Badai
Di Hari Itu
Oleh : Bintun Nahl
Hujan
masih mengguyur kota kecil itu, begitu deras hingga lalu lalang kendaraan yang
melintas tak terdengar. Terlihat seorang gadis duduk termangu di depan teras
rumah tak jauh dari hiruk-pikuk kesibukan warga kota, menyaksikan rintikan
hujan dengan penuh harap cemas.
“Ya
Allah, hujan adalah sebuah anugrah terindah dari-Mu untuk kami. Dengan air
hujan, Kau hidupkan yang mati, Kau suburkan yang tandus, dan Kau sejukkan hati
yang gersang. Sebelum sore ini berlalu dan sebelum hujan ini mereda, hamba
ingin memohon kepada-Mu ya Allah,
ridhoilah hamba untuk mendaki malam ini.” Matanya terpejam, setetes butiran kristal
mengalir penuh ketenangan.
Lili,
gadis manis berparas ayu itu rupanya tengah menunggu hujan mereda. Ia ingin
segera bergegas ke sekolah karena sore ini ada kegiatan pendakian. Jilbab memang menjadi bagian terpenting dalam hidupnya,
namun kesenangannya terhadap hal yang berbau petualangan membuatnya tak mau
kalah axis.
Satu
jam berlalu, langit menampakkan senyumnya seiring berlalunya awan. Seusai
shalat ashar, Lili segera bersiap. Ia tenteng tasnya ke teras depan untuk
mempercepat sembari menunggu temannya yang berjanji akan mengantarkan ke
sekolah.
“Assalamu’alaikum.”
Sebuah motor berhenti tepat di depan rumah Lili, sosok wanita berjilbab panjang
keluar dari balik mantol.
“Wa’alaikumsalam,
sempat kehujanan ya? Langsung berangkat aja yuk mbak, takut nanti telat.” Jawab
Lili langsung menggendong tas ranselnya.
“Ya
begitulah nduk. Ya sudah yuk!” Senyumnya manis.
Motor
biru dengan dua orang gadis yang mengendarainya segera meluncur ketempat tujuan
dengan hati-hati. Jalanan yang cukup ramai dan beberapa tempat yang masih
tegenang air hujan membuat Mb’Nadya enggan mempercepat laju motornya.
Kring…
Kring… ponsel ditangan Lili tiba-tiba bergetar. Tanda sebuah sms mampir, ia lihat
layarnya. Tertulis nama Kak Reihan, hatinya ragu untuk membuka. Seminggu lalu,
ia harus bertengkar dengan kakak kelasnya ini kerena ia tak diijinkan mendaki
dengan berbagai alasan.
“Assalamu’alaikum.
Hari ini jadi ikut naik gunung kah ukh?”
Akhirnya ia buka sms tersebut, kalimatnya yang begitu sopan mampu meruntuhkan
hati Lili. Sekejap pikirannya melayang menjelajahi zona lamunan nan luas, tak
terbayangkan olehnya jika Reihan sampai mengetahui hal ini.
“Nduk, udah sampai.” Berulang kali Mbak
Nadya mengucap kalimat itu pada Lili yang masih terdiam.
“Astagfirullah,
maaf Mbak. Tadi sedikit mengantuk, hehehe…” jawabnya dengan sedikit berbohong.
Melihat
sikap Lili yang terlihat melamun, Mbak Nadya yang sedari tadi menemani Lili di perjalanan
menjadi ragu. Ia khawatir akan keselamatan Lili nantinya, ditambah teman-teman
yang membersamai Lili belum terlalu dikenalnya. perasaannya semakin cemas kala
mendengar bahwa peserta yang ikut pendakian malam ini mayoritas laki-laki.
“Kamu
yakin mau ikut kegiatan ini? Masih ada waktu lho kalau kamu berubah fikiran, mumpung Mbak juga masih stay di sini.” Canda Mbak Nadya kepada
Lili.
“Insya
Allah yakin Mbak,” jawab Lili mantap.
“Syukurlah,
ya sudah sana kumpul sama temen-temen.” Perintah mbak Nadya sambil mengelus
jilbab Lili.
Lili
berlalu berkumpul bersama teman-temannya, Mbak Nadya masih berdiri termangu.
Semilir angin menghempas jilbab birunya yang lembut, wajahnya menyimpan sejuta
rasa kegelisahan.
