Flickr Images

Sunday, September 13, 2015

Merdeka Hanyalah Kedok



Merdeka Hanyalah Kedok


Oleh : Bintun Nahl
Assalamu’alaikum.
            Mbak kita bangkitkan lagi yuk remaja putri kapung kita, biar kompak.

            Sudah lebih dari dua belas jam Merta menunggu balasan sms dari HPnya, dan itu adalah sms yang kesekian kalinya ia kirimkan. Hatinya mulai risau memendam asa yag tak kunjung meletupkan kehidupan.
            “Sudahlah Nduk, mungkin mereka lagi benar-benar sibuk. Kita mengurus berdua kan juga bisa to?” Mbak Sulis menasehati, sebelum semangat itu terlunturkan oleh yang lain.
            Oke deh Mbak. Sekarang kita rencanakan saja semuanya berdua dulu, insyaAllah besok mereka bakal nyusul kita untuk bantuin kok Mbak.” Ia raih lagi senyuman manis yang sempat bersembunyi dan dengan sekuat tenaga ia berusaha berbaik sangka.
“Kita mau mengumpulkan anak-anaknya kapan nih say?” Sebuah pertanyaan yang sangat wajar dilemparkan oleh Mbak Sulis.
“Besok tanggal 23 Agustus saja Mbak.” Jawab Merta dengan entengnya sambil menbuat beberapa coretan-coretan yang menggambarkan konsep acara.
Ha? Yakin bisa?” Mbak Sulis sedikit terbelalak keheranan karena deadline nya Cuma tinggal 2 hari lagi.
“Iya Mbak. Ini konsep acaranya, nanti untuk menangani kekurangan panitia saya bisa mengundang beberapa teman untuk membantu.” Selembar kertas disodorkan pada Mbak cantik yang berada disampingnya sambil memberikan beberapa penjelasan, tak menunggu waktu lama untuk membuat Mbak Sulis setuju.
Remaja kampung didata dan undangan disebar sesegera mungkin, walaupun boleh dikata yang bekerja hanya dua orang tapi konsep acara cukup matang untuk dihidangkan. Waktu begitu cepat memakan jam dan keturunannya, mentari terlalu cepat menerbitkan 23 Agustus pagi.
Satu per satu remaja sekampung datang kerumah Mbak Sulis dengan membawa peralatan yang diminta. Ada pisau, buku, mukena, sandal dan beberapa cemilan.
“Sudah siap semua? Yuk kita cap cus.” Teriak Merta memberikan komando.
“Dengan membaca Bismillah.” Lanjutnya
Jumlah peserta yang datang boleh dibilang sangat memuaskan, dari 30 undangan yang disebar ternyata ada 50 yang hadir. Merta membagi mereka menjadi 10 kelompok untuk menjalankan sebuah misi rahasia.
Zahra, Wulan, Tutik, Catur dan Puput menjadi kelompok pertama yag menjalankan misi ini dengan Wulan sebagai Pemimpinnya. Tangan kanan membawa bendera merah putih dan tangan kiri membawa perbekalan, langkah kaki mereka tegap berjalan menyusuri jalan setapak dipinggir sungai.
Acaranya memang cuma outbond pada umumnya, namun Merta dan crewnya mampu mengemas dalam bingkisan jiwa pahlawan.
“Untuk apa kalian ada disini?” Merta berteriak lantang ditengah-tengah acara.
“Untuk memerdekakan Indonesia.” Jawaban serentak terlontar dari para peserta dengan raut wajah yang sumringah. Acara yang digelar sejak pagi dengan beberapa relawan dari luar itu cukup membangkitkan jiwa nasionalisme para remaja di kampung Merta.
Jelang pukul 14.01 saat acara hendak ditutup tiba-tiba ada beberapa gadis muda datang nyelonong tanpa mengucapkan salam.
“Jadi acara ini dibantu teman-teman kamu yang dari kapung lain?” Mbak Monik bertanya sambil melirik ke beberapa orang yang memang bukan warga asli Kampung Banjar. Yang dilirik membalas dengan senyuman manis.
“Jadi nggak mau melibatkan kita?” lanjutnya.
“Saya kira Mbak-Mbak nya ini sibuk, makanya Saya dan Mbak Sulis mencoba menangani dengan orang seadanya.” Merta mencoba berprasangka baik.
“Betul.” Mbak Sulis mengacungkan jempol.
“Terus, sekarang hasil apa yang kalian dapat diacara ini?” Nada yang keluar sudah tidak Do Re atau Mi lagi, tapi sudah tercampur embel-embel sinis.
“Merdeka.” Merta mencoba menjawab dengan setenang mungkin, salah sedikit dia bisa memicu kemaran pembesar-pembesar yang ada di hadapannya itu.
“Merdeka? Hello, sejak 70 tahun yang lalu Negara ini sudah merdeka kale.” Suara Mbak Monik meninggi dengan sedikit lengkingan.
“Merdeka dari apa Mbak? Dari penjajah yang KATANYA udah terusir?” tanya Catur yang mulai gemas dengan tingkah polah Monik.
“Disaat Dunia pertambangan dikuasai perusahaan asing, apakah itu yang dinamakan merdeka?” lanjutnya
“Tidak, Merdeka itu saat kita mampu hidup mandiri tanpa belas kasihan Negara asing.” Ucap Zahra setelah beberapa saat menimbang-nimbang kalimatnya.
“Merdeka itu saat kita dapat berkumpul bareng tapi focus tetap pada teman dihadapan kita, bukan pada teman yang berada di dunia lain (Sosmed)” Wulan yang terkenal dengan watak diamnya kini angkat bicara.
“Merdeka itu saat sungai-sungai tak menabung sampah lagi.” Tutik menyerobot sebelum Monik membuka mulutnya lebih lebar lagi.
“Dan Merdeka itu saat seorang teman membutuhkan bantuan, yang lain siap dengan segala kondisi.” Catur melirik pada Merta.
Monik hanya terdiam, bingung dengan apa ia harus berbahasa. Dirinya saat ini seperti sandal yang kehilangan pasangannya yang mencoba mencari tuannya. Sebagus-bagusnya sandal kalau tak ada pasangannya, siapa yang mau memakai? Secerdas-cerdasnya kita, kalau kita terlalu pelit berbagi, siapakah yang akan membela? Mungkin angin pun enggan masuk ke dalam tubuh ini.
Share:

Follow Us

BTemplates.com

Labels