Flickr Images

Monday, September 7, 2015

Long Distance Friendship



60 Menit Bertemu Sakura


Oleh :Bintun Nahl

Kuncup-kuncup bunga pohon plum berjajar tunjukkan pesonanya, ribuan bunga sakura mulai bermekaran dari ujung selatan Okinawa, Pulau Kyushu, merambat ke Pulau Honshu, Shikoku, dan terakhir di Hokkaido yang berada di utara Jepang.
Burung raksasa baru saja mendarat di  Haneda bersama puluhan pengikutnya, seorang gadis keluar bersama rombongan yang lain sambil membawa tas koper kecil di tangan kirinya. Beberapa langkah setelah melewati pintu keluar, gadis itu membuka kacamata yang terpajang di wajahnya lalu ia selipkan di saku mantelnya.
Perfect…” gadis itu tersenyum memegang kertas ditangannya. Lalu ia menghentikan sebuah taxi.
Kon'nichiwa.” Sapa sang supir.
Doko e ikimasuka ?” Supir taxi itu menanyakan tempat tujuan si penumpang cantik tersebut.
marunouchi e ikita.i” Gadis itu menyebutkan sebuah tempat yang tak begitu asing.
Hai.” Sang Supir menyetujui lalu memutar balik kendaraannya untuk mencari jalan yang lebih dekat.
Arigatōgozaimashita.” Gadis itu mengucapkan terima kasih dan mengulurkan beberapa yen.
Sesaat setelah kakinya berpijak diatas negeri sakura tersebut, ia hirup udara musim semi yang khas.
“Tempat ini banyak berubah, tujuh belas tahun akhirnya kita bisa bertemu juga.” ucapnya lirih. Beberapa gedung sudah tertata di depan mata, namun masih menyisakan beberapa bangunan rumah tradisional.
Tingg…Gadis itu menekan bel. Seorang wanita separuh baya menggeser pintunya, gaun kimono berwarna biru muda yang melekat pada tubuhnya membuat wanita itu tampak lebih muda. Sebagian rambutnya sudah tak hitam lagi.
“Okaasan, Saya mencari Ayuka.” Gadis itu memberikan salam hangat khas jepang.
Kon'nichiwa.” Wanita itu membungkuk memberikan salam, seorang perempuan terlihat melintas dibelakangnya..
“Ayuka-chan.” Gadis itu sontak langsung memeluknya.
“Aku Keyko, teman Kamu waktu kecil.” Gadis itu menangkap raut kebingungan di wajah Ayuka.
“Keyko?” Ucap Ayuka lirih mencoba mengingat teman-teman masa kecilnya.
“Kamu pasti lupa, wajahku memang sedikit berubah. Begitupun dengan Jepang sudah banyak berubah,” Gadis itu menjelaskan, ia melihat-lihat beberapa koleksi foto sahabat lamanya itu yang terpajang di ruang tamu.
 Wanita cantik yang tadi membukakan pintu tengah menyiapkan makan siang, tak menunggu waktu lama mereka bertiga duduk sejajar menikmati hidangan makan siang.
Hmm..Yakitori. daging ayamnya empuk sekali Okaasan. Tau saja Okaasan kalau Aku mau datang.” Puji gadis itu sambil bernostalgia dengan makanan favoritnya tersebut.
“Kamu temannya Yuka? Nggak pernah main kesini ya?” tanya sang Okaasan
“Tujuh belas tahun terakhir ini Saya tinggal di Indonesia Okaasan, di Yogyakarta. Disana juga ada yakitori semacam ini, tapi namanya sate.” Ujar Keyko sambil mengamati makanan khas jepang ditangan kanannya.
 Eh, bagaimana dengan hadiah yang bulan kemarin Aku berikan? Kamu suka?” Tanya Keyko pada Yuka.
“Hadiah?” Sepertinya Yuka tak mengerti maksud dari pembicaraan Keyko.
“Kau tidak menerimanya? Kain batik yang kamu inginkan, Aku membelinya langsung dari produsennya.” Keyko menelisik.
Gomen, Watashi…” Yuka mengerutkan dahinya, matanya menatap tajam Keyko.
“Apa benar dulu kita sempat berteman?” Lanjutnya.
Pernyataan itu sontak membuat yakitori yang masuk ke mulut Keyko menjadi pahit.
“Okaasan, apa yang terjadi dengan Yuka-chan. Apakah akhir-akhir ini dia mengalami kecelakaan?” Keyko memegang kepala Yuka berharap Yuka baik-baik saja dan memang benar tak ada luka apapun.
“Atau dia terserang penyakit?” Lanjutnya.
Wanita itu hanya menggeleng.
“Akhir-akhir ini Yuka murung, dia ingin melupakan seseorang yang pernah berarti di hidupnya.” Ucap wanita itu setengah berbisik.
