Flickr Images

Saturday, August 29, 2015

Puding



PUDING
Oleh : Bintun Nahl
Langit  menampakkan keceriaan wajahnya yang menawan, kemilau biru memancar di pelataran ruangnya dan secercah helaian putih menghiasi di setiap sisinya. Hiruk piluk keramaian di sebuah kota metropolitan, asap yang mengepul bercampur baur dengan udara bebas terhirup masuk ke tenggorokkan lalu berputar sejenak dalam alveolus.
            SD Rantanilaga, sekolah dasar tersohor di kotanya. Ia terletak di bukit pinggiran kota, gedung berstandar internasional ini bertetanggakan rerimbunan pohon besar dan ilalang. Jalan setapak menjadi alternatif utama untuk menuju sekolah tersebut karena tak ada satupun kendaraan bermotor yang diizinkan melintas karena akan merusak keasrian hutan yang memang belum pernah tersentuh tangan-tangan jahat para pengusik.
            “Kita harus mengajarkan kepada anak-anak itu suatu jerih payah dalam menggapai mimpi yang berwibawa, kecerdasan harus diimbangi dengan kesopanan dan juga kemandirian. Makanya sekolah ini dibangun di atas lahan yang jauh dari perkotaan, di sini tak seperti di kota yang apa-apa serba instan. Tapi di tanah ini, serba-serbi yang instan akan tersingkir dengan sendirinya dan apa-apa yang ingin dicapai harus diperjuangkan sendiri walaupun itu hanya sebutir gandum.” Petuah itu selalu keluar dari bibir Pak Subandi, kepala sekolah yang 25 tahun lalu menjadi saksi dibangunnya sekolah terlaris ini. Usianya yang sudah sepuh tak membuatnya lelah untuk tetap menjaga pencitraan sekolah tersebut.
            “Hahaha,. Ayo Bunga kejar aku sampai dapat. Masa gitu aja kamu sudah nggak kuat.” Terdengar jerit tawa bocah-bocah kecil yang tengah asyik menikmati waktu istirahatnya. Sejumlah permainan tradisional dimainkan berkelompok, beberapa anak juga ada yang sedang menyantap bekal makannya sembari mengobrol dengan kawan-kawan di sampingnya.
            Kriiiiiiiing….suara yang tak asing lagi bagi semua warga sekolah, tiga puluh menit telah usai. Semua kembali ke bangkunya masing-masing untuk menerima materi dari sang guru yang keberadaannya sangat dihormati.
            “Pulang sekolah nanti mampir ke asramaku ya, aku kemarin habis memetik buah di kebun belakang,” bisik Marsya pada teman sebangkunya.
            Udah? Cuma itu?” Tanya Bunga sambil terkekeh.
            “Lalu, apa lagi? Bukankah aku telah berniat baik?” Marsya sedikit geram, namun ada sesuatu yang tertahan dalam ekspresinya.
            Satu…dua…tiga
            Hahahahaha..” keduanya tertawa lepas, sepasang mata yang saling beradu dengan yang lain seakan sedang memperbincangkan sesuatu hal yang sama.
            Zzzzztt…Marsya, Bunga jangan berisik!” tegur teman-temannya setengah berbisik agar tak mengganggu yang lain.
            Lima tahun sudah Marsya bersekolah di SD Rantanilaga. Bukan hal mudah untuk beradaptasi dengan sebuah lingkungan yang masih baru dan belum pernah terbayang dalam benaknya tentang sekolah yang akan ia jadikan jembatan mencari ilmu. Waktu itu adalah masa-masa paling sulit dalam dirinya. Di usianya yang baru menginjak umur 6 tahun ia harus tinggal di suatu asrama yang terletak tepat di belakang sekolah, bahkan tangannya pun masih terlalu kecil untuk mengurusi dirinya sendiri.
            “Ma, jemput Syasa. Di sini nggak enak, nggak ada TV, nggak ada daging, dan nggak ada kendaraan kecuali kuda.” Rengek Marsya saat duduk di kelas 2 sekolah dasar. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuknya beradaptasi dengan lingkungan yang kini tak bisa dikatakan baru lagi.
