tempat Nahla mencari ilmu sudah bisa dikategorikan pondok gede, dalam artian bahwa pondok tersebut sudah memiliki fasilitas yang memadai termasuk sekolah yang terletak di dalam pondok. Hal tersebut membuat santri-santrinya sedikit terisolasi di dalam lingkungan pesantren, bukan karena mereka tidak ingin srawung tapi karena segala keperluan sudah tersedia di dalam pesantren.
Jatah libur 2 hari yang diberikan pesantren setiap bulannya menjadi satu hal yang paling dinantikan santri-santrinya termasuk Nahla. Gadis itu selalu mengambil jatah liburnya pada akhir bulan, ia sangat senang berkunjung pada rumah-rumah tetangga dekat pesantren. Kali ini ia akan mengunjungi kampung Jogoyudan yang letaknya disebelah timur pondok, untuk menempuh kampung tersebut Nahla memerlukan waktu sekitar 30 menit. ini adalah kali pertamanya ia berkunjung ke kampung tersebut.
“Assalamu’alaikum,” Nahla mengetuk sebuah rumah yang temboknya terbuat dari anyaman bambu. Tiga kali ia mengetuk dan menunggu. Tak berapa lama sang empunya rumah keluar, mengamati sesosok anak kecil asing yang berada di hadapannya.
“Siapa ya?” Tanya sang pemilik rumah.
“Perkenalkan, nama saya Nahla dari kampung sebelah. Saya datang ke sini untuk bersilaturahmi dan berkenalan dengan warga kampung sini Pak.” Ucap Nahla sedikit tersendat, ia berusaha mengingat setiap detail kalimat yang diajarkan Abahnya.
Owh, silakan masuk Nak!” Bapak paruh baya pemilik rumah itu ramah mempersilakan, Nahla melepaskan alas kakinya sebelum akhirnya masuk. Di rumah itu ia berjumpa dengan seorang perempuan dan beberapa anak kecil yang mungkin usianya lebih muda dari dirinya.
“Tadi Abah menitipkan oleh-oleh ini Pak,” ucap Nahla sembari memberikan sebuah bingkisan berisikan sembako yang sengaja ia bawa dari pesantren.
Nahla tidak cukup lama berada di rumah tersebut, karena tugasnya tak hanya berkunjung pada sebuah rumah saja. Ditambah lagi usianya yang masih terlalu belia membuat dirinya sedikit canggung jika diharuskan mengobrol terlalu lama dengan orang yang usianya jauh lebih tua.
“Maafkan saya Nak, tidak bisa memberikan oleh-oleh yang bisa kamu bawa pulang sebagai tanda perkenalan ini. Sampaikan terimakasih saya ke Abah kamu ya!” Ucap laki-laki tersebut ketika membersamai Nahla keluar rumah.
“Iya Pak, sudah dapat silaturahmi dan kenal dengan bapak sekeluarga saja saya sudah senang sekali Pak. InsyaAllah nanti salamnya saya sampaikan,” Nahla pergi. Baru ia ketahui bahwa keluarga tersebut beragama nasrani. Mereka menyambut dengan penuh kehangatan dan cukup membuat nyaman.
Nahla kembali berjalan menyusuri kampung. Rumah demi rumah terpilih sengaja ia kunjungi, bingkisan yang ia bawa mulai berkurang seiring bertambahnya rumah yang ia sambangi. Sebuah rumah yang terletak dipinggir kampung hampir berhimpitan dengan sungai besar adalah target terakhirnya. Dengan sedikit peluh yang mulai menemani, Nahla mengetuk rumah tersebut.
“Assalamu’alaikum,” seperti biasa ia mengucap salam.
Pintu rumah berdecit, sedikit terbuka. Seorang perempuan memperlihatkan sedikit bagian wajahnya dari balik pintu.
“Ada perlu apa?” Wanita itu sedikit ketus.
“Saya ingin bersilaturahmi,” Jawab Nahla.
Tak lama, perempuan sang pemilik rumah benar-benar membuka pintunya. Ia merupakan janda yang ditinggal mati suaminya 10 tahun silam, seorang anak yang ia miliki pergi merantau ke kota dan tidak pernah kembali selama 2 tahun terakhir. Perempuan itu duduk di teras rumah dibarengi dengan Nahla.
