Merdeka
Hanyalah Kedok
Oleh
: Bintun Nahl
Assalamu’alaikum.
Mbak kita bangkitkan lagi yuk remaja
putri kapung kita, biar kompak.
Sudah lebih dari dua belas jam Merta
menunggu balasan sms dari HPnya, dan itu adalah sms yang kesekian kalinya ia
kirimkan. Hatinya mulai risau memendam asa yag tak kunjung meletupkan
kehidupan.
“Sudahlah Nduk, mungkin mereka lagi benar-benar sibuk. Kita mengurus berdua
kan juga bisa to?” Mbak Sulis
menasehati, sebelum semangat itu terlunturkan oleh yang lain.
“Oke
deh Mbak. Sekarang kita rencanakan saja semuanya berdua dulu, insyaAllah
besok mereka bakal nyusul kita untuk bantuin kok Mbak.” Ia raih lagi senyuman manis yang sempat bersembunyi dan
dengan sekuat tenaga ia berusaha berbaik sangka.
“Kita
mau mengumpulkan anak-anaknya kapan nih say?” Sebuah pertanyaan yang sangat
wajar dilemparkan oleh Mbak Sulis.
“Besok
tanggal 23 Agustus saja Mbak.” Jawab
Merta dengan entengnya sambil menbuat beberapa coretan-coretan yang
menggambarkan konsep acara.
“Ha? Yakin bisa?” Mbak Sulis sedikit terbelalak keheranan karena deadline nya Cuma tinggal 2 hari lagi.
“Iya
Mbak. Ini konsep acaranya, nanti
untuk menangani kekurangan panitia saya bisa mengundang beberapa teman untuk
membantu.” Selembar kertas disodorkan pada Mbak
cantik yang berada disampingnya sambil memberikan beberapa penjelasan, tak
menunggu waktu lama untuk membuat Mbak
Sulis setuju.
Remaja
kampung didata dan undangan disebar sesegera mungkin, walaupun boleh dikata
yang bekerja hanya dua orang tapi konsep acara cukup matang untuk dihidangkan.
Waktu begitu cepat memakan jam dan keturunannya, mentari terlalu cepat
menerbitkan 23 Agustus pagi.
Satu
per satu remaja sekampung datang kerumah Mbak
Sulis dengan membawa peralatan yang diminta. Ada pisau, buku, mukena, sandal
dan beberapa cemilan.
“Sudah
siap semua? Yuk kita cap cus.” Teriak
Merta memberikan komando.
“Dengan
membaca Bismillah.” Lanjutnya
Jumlah
peserta yang datang boleh dibilang sangat memuaskan, dari 30 undangan yang
disebar ternyata ada 50 yang hadir. Merta membagi mereka menjadi 10 kelompok
untuk menjalankan sebuah misi rahasia.
Zahra,
Wulan, Tutik, Catur dan Puput menjadi kelompok pertama yag menjalankan misi ini
dengan Wulan sebagai Pemimpinnya. Tangan kanan membawa bendera merah putih dan
tangan kiri membawa perbekalan, langkah kaki mereka tegap berjalan menyusuri
jalan setapak dipinggir sungai.
Acaranya
memang cuma outbond pada umumnya,
namun Merta dan crewnya mampu
mengemas dalam bingkisan jiwa pahlawan.
“Untuk
apa kalian ada disini?” Merta berteriak lantang ditengah-tengah acara.
“Untuk
memerdekakan Indonesia.” Jawaban serentak terlontar dari para peserta dengan
raut wajah yang sumringah. Acara yang digelar sejak pagi dengan beberapa
relawan dari luar itu cukup membangkitkan jiwa nasionalisme para remaja di kampung
Merta.
Jelang
pukul 14.01 saat acara hendak ditutup tiba-tiba ada beberapa gadis muda datang
nyelonong tanpa mengucapkan salam.
“Jadi
acara ini dibantu teman-teman kamu yang dari kapung lain?” Mbak Monik bertanya sambil melirik ke beberapa orang yang memang
bukan warga asli Kampung Banjar. Yang dilirik membalas dengan senyuman manis.
“Jadi
nggak mau melibatkan kita?” lanjutnya.
“Saya
kira Mbak-Mbak nya ini sibuk, makanya
Saya dan Mbak Sulis mencoba menangani
dengan orang seadanya.” Merta mencoba berprasangka baik.
“Betul.”
Mbak Sulis mengacungkan jempol.
“Terus,
sekarang hasil apa yang kalian dapat diacara ini?” Nada yang keluar sudah tidak
Do Re atau Mi lagi, tapi sudah tercampur embel-embel sinis.
“Merdeka.”
Merta mencoba menjawab dengan setenang mungkin, salah sedikit dia bisa memicu
kemaran pembesar-pembesar yang ada di hadapannya itu.
“Merdeka?
Hello, sejak 70 tahun yang lalu
Negara ini sudah merdeka kale.” Suara
Mbak Monik meninggi dengan sedikit
lengkingan.
“Merdeka
dari apa Mbak? Dari penjajah yang
KATANYA udah terusir?” tanya Catur yang mulai gemas dengan tingkah polah Monik.
“Disaat
Dunia pertambangan dikuasai perusahaan asing, apakah itu yang dinamakan
merdeka?” lanjutnya
“Tidak,
Merdeka itu saat kita mampu hidup mandiri tanpa belas kasihan Negara asing.”
Ucap Zahra setelah beberapa saat menimbang-nimbang kalimatnya.
“Merdeka
itu saat kita dapat berkumpul bareng tapi focus tetap pada teman dihadapan
kita, bukan pada teman yang berada di dunia lain (Sosmed)” Wulan yang terkenal dengan watak diamnya kini angkat
bicara.
“Merdeka
itu saat sungai-sungai tak menabung sampah lagi.” Tutik menyerobot sebelum
Monik membuka mulutnya lebih lebar lagi.
“Dan
Merdeka itu saat seorang teman membutuhkan bantuan, yang lain siap dengan
segala kondisi.” Catur melirik pada Merta.
Monik
hanya terdiam, bingung dengan apa ia harus berbahasa. Dirinya saat ini seperti
sandal yang kehilangan pasangannya yang mencoba mencari tuannya.
Sebagus-bagusnya sandal kalau tak ada pasangannya, siapa yang mau memakai?
Secerdas-cerdasnya kita, kalau kita terlalu pelit berbagi, siapakah yang akan
membela? Mungkin angin pun enggan masuk ke dalam tubuh ini.