            “Semua akan baik-baik saja Nak, Mama akan menjemputmu. Tenangkanlah hatimu, jangan khawatir.” Ujar sang ibu sembari menenangkan putrinya.
            “Sungguh? Kapan Ma?” tanya Marsya dengan penuh antusias.
            “Kalau kamu udah lulus,” jawab mama singkat lalu tiba-tiba telepon genggam itu terputus. Beberapa sinyal mulai menghilang.
            “Ma…Mama…Halo!” Wajahnya nampak  panik, tangannya ia arahkan ke atas mega yang sedikit gelap kala itu.
            Enough! Waktu menelepon habis, kembalilah ke asramamu!” Petugas asrama mengambil telepon genggamnya dengan segera.
            “Baiklah, Bu,” jawab Marsya lesu. Ia balikkan badan lalu melangkah penuh kebimbangan menuju tempat persinggahannya. Terlihat jelas di samping kanan-kiri ia berjalan banyak sekali teman-teman yang tengah asyik menikmati waktu liburan mereka, hanya seorang diri ia menghadapi kesendiriannya. Bukan karena tak mampu berteman, namun itu adalah salah satu wujud protesnya pada kedua orang tua agar segera dipindahkan ke sekolah lain.
            “Permisi, mau numpang tanya. Kamar asrama nomor 121 dimana ya?” Seorang gadis menghampirinya, nampakknya mereka terlahir dalam selang waktu yang tak terlampau jauh jaraknya.
            “Itu kan dekat kamarku. Tapi kalau aku jawab, nanti aksi protesku selama ini sia-sia dong. Hembcuekin aja lah,” bisiknya dalam hati, pandangan matanya nampak kosong.
            HALLO, MBAK DENGAR SAYA KAN ???” Ia lambaikan tangannya di depan wajah seorang gadis di depannya, suaranya sedikit ia keraskan.
            Tanpa memedulikan yang sedang bertanya, Marsya kembali melenggangkan kakinya. Kali ini ia tambahkan kecepatan berjalannya, hampir berlari. Masih dengan nafas terputus-putus ia sandarkan tubuhnya di depan pintu kamarnya, belum juga detak jantungnya mereda.
            Hay..” seorang gadis muncul di balik pintu.
            Deg.” Wajahnya terlihat memucat. “Bukankah orang ini sudah ku tinggalkan ya tadi, bahkan lariku pun sudah cukup kencang.”
            “Jadi, dimana kamar 121?” tanyanya masih dengan kebimbangan karena belum juga menemukan apa yang sejak tadi ia cari.
            Tanpa berpikir lebih jauh lagi, Marsya membuka pintu kamarnya lalu masuk dengan segera. Meninggalkan gadis seumuran dengannya itu seorang diri di luar. Mungkin dengan begini dia akan pergi atau mungkin dia menunggu sampai aku keluar lagi. Ia menutup matanya sejenak, untuk merenungkan semua yang telah terjadi hari ini. Waktu terlalu lama untuk dilalui hari ini.
            Tok..Tok..Tok..” suara itu membuat Marsya cukup terkejut, tak biasanya jam segini ada yang bertamu di kamarnya. Bahkan selama ini tak ada teman atau siapapun yang berkunjung ke kamarnya kecuali Mbok Min, tukang masak yang selalu mengantarkan makanan.
            Kreek,” suara pintu sedikit demi sedikit terbuka. Irama jantung yang tersembunyi kini semakin menggema tak beraturan.
            Hai, ingin puding?” sambil menyodorkan sepiring pudding cokelat dengan lelehan vla vanilla diatasnya.
            “Gadis itu lagi?” pandangnya penuh keheranan.
            Tapi pudingnya sepertinya lezat.” Selincah cahaya melewati partikel-partikel kecil di udara, ia raih puding coklat itu. Matanya melirik bangku kecil di depan teras asrama lalu menghampirinya. Suapan pertama ia nikmati dengan penuh perlahan, es krim lembut yang tersembunyi di dalamnya membuat lidahnya ikut meleleh.
