Selain senja, rembulan juga tak kalah
eksis memahat rindu bersama gemerlapnya bintang. Ditengah musim kemarau yang
gersang dan diantara dinginnya malam yang menerjang, menanti waktu subuh
selepas qiyamul lail di taman pondok
sembari memandangimu merupakan hal istimewa. Denganmu, menanti menjadi hal yang
menyenangkan.
“Nahla sudah shalat tahajud?” Ustadzah
Ana berjalan mendekat dengan mukena yang masih belum ditanggalkan, beliau
berjalan dari arah masjid utama.
“Sudah Ust,” jawab Nahla tak berpaling.
“Nahla sedang apa?” Uztadzah muda itu
kembali bertanya, ia posisikan duduk tepat bersebelahan dengan anak didiknya.
“Itu!” Telunjuk Nahla mengarah pada
sebuah bulan sabit yang cahyanya hampir teredupkan fajar.
“Kenapa?”
“Maksud Ustadzah?” kini Nahla
benar-benar memalingkan wajahnya dari sang rembulan, menatap lekat mencari
sebuah arti pertanyaan gurunya.
“Kenapa Nahla begitu senang memandang
bulan itu? Ustadzah sering lho
melihat Nahla duduk disini sambil melihat bulan, bukankah bentuknya sama saja?”
Ustadzah Ana memperjelas maksud pertanyaannya.
“Abah itu dulu pernah bilang bahwa kita
perlu belajar syukur dari rembulan,” Nahla menjelaskan.
“Belum lama ini Nahla baru mengerti apa
yang dimaksud Abah. Ternyata pada dasarnya rembulan itu tidak memiliki cahaya,
yang selama ini kita lihat hanyalah cahaya yang diterima dari matahari.” Jelas
Nahla tak mau lepas dari pengamatannya.
“Sudah begitu Ustadzah,” suara gadis
berusia 10 tahun tersebut mengeras, matanya berbinar seolah ingin menitik
penjelasan yang akan ia jabarkan.
“Rembulan itu kan gelap, menerima cahaya
dari matahari kan jadi terang. Eh
masih aja tu cahaya di bagi ke kita,
jadi kan kita kebagian terangnya juga.” Gadis itu tersenyum sumringah.
“Lalu?” Tanyanya kembali.
“Beginilah cara rembulan bersyukur dan
bersedekah, karena hakekatnya kita tak memiliki apa-apa. Setiap makhluk Allah
pasti mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam bersyukur.” Nahla mengucapkan
ajian sakti sang Abah yang selalu ia dengarkan setiap khotbah jum’at.
“Betul sekali Nak, kamu banyak belajar
ya dari Pak Kyai.” Ustadzah Ana menyentuh hidung kecil Nahla dengan sedikit
gemas, kepolosan gadis itu benar-benar memikat perhatian setiap mata yang
memandang.
“Hari ini kan Nahla dapat jatah libur,
ada rencana mau pergi kemana gitu?”
Fajar mulai menyapa, kedua makhluk hawa itu mulai meninggalkan taman menuju
bangunan megah yang terletak ditengah-tengah pesantren. Samar suara adzan
semakin memantapkan langkah mereka.
“Sudah dong ustadzah, kan ustadzah sendiri yang bilang bahwa waktu itu
lebih berharga dari emas jadi nggak
boleh disia-siakan.” Jawabnya sambil meraih tangan sang ustadzah meminta untuk
digandeng.
Perbincangan hangat itu mereka akhiri
dengan shalat subuh berjamaah di masjid, bersama santri-santri lain yang ingin
juga berjumpa dengan Sang Rabby. Selepas shalat, ketika mentari mulai menyundul
garis timur kota jepara Nahla bersiap untuk menjalankan agenda liburannya kali
ini. ia kenakan baju sederhana berwarna tosca dengan kombinasi rok biru dongker
dan jilbab instan berwarna putih.
“Abah, hari ini Nahla jadi dapat jatah
libur kan?” Tanya Nahla ketika menemui Pak Kyai yang hendak mengisi pengajian
rutinan.
Pak Kyai mengangguk sambil tersenyum
lembut, beliau serahkan kartu berwarna hijau kepada putri kecilnya.
Santri-santri yang lain sering menyebut bahwa kartu hijau tersebut merupakan
kartu sakti Pak Kyai, karena jika seorang santri telah memegang kartu tersebut
maka ia boleh keluar masuk pondok sesuka hati. Namun para santri itu tak pernah
menyalahgunakan kartu tersebut untuk kepentingan pribadi yang sifatnya hanya
untuk bersenang-senang.