“Kenapa
hati ini masih ragu. Aku takut teman-temannya Lili yang sekarang dapat
memengaruhinya.” Gumamnya dalam hati
“Astagfirullah,
kenapa malah jadi berpikiran yang negative
gini sih. Aku yakin Lili sudah bisa menjaga dirinya sendiri.” Lanjutnya, lalu
pergi dengan sepeda motornya.
***
Sementara
itu, di depan masjid sekolah Reihan dengan cemas menanti balasan sms dari Lili,
berulang kali ia melihat layar hp nya. Ingin rasanya ia menelepon Lili, namun
ia tak mempunyai cukup keberanian untuk melakukan hal tersebut.
Obrolan-obrolan
ringan dengan temannya di masjid menjadi salah satu alternative untuk menunggu balasan sms dari Lili. Sembari berharap
kalaupun Lili akan lewat di depannya dan ia akan mencegatnya untuk berbicara
beberapa hal.
Jam
tangan yang bertenger di pergelangan tangan Reihan telah menunjuk ke angka enam
dan dua belas, itu artinya ia harus segera pergi untuk memenuhi janjinya
terhadap orang lain. Namun, kabar dari seorang adik yang ia nantikan sejak tadi
tak kunjung ia dapatkan.
“Hemb..aku
nggak tahu dik Lili jadi ikut atau nggak, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik
untuknya. kalaupun jadi, pasti dia sudah tahu apa yang baik dan buruk untuknya.
Semoga Allah slalu mengingatkannya dan semoga ia mampu membawa segudang hikmah
dari kegiatan ini. Amin.” Katanya dalam hati, lalu beranjak pergi meninggalkan
sekolah.
***
“Bagi
peserta dan panitia pendakian gunung harap segera merapatkan diri ke area
halaman depan sekolah karena truk yang kita nantikan telah datang.” Pengumuman
dari ketua panitia terdengar begitu lantang.
Setelah
semua barang dan peserta masuk, truk segera meluncur ke lokasi. Suasana
didalamnya riuh akan keramaian gelak tawa antar peserta. Namun hal itu tak
bertahan lama, beberapa menit kemudian suasana menjadi hening. Para remaja yang
mulai tumbuh dewasa itu rupanya ingin menyimpan tenaganya, mereka tertidur
pulas dalam truk yang tak begitu luas.
Lain
lagi dengan gadis disudut bangku truk masih memainkan phonsel mungilnya,
rupanya ia masih kepikiran dengan sms dari kakak kelasnya tadi sore. Sudah terlalu
jauh jika ia harus membatalkan ini semua, namun ia juga tak mau mengecewakan
kakak kelas yang sejak dulu ia hormati tersebut. Dengan tangan bergetar, ia
balas sms tersebut apa adanya.
“Wa’alaikumsalam.
Jadi.” Ia tekan tombol send.
Semenit..dua
menit. Sms balasan kembali menggetarkan benda kecil ditangan Lili,
“Berhati-hatilah!
Tetaplah menjaga sikap dalam bergaul, terutama dengan seorang laki-laki karena
seorang laki-laki mampu membuat seorang perempuan kalang kabut. Yang aku tahu,
kamu sudah mampu membedakan yang baik dan buruk.” Nasihat dari Reihan.
Tiga
jam berlalu, tiba-tiba truk tergoncang degan hebatnya. Sekejap membuat para
penumpang didalamnya terbangun, belum genap nyawa terkumpul. Tangan-tangan itu
mencari meraba apapun untuk mempertahankan diri. Untungnya tak ada korban
terjatuh dalam kejadian itu, mungkin hanya jalanan yang mulai rusak. Tak lama
setelah itu, truk berhenti.
“Ayo,
segera turun. Kita sudah sampai, kalian dikasih waktu sepuluh menit untuk
mempersiapka diri.” Kembali suara sang pemimpin acara bergema.
Malam
kian larut, angin malam semakin menggerogoti tulang-tulang kecil sang pencari
jejak. Harap-harap cemas Lili menanti pengumuman, ia ingin sekali mendapatkan
kelompok perjalanan yang pertama naik. Namun, hingga pembagian kelompok habis,
nama Lili tak jua disebutkan. Apakah panitia lupa ya kalau aku ikut, fikir
Lili.
“Lili,
kamu mendampingi kelompok satu.” Perintah ketua panitia.