“Perkenalkan Bu, nama saya Nahla dari kampung sebelah. Ini ada oleh-oleh dari Abah untuk Ibu,” seperti biasa gadis kelahiran Jepara tersebut menyerahkan sebuah bingkisan berisikan sembako.
“Sudah, tidak usah berbasa-basi! Sebutkan saja apa keperluanmu kesini!” Jawabnya dengan ketus.
“Saya ingin bersilaturahmi Bu,” Nahla kembali menjelaskan.
“Aku ini sudah hafal dengan modus orang-orang seperti kamu ini, paling kalau nggak disuruh ikut milih pemimpin mu ya disuruh masuk agama yang kamu ikuti sekarang.” Wanita itu menelisik, mengamati kain penutup di kepala Nahla.
“Tidak seperti itu Bu, saya sungguh hanya ingin sekedar berkenalan.” Jelas Nahla.
“Aku tidak akan percaya. Siapa yang menyuruhmu? Suruh dia datang sendiri ke sini! Jangan bisanya Cuma mengandalkan anak kecil biar warga bisa menaruh simpati,” Ucapnya dengan nada meninggi.
Hati kecil itu akhirnya runtuh, tak terbendung lagi air mata Nahla tumpah. Mengalir membasahi pipi mungil dan jilbab putihnya. Ingin rasanya ia untuk berteriak membantahkan kalimat sang ibu pemilik rumah, namun pesan Abah untuk selalu menghormati  orang yang lebih tua telah membuat lidahnya kaku.
Haiiiii, warga kampung! Kemarilah sebentar!” perempuan itu bersuara lantang memanggil warga untuk berkumpul.   Tak berapa lama, beberapa warga datang berduyun dengan sedikit tergesa.
“Ada apa ini? Ada apa ini?” Tanya orang-orang tersebut.
“Ada orang yang nyuruh anak kecil buat menghasut warga kampung ini, siapa disini yang sudah terhasut?” Tanya perempun tersebut.
“Menghasut bagaimana?” tanya seorang laki-laki paruh baya.
“Ya, dia ngasih sembako ke warga miskin. Setelah itu kita disuruh masuk ke dalam agamanya atau mungkin golongannya,” wanita itu benar-benar kesal.
“Saya tidak seperti itu, disini saya benar-benar ingin berkenalan dengan warga kampung Jogoyudan ini. Saya tidak pernah menyuruh orang-orang untuk mengikuti apa-apa yang sudah saya ikuti,” Nahla memberikan penjelasan.
“Sekalipun background saya seperti ini, saya selalu diajarkan untuk menghargai perbedaan dan kedatangan saya disini murni untuk silaturahmi tanpa ingin menyamakan ras, golongan maupun agama.” Kembali Nahla mengingat pesan Abah setiap malam sebelum ia berangkat berlibur.
“Bohong! Mana ada orang zaman sekarang yang memberikan sembako sebanyak ini secara Cuma-Cuma,” bantah perempuan tersebut.
Suasana menjadi ribut tak karuan.
“JIKA MEMBAGIKAN SEMBAKO SAJA SUDAH DICURIGAI YANG MACAM-MACAM, BAGAIMANA KERUKUNAN BERWARGA NEGARA INI DAPAT KITA CAPAI?” Teriak seorang laki-laki berkemeja batik dari balik kerumunan. Ia merupakan bapak RT setempat.
“Sekarang begini, dari warga yang menerima sembako dari anak kecil tersebut siapa yang merasa sudah dipengaruhi untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh dia?” Tanya Pak RT sedikit berbelit.
Semua hening.
“Adakah yang merasa dipengaruhi?” Tegasnya kembali.
“TIDAK!” Warga menjawab bersamaan.
Tuduhan tidak terbukti dan janda tua itu tak bisa membalas kesaksian warga dengan alasan apapun. Namun hati Nahla telah tersayat, air mata terlanjur jatuh. Nahla pulang tanpa mengucapkan salam perpisahan dengan membawa gerobak kecil yang sudah kosong, berulang kali ia sapu air matanya dengan kain kerudung tapi tak ayal usahanya tak membawa perubahan nyata. Semakin disembunyikan, semakin deras pula ia berjatuhan.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya parau, memasuki rumah ndalem.
