Selembar Kain Berharga
Oleh
: Bintun Nahl
Dinding merah dengan
kombinasi lantai hitam. Beberapa foto terpajang rapi mengitari kamar berukuran
empat kali lima meter tersebut. Seorang gadis berambut panjang terlihat
menangis. Matanya membengkak. Bibirnya kering. Suaranya parau. Puluhan tisyu
berserakan menyelimutinya dalam kesepian.
“Suit..Suit..Cewek.” Memorinya teringat pada kejadian malam itu,
beberapa preman menghadangnya sewaktu ia pulang dari kampus. Tak secuil katapun
keluar dari mulutnya. Kecepatan berjalannya ia tambah dua kali lipat.
“Eh dianya lari, kita sapa baik-baik kok malah kabur.” Preman-preman itu merasa dihina dengan tingkah
gadis cantik yang baru saja nyelonong. Lima laki-laki berotot itu mengejar
sambil bertemankan tawa meledek.
“Tolong..Tolong..Tolong…”
Ia berlari tergopoh menjinjing sepatunya yang tingginya tak kurang dari sepuluh
senti. Jalan itu terlalu sepi, pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat
dilindungi pagar-pagar mentereng.
Kedua kakinya masih
berlari. Celaka, jalan yang ia ambil ternyata mempunyai ujung yang buntu.
Langkahnya terhenti. Ia berfikir keras dengan keringat dingin yang bercucuran
membasahi tubuhnya. Pandangannya mengarah pada pagar besi berpola yang berujung
pada sungai. Segera ia melipat baju kemeja dengan panjang sepertiga lengan itu lalu
berpegangan pada pagar itu.
“Hahaha..Silakan loncat saja nona. Sungainya lumayan kok, kemarin baru aja ada orang yang
meninggal.” Ucap salah satu preman dengan nada meledek.
“Tapi bukankah lebih
indah kalau kita berkenalan dulu?” Gadis itu membalikkan badan, tiga orang dari
mereka mendekat secara perlahan. Mereka menangkap rona kecemasan pada gadis
muda didepannya. Wajahnya bersih. Kulitnya kuning langsat. Kemeja pink yang ia
padukan dengan rok hitam selutut membuatnya semakin terlihat menawan.
Tangan besar penuh otot
itu mendarat tepat disamping wajah manis penuh ketegangan. Jantungnya sudah tak
beritme lagi, wajah yang satu semakin mendekat dan gadis itu berteriak.
Pangg…Sebuah
tongkat kayu menghantam laki-laki penuh tato itu, seketika tubuhnya tersungkur
tak berdaya. Segesit petir menyambar pohon-pohon, secepat angin menerbangkan
daun-daun. Adu gulat sudah terjadi dengan sengit.
“GALEH…!!!” Gadis itu
berteriak ketika menyaksikan preman-preman itu menghabisi teman sekelasnya yang
ingin menyelamatkannya.
“La..la..lari Key.”
Teriak Galeh sedikit terbata sebelum akhirnya nafas itu habis dan jantung itu
kehabisan daya.
“Gawat, Aku nggak
ikut-ikutan.” Salah seorang dari preman itu mengangkat kedua tangannya lalu
kabur dengan segudang rasa bersalah diikuti yang lain.
“Leh, bangun Leh!”
Keyko mengguncangkan tubuh Galeh beberapa kali. Tak bergerak sama sekali.
Suhunya semakin menurun. Wajahnya pucat dan nafasnya benar-benar menghilang.
Kejadian itu tersimpan
rapi dalam memori kepalanya. Tangisnya slalu meledak ketika kengerian itu
diputar kembali dalam ingatannya. Malam semakin larut, bulan tertutup awan
hitam pekat.
Semburat senyuman sang
mentari mulai menyapa, semalaman menangis membuat kedua mata itu memiliki
kantung hitam. Polesan bedak dan beberapa make
up rupanya tak banyak membantu. Ia pandangi dirinya sendiri lewat sebuah
kaca besar berukuran satu kali setengah meter yang terpajang di samping tempat
tidurnya.
“Galeh saja berani
memertaruhkan nyawanya untuk melindungiku, tapi kenapa Aku terlalu mudah
menceburkan diri dalam kekacauan.” Gumamnya lirih, ia perhatikan pakaian yang
melekat di tubuhnya.
“Aku bisa menjaganya
sendiri, mungkin kemarin hanyalah keberuntungan yang tak sengaja mampir yang
bisa jadi dia nggak akan mampir
lagi.” Ucapnya, pandangan mata yang belum beranjak dari alat pemantul cahaya.
“Akan aku ciptakan
keberuntunganku sendiri.” Ucapnya lagi lalu bergegas menuju almari tempatnya mengoleksi baju. Ia ambil sebuah
mantel tipis panjang namun tidak menerawang lalu ia mengenakannya.
“Ini lebih baik,
setidaknya mata-mata nakal itu tak akan melirikku lagi.” Gumannya lalu keluar
kamar sambil membawa buku-buku kuliahnya.