Dengan
sumringah, Lili langsung mengiyakan perintah tersebut. Ia benahi lagi tasnya
supaya tak terasa terlalu berat, lalu ia benahi jilbabnya yang sedikit lusuh
karena tertidur di truk waktu perjalanan tadi.
Doa
bersama mengawali pendakian mereka, secara perlahan tapi pasti mereka
melangkah. Bersama dengan lima laki-laki dan seorang perempuan membuat Lili
slalu was-was, ia slalu mengingatkan bahwa yang harusnya memimpin didepan
adalah laki-laki dan yang menjadi tim penjaring di kelompok itu adalah
laki-laki.
Perjalanan begitu menyenangkan, canda tawa
sengaja mereka hadirkan untuk mengisi kesunyian. Saat letih menyerang, mereka
hentikan sejenak langkah kaki lalu mereka balikkan badan ke belakang. Gemerlap
lampu kota Nampak indah dipandang dari ketinggian, cahayanya mampu mengusir
penat di hati. Rasa syukur tak henti terucap dari hati-hati suci itu.
Setengah
perjalanan telah ditempuh, angin semakin kencang memamerkan keelokan pesonanya.
Ia menghampas semua yang ada dihadapannya, hingga ketujuh pendaki pertama itu
harus melakukan perhentian perjalanan.
“Kita
harus berhenti dulu, anginnya terlalu kencang. Ayo kita menepi!” perintah
Candra sang ketua rombongan dengan tegas, lalu bergegas menepi dibalik tebing
yang tak terlalu tinggi.
“Jam
sudah menunjuk ke angka dua belas lebih empat puluh lima, kalau kita tidak
segera naik. Kita tak punya waktu untuk istirahat nanti.” Jawab Dimas dengan
berteriak, suaranya terbawa oleh angin.
Entah
apa yang ada difikiran Dimas malam itu, ia nekat melangkahkan kaki memijak
tangga alami gunung satu persatu meninggalkan rombongan yang lain. Langkahanya
begitu berat, angin berulangkali menghempas tubuhnya yang tak berdaging.
“Dimas,
jangan memaksakan diri. Berhentilah dulu, setidaknya sampai angin ini mereda.”
Ucap Lili yang sedikit khawatir dengan aksi nekat Dimas.
Belum
lama bibir itu terdiam, tiba-tiba teriakan Dimas mengejutkan teman-teman
rombongan yang masih ada dibawah. Setengah berlari mereka menyusul Dimas,
berharap tak ada sesuatu yang terjadi pada temannya tersebut.
“Astagfirullah,
Dimas!” teriak Lili melihat Dimas jatuh tersungkur. Tubuhnya tak mampu menahan
terjangan angin.
“Gimana
ini Li? Ada luka robek besar di tangannya. Kamu harus menolongnya! ” Ucap
Candra bergegas mendekati Dimas.
“Aku
nggak bisa melakukannya, kenapa harus aku? Kalian sudah diajari cara survival kan?” jawab Lili kebingungan.
“Kamu
jangan egois Li! Kita memang sudah
diajari untuk survival, tapi diantara
kita semua yang paham dengan perawatan kayak gini kan kamu.” Jawab Candra
dengan muka memerah, ia berusaha mengangkat tangan Candra agar pendarahan yang
terjadi tidak terlalu banyak.
“Tetaplah
menjaga sikap dalam bergaul, terutama dengan seorang laki-laki karena seorang
laki-laki mampu membuat seorang perempuan kalang kabut” memorinya melayang,
nasihat itu mampu membuatnya termenung.
Ia
hanya berdiri terdiam, kodratnya sebagai seorang wanita muslimah di era
globalisasi ini menuntutnya untuk selalu menjaga sikapnya terhadap laki-laki
yang bukan makhram baginya. Namun disisi lain, ada seorang teman yang sangat
membutuhkan bantuannya sekarang. Ini pilihan yang sulit baginya.
“Li!”
teriak Candra kepada Lili.
Gadis
berjubah panjang itu langsung tersadar dari lamunannya, ia turunka tas
ranselnya lalu ia keluarkan sebagian isinya dengan segera. Wajahnya terlihat
pucat, tangannya berkelana membongkar tasnya yang terlihat penuh. Kemanakah
kotak kecil itu? Fikirnya.
“Alhamdulillah
ketemu,” senyumnya sumringah, kotak kecil p3k yang ia bawa ternyata terletak
dibawah sendiri. Ia buka kotak tak berwarna itu, lalu ia ambil sehelai benang
dan jarum.