Nahla menuju gerbang utama sambil
mendorong gerobak kecil beroda tiga, sebuah tas berukuran sedang juga
bertengger dipunggungnya. Ia tunjukkan kartu miliknya ketika hendak melewati
penjaga, maka pelayanan pembukaan gerbang utama pun akan ia peroleh.
“Wah
putri Pak Yai mau kemana ini?” Sapa penjaga yang memang sedikit akrab dengan
Nahla.
“Biasa Pak, ngapel tetangga sebelah.”
Jawab Nahla enteng sebelum berlalu dan menghilang dari penglihatan.
Pondok pesantren yang kini menjadi
tempat Nahla mencari ilmu sudah bisa dikategorikan pondok gede, dalam artian bahwa pondok tersebut sudah memiliki fasilitas
yang memadai termasuk sekolah yang terletak di dalam pondok. Hal tersebut
membuat santri-santrinya sedikit terisolasi di dalam lingkungan pesantren,
bukan karena mereka tidak ingin srawung tapi karena segala keperluan sudah
tersedia di dalam pesantren.
Jatah libur 2 hari yang diberikan
pesantren setiap bulannya menjadi satu hal yang paling dinantikan
santri-santrinya termasuk Nahla. Gadis itu selalu mengambil jatah liburnya pada
akhir bulan, ia sangat senang berkunjung pada rumah-rumah tetangga dekat
pesantren. Kali ini ia akan mengunjungi kampung Jogoyudan yang letaknya
disebelah timur pondok, untuk menempuh kampung tersebut Nahla memerlukan waktu
sekitar 30 menit. ini adalah kali pertamanya ia berkunjung ke kampung tersebut.
“Assalamu’alaikum,” Nahla mengetuk
sebuah rumah yang temboknya terbuat dari anyaman bambu. Tiga kali ia mengetuk
dan menunggu. Tak berapa lama sang empunya rumah keluar, mengamati sesosok anak
kecil asing yang berada di hadapannya.
“Siapa ya?” Tanya sang pemilik rumah.
“Perkenalkan, nama saya Nahla dari
kampung sebelah. Saya datang ke sini untuk bersilaturahmi dan berkenalan dengan
warga kampung sini Pak.” Ucap Nahla sedikit tersendat, ia berusaha mengingat
setiap detail kalimat yang diajarkan Abahnya.
“Owh,
silakan masuk Nak!” Bapak paruh baya pemilik rumah itu ramah mempersilakan,
Nahla melepaskan alas kakinya sebelum akhirnya masuk. Di rumah itu ia berjumpa
dengan seorang perempuan dan beberapa anak kecil yang mungkin usianya lebih
muda dari dirinya.
“Tadi Abah menitipkan oleh-oleh ini
Pak,” ucap Nahla sembari memberikan sebuah bingkisan berisikan sembako yang sengaja
ia bawa dari pesantren.
Nahla tidak cukup lama berada di rumah
tersebut, karena tugasnya tak hanya berkunjung pada sebuah rumah saja. Ditambah
lagi usianya yang masih terlalu belia membuat dirinya sedikit canggung jika
diharuskan mengobrol terlalu lama dengan orang yang usianya jauh lebih tua.
“Maafkan saya Nak, tidak bisa memberikan
oleh-oleh yang bisa kamu bawa pulang sebagai tanda perkenalan ini. Sampaikan
terimakasih saya ke Abah kamu ya!” Ucap laki-laki tersebut ketika membersamai
Nahla keluar rumah.
“Iya Pak, sudah dapat silaturahmi dan
kenal dengan bapak sekeluarga saja saya sudah senang sekali Pak. InsyaAllah
nanti salamnya saya sampaikan,” Nahla pergi. Baru ia ketahui bahwa keluarga
tersebut beragama nasrani. Mereka menyambut dengan penuh kehangatan dan cukup
membuat nyaman.
Nahla kembali berjalan menyusuri
kampung. Rumah demi rumah terpilih sengaja ia kunjungi, bingkisan yang ia bawa
mulai berkurang seiring bertambahnya rumah yang ia sambangi. Sebuah rumah yang
terletak dipinggir kampung hampir berhimpitan dengan sungai besar adalah target
terakhirnya. Dengan sedikit peluh yang mulai menemani, Nahla mengetuk rumah
tersebut.
“Assalamu’alaikum,” seperti biasa ia
mengucap salam.
Pintu rumah berdecit, sedikit terbuka.
Seorang perempuan memperlihatkan sedikit bagian wajahnya dari balik pintu.
