Keyakinan di atas Harapan
-Bintun
Nahl-
“Aku
sesuai prasangka hamba-Ku”. Sebuah kutipan romantis yang tak
pernah terbasikan oleh zaman, di dalamnya terkandung banyak pembelajaran. Bahwa
dari yang kita fikirkan tumbuhlah doa-doa yang akan mengguyur nasib kita dikemudian
hari. Jika yang slalu terfikirkan hal-hal yang baik maka imbasnya akan baik,
begitupun sebaliknya. Aku buka tulisan ini dengan kalimat penuh cinta dari yang
tercinta, agar kita tak lupa dengan Sang Maha Pemilik Cinta. Begitu mudahnya Ia
membolak-balikkan hati dan begitu sederhananya Dia dalam mengajarkan sebuah
nilai kedisiplinan fikir.
Beberapa tahun yang
lalu seorang pencari ilmu bernama Masaru Emoto melakukan riset pada strukture
air. Dua gelas air dijadikannya sampel penelitian dengan perlakuan yang
berbeda. Segelas air ia letakkan pada sebuah ruangan khusus, diberinya
kalimat-kalimat positif pada air tersebut dengan suara yang halus nan santun.
Segelas yang lain juga ia ajak berbincang namun bincang yang ia berikan berbeda,
kalimatnya kotor, suaranya keras dan kasar. Berhari-hari orang tersebut
melakukan itu, ah bahkan sampai
berminggu-minggu. Dihari terakhir, kedua sampel air itu dibekukan dan dilihat
strukturnya di bawah mikroskop canggih. Air-air itu ia ambil dari sumber yang
sama. Namun bentuk akhir keduanya sangatlah bertolak belakang, segelas air yang
diberikan kalimat positif setiap pagi memiliki Kristal yang cantik sedang
segelas yang lain hancur tak berbentuk.
Dari riset Pak Masaru
kita dapat belajar mendisiplinkan sebuah ucapan, begitu mudahnya struktur air
itu berubah hanya dengan sebait kalimat yang diterima setiap pagi. Padahal 70%
manusia tersusun dari air, sedikit terpeleset kita dalam berucap rusaklah
struktur air yang kita miliki. ucapan yang dimaksud disini tak hanya yang bisa
didengar oleh telinga dan keluar dari mulut, tapi berfikir juga menjadi bagian
dari ucapan yang terbisukan oleh ruang.
Inilah modal utama yang
harus diketahui oleh seorang pemimpi, kedisiplinan berfikir yang menumbuhkan
keyakinan. Setelah harapan-harapan itu
kau tuangkan dalam agenda masa depanmu, maka kau harus yakin bahwa tubuhmu
mampu merealisasikan angan tersebut. Karena mimpi yang baik adalah mimpi yang
terwujud, dan ikhtiar pertama kita dalam mewujudkan mimpi tersebut adalah
yakin. Ketika keyakinan itu telah digenggam maka ikhtiar-ikhtiar lain akan
berjalan beriringan, namun jika kau merasa masih disitu-situ saja berarti kau
belum mampu menggenggam keyakinanmu sendiri.
Bung, jika keyakinan
itu telah bersamamu maka jangan hanya memimpikan hal-hal kecil! Bermimpilah
seperti Al-Fatih sang penakhluk konstantine, mimpinya bertumbuh dari sebuah
keyakinan. Keyakinan bahwa dirinyalah yang diramalkan Rasul sebagai penakhluk
kota terkuat pada zamannya tersebut. Mimpinya besar, keyakinan yang ia miliki
besar, dan ikhtiar mendekatkan diri pada Sang Pemilik Skenario terbaik juga
tidak tanggung-tanggung.
“Aku
sesuai prasangka hamba-Ku”. Tak peduli sebesar dan setinggi
apapun mimpimu, jangan pernah mundur dalam berjalan ke arahnya selama keyakinan
itu masih bersamamu. Sekalipun peluang itu datangnya mungkin hanya sekali dan celah
pencapaiannya begitu kecil, ingatlah bahwa kamu memiliki Dzat yang Maha
Berkuasa. Berfikirlah menang dan berproseslah layaknya seorang pemenang, maka
dengan Kun Fayakun-Nya kemenangan itu
akan kau dapatkan.
Sekali lagi akan
sedikit aku bongkar tentang penakhluk kota Istanbul. Sekelumit proses telah ia
lalui bersama dengan pasukannya untuk menakhlukkan Sang Byzantium (re :
Konstantinopel), ah bahkan mereka tak
hanya sekedar pasukan Al-Fatih tapi gelar tentara Allah pun pantas mereka
kenakan. Awal kepemimpinan Sultan Mehmed II dibangunlah sebuah benteng baru
bernama Beyazid sebagai salah satu strategi penakhlukannya, beliau juga membuat
berbagai meriam untuk menghancurkan tembok besar yang mengelilingi
Konstantinopel. Tapi sayang, api yunani itu tetap saja menjadi kota dengan
pertahanan paling bagus. Sedikit saja tembok mereka berlubang maka sesegera
mungkin ditambal hingga kembali seperti sedia kala. Melelahkan bukan? Tidak!
Bahkan keyakinan Al-Fatih dan tentaranya untuk menang telah membutakan mata dan
fikirannya, keyakinan itu menendang jauh-jauh rasa lelah yang ada.
Sekali lagi aku
perjelas bahwa kota itu adalah kota dengan pertahanan paling bagus, jalur darat
untuk memasuki kota tersebut dibangun tembok yang sangat panjang dan kuat. Sedang
jalur lautnya dipasang rantai-rantai berukuran raksasa untuk mempertahankan
keutuhan kota. Ada sedikit celah yang tak begitu ketat penjagaannya yaitu Selat
Bosporus, tak terlalu lama berfikir namun juga tak seenaknya sang sultan
menyeberangkan 70 kapal besar melewati selat tersebut. Sebagai bentuk ikhtiar
dan pembuktian keyakinannya. Kapal-kapal besar itu menyeberangi sebuah daratan yang
tak datar, mungkinkah? Inilah keyakinan yang berhasil mereka tanamkan dalam
hati, keyakinan yang merenggut segala ketidakmungkinan. Karena di dalam
keyakinan mereka terdapat Allah yang menjadikan segala bentuk ketidakmungkinan
menjadi mungkin, yang menjadikan segala ketidakpastian menjadi pasti. Dalam kurun
waktu tak kurang dari satu malam, kapal-kapal itu berhasil diseberangkan.
Hingga pada tanggal 29
Mei 1453 sejarah itu berhasil terukir dengan indahnya, kota yang dianggap penting
karena memiliki wilayah paling strategis tersebut berhasil takluk. Penakluknya adalah
pemimpin dan pasukan terbaik. Disitulah nama Al-Fatih terukir sebagai pemimpin
terbaik sekaligus pemimpi terbaik yang mimpinya dikenang selama berabad-abad
lamanya.
Itulah sepenggal kisah
tentang keyakinan diatas harapan, tentang bagaimana berkomunikasi dengan baik
terhadap diri sendiri dan bagaimana menyuntikkan kalimat-kalimat positif pada
air-air ini. ketika Allah berfirman bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya, maka
pandai-pandai lah kita dalam melobby agar skenario yang awaknya biasa saja
menjadi skenario yang luar biasa. Intensitas bincang dengan-Nya harus
ditingkatkan agar mimpi ini tak sekedar menjadi buaian belaka, supaya keyakinan
ini semakin nyata adanya.