“Sini
biar aku tangani, kamu pegang jarum dan benang ini. Panggil satu teman lagi
untuk membantu…” perintah Lili. ia berusaha menginstruksi Candra untuk menolong
Dimas, hanya ini cara satu-satunya agar Dimas selamat tanpa membuatnya
melanggar peritahNya.
“Sis,
segera ambil kompor di tasku. Aku takut anak satu ini tak bisa bertahan,
tubuhnya menggigil.” Ucap Candra pada Siska.
Tak
menunggu waktu lama, Siska segera melaksanakan instruksi. Namun nasib berkata
lain, angina semakin kencang menerjang. Kehangatan tak kunjung didapat, api
sulit untuk dihidupkan.
“Apinya
tak mau hidup, angin terlalu kencang.” Teriak Siska, suaranya sedikit terbawa
angina.
“Jangan
panic!” Perintah Lili, lalu ia
menghampiri Siska.
Candra
melepas jaket tebalnya lalu menyelimutkan pada Dimas, terlihat tangannya
bergerak. Dimas sadar, namun ia tetap menggigil dan terlihat masih sangat
pucat. Sedangkan Lili mengkoordinasikan rombongannya untuk merapatkan diri agar
api tak terjamah oleh angin liar malam itu.
“Apinya
sudah menyala, bawa Dimas kemari!” ucap salah seorang teman.
Sedikit
tertatih Candra menuntut Dimas, badannya begitu lemas tak berdaya. Ia bawa
tubuh Dimas mendekati segenggam cahaya panas, ia atur jaraknya supaya tak
membakarnya. Kehangatan mulai membawa Dimas pada sebuah dunia yang selama ini
ia jalani, perlahan ia mulai membuka matanya.
“Maafkan
aku teman-teman.” Ucap Dimas dengan penuh penyesalan, mukanya tertunduk malu.
“Makanya
lain kali nggak usah sok jagoan, bikin orang susah aja.” Celoteh Lili dengan
rasa kesal.
“Habis
kalian lama.” Jawab Dimas dengan entengnya.
“Dasar
egois.” Kali ini emosi Lili sedikit tidak terkendali, perasaan khawatir masih
menyelimutinya.
“Sudah..Sudah!
jangan bertengkar disini, lima menit lagi kita harus bersiap untuk turun!” Ucap
Candra yang cukup mencengangkan.
Bagai
dihantam badai gunung yang begitu dahsyat, Lili terhenyak. Hatinya jatuh dalam
jurang ketidak percayaan, menerima harus kalah sebelum perang usai adalah
sebuah pekikkan keji baginya. Namun jika harus diteruskan akan sulit, dan jika
memang mengalah adalah satu-satunya jalan menuju pintu kebaikan maka ikhlas akan
mempermudah dalam menjangkaunya.
“Kau
ini berfikir apa Can? Apa gara-gara aku, kita nggak jadi naik? Lihat dong! Detik
berlalu, sakitku pun berlalu.” Tepis Dimas.
“Aku
takut kamu nggak kuat nanti, jangan menutupi keadaan yang sebenarnya deh Dim.”
Lirik Candra pada temannya yang punya nyali nekat tersebut.
“Takut
nanti aku nggak kuat apa takut nanti tak repotin dijalan?” candanya pada
Candra.
“Oke-oke,
kita tetap naik.” Jawabnya dengan sedikit kesal, mukaya merah padam.
Semua
tertawa riang melihat tingkah laku Candra dan Dimas, terselip rasa lega melihat
Dimas yang terlihat membaik. Perjalanan dilanjutkan, tak berjalan bersama namun
melangkah bersama. Dalam hati, Lili mengucap puji syukur yang begitu dalam
pasalnya keinginan yang sejak lama ia nantikan tak jadi tertunda.
SATU…DUA..TIGA….
“DUNIA,
LIHATLAH AKU! AKULAH AL-FATIH DI ZAMAN GLOBALISASI….” Teriak Candra setelah
empat jam mendaki.
“Alhamdulillah,
Engkau masih memberiku kesempatan dan kekuatan sehingga ku mampu melihat
ciptaanMu yang lain dari sisi yang baru.” Ucap lili dalam
hati, malu rasanya jika harus berteriak meniru gaya Candra.