“Ada perlu apa?” Wanita itu sedikit
ketus.
“Saya ingin bersilaturahmi,” Jawab
Nahla.
Tak lama, perempuan sang pemilik rumah
benar-benar membuka pintunya. Ia merupakan janda yang ditinggal mati suaminya
10 tahun silam, seorang anak yang ia miliki pergi merantau ke kota dan tidak
pernah kembali selama 2 tahun terakhir. Perempuan itu duduk di teras rumah
dibarengi dengan Nahla.
“Perkenalkan Bu, nama saya Nahla dari
kampung sebelah. Ini ada oleh-oleh dari Abah untuk Ibu,” seperti biasa gadis
kelahiran Jepara tersebut menyerahkan sebuah bingkisan berisikan sembako.
“Sudah, tidak usah berbasa-basi!
Sebutkan saja apa keperluanmu kesini!” Jawabnya dengan ketus.
“Saya ingin bersilaturahmi Bu,” Nahla
kembali menjelaskan.
“Aku ini sudah hafal dengan modus
orang-orang seperti kamu ini, paling kalau nggak disuruh ikut milih pemimpin mu
ya disuruh masuk agama yang kamu ikuti sekarang.” Wanita itu menelisik,
mengamati kain penutup di kepala Nahla.
“Tidak seperti itu Bu, saya sungguh
hanya ingin sekedar berkenalan.” Jelas Nahla.
“Aku tidak akan percaya. Siapa yang
menyuruhmu? Suruh dia datang sendiri ke sini! Jangan bisanya Cuma mengandalkan
anak kecil biar warga bisa menaruh simpati,” Ucapnya dengan nada meninggi.
Hati kecil itu akhirnya runtuh, tak
terbendung lagi air mata Nahla tumpah. Mengalir membasahi pipi mungil dan
jilbab putihnya. Ingin rasanya ia untuk berteriak membantahkan kalimat sang ibu
pemilik rumah, namun pesan Abah untuk selalu menghormati orang yang lebih tua telah membuat lidahnya
kaku.
“Haiiiii,
warga kampung! Kemarilah sebentar!” perempuan itu bersuara lantang memanggil
warga untuk berkumpul. Tak berapa lama,
beberapa warga datang berduyun dengan sedikit tergesa.
“Ada apa ini? Ada apa ini?” Tanya
orang-orang tersebut.
“Ada orang yang nyuruh anak kecil buat menghasut warga kampung ini, siapa disini
yang sudah terhasut?” Tanya perempun tersebut.
“Menghasut bagaimana?” tanya seorang
laki-laki paruh baya.
“Ya, dia ngasih sembako ke warga miskin. Setelah itu kita disuruh masuk ke
dalam agamanya atau mungkin golongannya,” wanita itu benar-benar kesal.
“Saya tidak seperti itu, disini saya
benar-benar ingin berkenalan dengan warga kampung Jogoyudan ini. Saya tidak
pernah menyuruh orang-orang untuk mengikuti apa-apa yang sudah saya ikuti,”
Nahla memberikan penjelasan.
“Sekalipun background saya seperti ini, saya selalu diajarkan untuk menghargai
perbedaan dan kedatangan saya disini murni untuk silaturahmi tanpa ingin
menyamakan ras, golongan maupun agama.” Kembali Nahla mengingat pesan Abah
setiap malam sebelum ia berangkat berlibur.
“Bohong! Mana ada orang zaman sekarang
yang memberikan sembako sebanyak ini secara Cuma-Cuma,” bantah perempuan
tersebut.
Suasana menjadi ribut tak karuan.
“JIKA MEMBAGIKAN SEMBAKO SAJA SUDAH
DICURIGAI YANG MACAM-MACAM, BAGAIMANA KERUKUNAN BERWARGA NEGARA INI DAPAT KITA
CAPAI?” Teriak seorang laki-laki berkemeja batik dari balik kerumunan. Ia
merupakan bapak RT setempat.
“Sekarang begini, dari warga yang
menerima sembako dari anak kecil tersebut siapa yang merasa sudah dipengaruhi
untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh dia?” Tanya Pak RT sedikit berbelit.
Semua hening.
“Adakah yang merasa dipengaruhi?”
Tegasnya kembali.
“TIDAK!” Warga menjawab bersamaan.
Tuduhan tidak terbukti dan janda tua itu
tak bisa membalas kesaksian warga dengan alasan apapun. Namun hati Nahla telah
tersayat, air mata terlanjur jatuh. Nahla pulang tanpa mengucapkan salam
perpisahan dengan membawa gerobak kecil yang sudah kosong, berulang kali ia
sapu air matanya dengan kain kerudung tapi tak ayal usahanya tak membawa
perubahan nyata. Semakin disembunyikan, semakin deras pula ia berjatuhan.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya parau,
memasuki rumah ndalem.