“Wa’alaikumsalam. Sudak selesai liburannya?” Tanya Abah belum sempat dijawab, gadis itu terburu memasuki kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi beliau lalu mengutus sang istri untuk memastikan kondisi.
Tok..Tok..Tok..
“Assalamu’alaikum. Bolehkah Umi masuk?” Bu Nyai mengucapkan salam, meminta izin masuk. Pintu tak dikunci, itu berarti sang ibu boleh memasuki kamarnya.
Bu Nyai mendapati anak perempuannya tengah duduk tertunduk pada sebuah kursi lawas yang biasa digunakan untuk belajar. Beliau mendekat lalu dengan lembut tangannya membelai kepala Nahla, semakin sesenggukan saja tangis gadis kecil itu.
“Menangislah dalam pelukan Umi sayang! Bagikan rasa sakit itu pada Umi juga, biar kita bisa sama-sama menyembuhkannya.” Ucap Bu Nyai sembari mendekap tubuh kecil Nahla.
Beberapa waktu Nahla masih menikmati linangan air matanya, dipelukan sang ibu yang hangat dan menenangkan.
“Nahla lelah Umi, berjalan dari pesantren sampai ujung kampung. Diterjang debu jalan dan teriknya matahari, membagikan sembako untuk orang-orang yang kata Abah membutuhkan bantuan. Tapi Nahla malah dicaci dan diusir Umi,” ucapnya sesenggukan.
“Apa yang membuat Nahla sedih?” Wanita itu memastikan kembali.
“Cacian dan pengusiran,” terang gadis tersebut.
Nduk,” kini Bu Nyai melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah putrinya.
“Rasul pernah dihina ketika memberi makan seorang pengemis tua yang lemah dan buta. Apa setelah itu Rasul bersedih dan meninggalkan pengemis tersebut?” Bu Nyai mengingkatkan kembali kisah yang pernah beliau bagikan.
Nahla menggeleng.
“Tidak. Rasul tersenyum dan tetap melanjutkan rutinitas tersebut setiap pagi,” Beliau usap air mata Nahla yang debitnya mulai berkurang.
“Tambahan sebuah ilmu baru saja Nahla dapatkan hari ini,” lanjutnya.
“Maksud Umi?” Nahla tak mengerti.
“Jika kemarin Abah mengajarkan tentang membantu kesesama sekalipun mereka bukan dari kalangan kita, maka hari ini Nahla mendapat pelajaran bahwa setiap orang memiliki penilaian sendiri-sendiri tentang diri kita. Terlepas benar atau salah dari penilaian tersebut, Nahla harus bisa menerimanya dengan hati yang lapang. Jika kita sudah meluruskan tapi orang tersebut tetap kekeh, ya apa yang bisa kita lakukan? Setidaknya kita sudah berikhtiar. Toh setiap orang memiliki hak berpendapat masing-masing kan?” Tanya Umi menegaskan.
Nahla mengangguk.
Nduk, negeri ini tengah dilanda ujian yang berat. Banyak golongan yang ingin menghomogenkan negeri ini, padahal penduduknya lahir dari rahim yang berbeda-beda. Entah itu ras, tanah kelahiran, bahasa ataupun keyakinan yang dianut.” Jelas Bu Nyai memberikan pemahaman.
“Iya Umi,”
“Jangan sampai hal-hal kecil yang menyangkut kepentingan pribadi terlalu menyita waktu kita dalam berfikir dan bertindak! Karena tugas yang lebih berat telah menghadang, yaitu mempertahankan persatuan negeri ini dalam keberagamannya.” Ucap Bu Nyai ringan penuh pemaknaan. Air mata Nahla benar-benar sudah berhenti, bahkan kini ia kembali mengingat cara menyimpul senyum.
Sebait penuh cinta, sebait penuh rindu. Jika saja masyarakat dapat merasakan sayat penyiksaan pada zaman penjajahan, jikalau teknologi mampu mencipta ulang suasana pada tahun-tahun tersebut. Maka perbedaan itu akan larut seperti garam dalam lautan, menyatu tapi asinnya masih terasa.

-Bintun Nahl-

Share:

Follow Us

BTemplates.com

Labels