“Wakarimashita.” Jawab Keyko lirih.
“Kamu benar-benar tak mengingatku?” Keyko mendekatkan wajahnya ke Yuka. Tak ada respon berarti dari Yuka.
“Atau mungkin ini akan membuatmu ingat.” Keyko mengeluarkan beberapa souvenir jepang yang iya dapatkan dari Ayuka.
“Tidak…” Ayuka menggeleng.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Keyko mohon diri dari keluarga Yuka. Matanya berkaca-kaca, pandangannya kosong, langkah kakinya begitu berat. Usahanya untuk membuat ingatan Ayuka kembali tak membuahkan hasil.
“Pertengkaran kita dua bulan yang lalu ternyata benar-benar sudah tak berbekas dihatimu, ingatanmu tentang Aku pun ikut kau hapus.” Guman Keyko sambil memandangi voucher liburan untuk dua orang, kini voucher itu hanya akan jadi rencana yang tak akan pernah terlaksana.
Boeing 777-300ER tiba di Bandara Soekarno-Hatta lewat tengah malam, Keyko berniat akan langsung pulang ke Yogyakarta namun penerbangan ke sana baru dibuka besok pagi pukul 06.15. Ia memutuskan untuk istirahat sejenak di salah satu hotel terdekat. Matanya sulit untuk terpejam, semalaman ia terjaga merenungkan peristiwa pahit yang harus dia bawa pulang.
Belum genap mesin waktu menunjuk pukul 8, Keyko sampai di depan rumahnya yang berada di kawasan Jl.Simanjuntak.
“Keyko!” Seorang wanita terkejut ketika membukakan pintu, sesaat kemudian Keyko pingsan.
“Keyko-chan…” Suara itu terdengar sedikit asing di telinga Keyko, ada aroma aneh yang mampir ke indera pembaunya.
“Keyko-chan, kamu cantik.” Seorang gadis mengamati wajah Keyko dengan seksama. Selang seperseratus detik Keyko membuka matanya, ia merasakan keanehan di hidungnya. Nampaknya sang ibu terlalu banyak mengoleskan minyak agar ia tersadar.
“Ayuka?” Gadis yang berada di depannya itu nampak berbeda dengan gadis Jepang yang kemarin ia temui, tapi Keyko sangat yakin kalau itu Ayuka. Kimono yang dikenakan gadis itu, motifnya sama persis dengan kain batik yang ia pesan khusus untuk sahabatnya.
Hai. Ayu-chan.” Begitulah Ayuka slalu menyebutkan namanya disetiap berjumpa dengan Keyko lewat surat-suratnya.
“Kalau Kamu Ayuka. Perempuan yang kemarin siang Aku temui, dan alamat itu.” Keyko kini benar-benar sadar bahwa ada kesalahan ejaan di alamat surat Ayuka.
“Nanti aku jelaskan. Yang jelas sekarang aku mau keliling kota tercintamu ini. Okaasan tadi bercerita kalau orang Yogyakarta itu alus-alus.”
Wakatta..Dimana tempat pertama yang ingin kamu kunjungi?” Tanya Keyko lalu bangkit untuk segera berkemas.
“Kyoto in Java.” Jawab Yuka penuh antusias.
Puluhan burung berkicau diatap gedung bekas istana Negara tersebut, kesedihan Keyko kini benar-benar sudah berlabuh dipulau yang tak diketahui letaknya. Ia hanya membawa semangat dan kebahagiaannya saja. Kyoto in Java adalah lambang untuk kota Yogyakarta yang sempat menjadi ibu kota Negara sebelum akhirnya pindah ke Jakarta.
                “Lalu, sejak kapan kamu pindah ke Hokkaido?” Seteguk es the manis meluncur ke tenggorokkan Keyko.
            “Seminggu setelah kamu mengirimkan ini.” Ayuka menunjuk pada kimono yang tengah ia pakai.
            “Rumah lamamu?”
            “Ojii-chan menjualnya.” jawab Ayuka.
            “Lalu gadis yang ada di rumah itu..? namanya mirip kamu. Aku kira..” Keyko tidak melanjutkan ucapannya.
            “Mungkin hanya kebetulan saja.” Ayuka menanggapi cuek, tangannya sibuk mengutak-atik lensa kameranya.
            Luka yang kemarin masih menganga di hati Keyko seketika tertutup. Ia sudah terbangun dari mimpi buruk yang membuatnya terbang sampai negeri sakura. Mentari semakin memuncak hingga akhirnya ia harus kembali ke singgasananya.

Share:

2 comments:

Follow Us

BTemplates.com

Labels