“Wa’alaikumsalam. Sudak selesai
liburannya?” Tanya Abah belum sempat dijawab, gadis itu terburu memasuki kamar
dan menutup pintunya rapat-rapat. Tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi
beliau lalu mengutus sang istri untuk memastikan kondisi.
Tok..Tok..Tok..
“Assalamu’alaikum. Bolehkah Umi masuk?”
Bu Nyai mengucapkan salam, meminta izin masuk. Pintu tak dikunci, itu berarti
sang ibu boleh memasuki kamarnya.
Bu Nyai mendapati anak perempuannya
tengah duduk tertunduk pada sebuah kursi lawas yang biasa digunakan untuk
belajar. Beliau mendekat lalu dengan lembut tangannya membelai kepala Nahla,
semakin sesenggukan saja tangis gadis kecil itu.
“Menangislah dalam pelukan Umi sayang!
Bagikan rasa sakit itu pada Umi juga, biar kita bisa sama-sama
menyembuhkannya.” Ucap Bu Nyai sembari mendekap tubuh kecil Nahla.
Beberapa waktu Nahla masih menikmati
linangan air matanya, dipelukan sang ibu yang hangat dan menenangkan.
“Nahla lelah Umi, berjalan dari
pesantren sampai ujung kampung. Diterjang debu jalan dan teriknya matahari,
membagikan sembako untuk orang-orang yang kata Abah membutuhkan bantuan. Tapi
Nahla malah dicaci dan diusir Umi,” ucapnya sesenggukan.
“Apa yang membuat Nahla sedih?” Wanita
itu memastikan kembali.
“Cacian dan pengusiran,” terang gadis
tersebut.
“Nduk,”
kini Bu Nyai melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah putrinya.
“Rasul pernah dihina ketika memberi
makan seorang pengemis tua yang lemah dan buta. Apa setelah itu Rasul bersedih
dan meninggalkan pengemis tersebut?” Bu Nyai mengingkatkan kembali kisah yang
pernah beliau bagikan.
Nahla menggeleng.
“Tidak. Rasul tersenyum dan tetap
melanjutkan rutinitas tersebut setiap pagi,” Beliau usap air mata Nahla yang
debitnya mulai berkurang.
“Tambahan sebuah ilmu baru saja Nahla
dapatkan hari ini,” lanjutnya.
“Maksud Umi?” Nahla tak mengerti.
“Jika kemarin Abah mengajarkan tentang
membantu kesesama sekalipun mereka bukan dari kalangan kita, maka hari ini
Nahla mendapat pelajaran bahwa setiap orang memiliki penilaian sendiri-sendiri
tentang diri kita. Terlepas benar atau salah dari penilaian tersebut, Nahla
harus bisa menerimanya dengan hati yang lapang. Jika kita sudah meluruskan tapi
orang tersebut tetap kekeh, ya apa yang bisa kita lakukan? Setidaknya kita
sudah berikhtiar. Toh setiap orang
memiliki hak berpendapat masing-masing kan?” Tanya Umi menegaskan.
Nahla mengangguk.
“Nduk,
negeri ini tengah dilanda ujian yang berat. Banyak golongan yang ingin
menghomogenkan negeri ini, padahal penduduknya lahir dari rahim yang
berbeda-beda. Entah itu ras, tanah kelahiran, bahasa ataupun keyakinan yang
dianut.” Jelas Bu Nyai memberikan pemahaman.
“Iya Umi,”
“Jangan sampai hal-hal kecil yang
menyangkut kepentingan pribadi terlalu menyita waktu kita dalam berfikir dan
bertindak! Karena tugas yang lebih berat telah menghadang, yaitu mempertahankan
persatuan negeri ini dalam keberagamannya.” Ucap Bu Nyai ringan penuh
pemaknaan. Air mata Nahla benar-benar sudah berhenti, bahkan kini ia kembali
mengingat cara menyimpul senyum.
Sebait penuh cinta, sebait penuh rindu.
Jika saja masyarakat dapat merasakan sayat penyiksaan pada zaman penjajahan,
jikalau teknologi mampu mencipta ulang suasana pada tahun-tahun tersebut. Maka
perbedaan itu akan larut seperti garam dalam lautan, menyatu tapi asinnya masih
terasa.
-Bintun Nahl-










