Flickr Images

Saturday, September 12, 2015

Betapa Berharganya Dirimu



Selembar Kain Berharga


Oleh : Bintun Nahl
Dinding merah dengan kombinasi lantai hitam. Beberapa foto terpajang rapi mengitari kamar berukuran empat kali lima meter tersebut. Seorang gadis berambut panjang terlihat menangis. Matanya membengkak. Bibirnya kering. Suaranya parau. Puluhan tisyu berserakan menyelimutinya dalam kesepian.
Suit..Suit..Cewek.” Memorinya teringat pada kejadian malam itu, beberapa preman menghadangnya sewaktu ia pulang dari kampus. Tak secuil katapun keluar dari mulutnya. Kecepatan berjalannya ia tambah dua kali lipat.
Eh dianya lari, kita sapa baik-baik kok malah kabur.” Preman-preman itu merasa dihina dengan tingkah gadis cantik yang baru saja nyelonong. Lima laki-laki berotot itu mengejar sambil bertemankan tawa meledek.
“Tolong..Tolong..Tolong…” Ia berlari tergopoh menjinjing sepatunya yang tingginya tak kurang dari sepuluh senti. Jalan itu terlalu sepi, pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat dilindungi pagar-pagar mentereng.
Kedua kakinya masih berlari. Celaka, jalan yang ia ambil ternyata mempunyai ujung yang buntu. Langkahnya terhenti. Ia berfikir keras dengan keringat dingin yang bercucuran membasahi tubuhnya. Pandangannya mengarah pada pagar besi berpola yang berujung pada sungai. Segera ia melipat baju kemeja dengan panjang sepertiga lengan itu lalu berpegangan pada pagar itu.
Hahaha..Silakan loncat saja nona. Sungainya lumayan kok, kemarin baru aja ada orang yang meninggal.” Ucap salah satu preman dengan nada meledek.
“Tapi bukankah lebih indah kalau kita berkenalan dulu?” Gadis itu membalikkan badan, tiga orang dari mereka mendekat secara perlahan. Mereka menangkap rona kecemasan pada gadis muda didepannya. Wajahnya bersih. Kulitnya kuning langsat. Kemeja pink yang ia padukan dengan rok hitam selutut membuatnya semakin terlihat menawan.
Tangan besar penuh otot itu mendarat tepat disamping wajah manis penuh ketegangan. Jantungnya sudah tak beritme lagi, wajah yang satu semakin mendekat dan gadis itu berteriak.
Pangg…Sebuah tongkat kayu menghantam laki-laki penuh tato itu, seketika tubuhnya tersungkur tak berdaya. Segesit petir menyambar pohon-pohon, secepat angin menerbangkan daun-daun. Adu gulat sudah terjadi dengan sengit.
“GALEH…!!!” Gadis itu berteriak ketika menyaksikan preman-preman itu menghabisi teman sekelasnya yang ingin menyelamatkannya.
“La..la..lari Key.” Teriak Galeh sedikit terbata sebelum akhirnya nafas itu habis dan jantung itu kehabisan daya.
“Gawat, Aku nggak ikut-ikutan.” Salah seorang dari preman itu mengangkat kedua tangannya lalu kabur dengan segudang rasa bersalah diikuti yang lain.
“Leh, bangun Leh!” Keyko mengguncangkan tubuh Galeh beberapa kali. Tak bergerak sama sekali. Suhunya semakin menurun. Wajahnya pucat dan nafasnya benar-benar menghilang.
Kejadian itu tersimpan rapi dalam memori kepalanya. Tangisnya slalu meledak ketika kengerian itu diputar kembali dalam ingatannya. Malam semakin larut, bulan tertutup awan hitam pekat.
Semburat senyuman sang mentari mulai menyapa, semalaman menangis membuat kedua mata itu memiliki kantung hitam. Polesan bedak dan beberapa make up rupanya tak banyak membantu. Ia pandangi dirinya sendiri lewat sebuah kaca besar berukuran satu kali setengah meter yang terpajang di samping tempat tidurnya.
“Galeh saja berani memertaruhkan nyawanya untuk melindungiku, tapi kenapa Aku terlalu mudah menceburkan diri dalam kekacauan.” Gumamnya lirih, ia perhatikan pakaian yang melekat di tubuhnya.
“Aku bisa menjaganya sendiri, mungkin kemarin hanyalah keberuntungan yang tak sengaja mampir yang bisa jadi dia nggak akan mampir lagi.” Ucapnya, pandangan mata yang belum beranjak dari alat pemantul cahaya.
“Akan aku ciptakan keberuntunganku sendiri.” Ucapnya lagi lalu bergegas menuju almari  tempatnya mengoleksi baju. Ia ambil sebuah mantel tipis panjang namun tidak menerawang lalu ia  mengenakannya.
“Ini lebih baik, setidaknya mata-mata nakal itu tak akan melirikku lagi.” Gumannya lalu keluar kamar sambil membawa buku-buku kuliahnya.






Share:

Follow Us

BTemplates.com

Labels