            “Namaku Bunga, aku murid baru di sini. Terima kasih ya kamu mau nganterin aku ke kamarku, ternyata kita tetanggaan ya.” Bunga memulai untuk membuka percakapan.
            Hemmmmm, lezat sekali” Marsya tak menghiraukan pertanyaan Bunga.
            “Terima kasih, itu buatan ibuku. Nama kamu siapa?” tanya Bunga. Ia condongkan kepalanya agak ke bawah agar bisa melihat dengan jelas wajah teman barunya tersebut.
            Nih, udah selesai. Makasih ya.” Tangannya menyodorkan piring kosong dan sendok plastik ke hadapan Bunga, lalu ia pergi begitu saja.
            Yang ditinggal cuma diam saja tanpa sebuah respon yang berarti, yang terlihat hanyalah sebuah gelengan kecil diikuti senyuman sumringah.
            Liburan masih menghiasai tawa ceria malaikat-malaikat kecil itu, memahami lebih dalam lagi arti pertemanan sambil bermain mungkin itu adalah cara mereka untuk menghiasi ruang-ruang liburan ini. Suasana berbeda terlihat dari deretan asrama kelas dua, kali ini Marsya yang berperan melakukan adegan menangis di sana.
            “Tadi malam aku membuat sesuatu untukmu, nih.” Bunga mendekat sambil menyodorkan sesuatu.
            “Lagi dan lagi, itu terlihat menggiurkan. Dia mencoba mendekatiku, menyuapku dengan hal kayak gitu. Oke lah” batin Marsya. Ia amati puding buah di hadapannya lalu ia santap perlahan demi perlahan.
            Kenapa kamu menangis?” lekat-lekat ia memandang wajah Marsya yang terlihat sendu tapi tak menunjukkan adanya bulir air mata.
            “Aku nggak menangis, lihat nih nggak ada air mata.” Marsya menunjukkan wajahnya agar dapat terlihat lebih jelas lagi.
            “Kamu bohong, sini pudingnya. Puding ini nggak mau dimakan sama orang yang nggak jujur.” Kali ini Bunga mengambil kembali puding itu. Rupanya ia sedikit kesal karena sejak kemarin belum juga berhasil berkenalan dengan sosok manusia yang kini berhadapan dengannya.
            Argh…Baiklah.” Jawabnya singkat sambil mengambil kembali apa yang telah menjadi haknya.
            “Namaku Marsya, lengkapnya Mona Nona Marysa.” Akhirnya berhasil juga Bunga mendapatkan jawaban atas pertanyaannya selama ini.
            “Nona?” alisnya terlihat terangkat dari lukisan asalnya.
            “Setidaknya aku sudah menjawab pertanyaanmu.” Jawabnya cuek.
            “Lalu?” ingin rasanya ia mendapatkan jawaban lebih dari teman mengobrolnya tersebut.
            “Apa lagi?” ia hentikan perjalanan sesendok pudding yang akan memasuki lorong gelapnya.
            “Kamu kelas berapa?” Bunga tanyakan hal itu, walaupun dilihat dari deret letak asrama ia sudah tahu berada dimana level Marsya sekarang.
            “Dua.” Marsya mainkan sendok di tangannya.
            Me too, sejak kapan kamu tinggal disini?” lebih banyak lagi Bunga bertanya.
            “Sejak aku sekolah di sini.” Sejenak ia menatap gadis itu lalu mengalihkan pandangannya.
            Wahhh..Seru sekali pasti. Punya banyak teman, udaranya sejuk, gurunya ramah-tamah dan kemarin aku lihat banyak kupu-kupu di sekitar asrama ini.” Jelentrehnya seakan ia sudah lama tinggal dan mengenal sekolahan itu.
            “Seperti di neraka.” Jawab Marsya ketus setelah terhipnotis dengan diagnosis Bunga yang terlalu berlebihan.
            Owh iya aku masih punya beberapa puding di kamarku, mau main kesana? Mungkin kapan-kapan kalau sempat.” Jawab Bunga, ia coba mengalihkan pembicaraan. Percakapan itu terlalu beku untuk diteruskan.
            Kenapa?” kali ini ia benar-benar menatap Bunga dengat serius.
            Bunga memicingkan mata.
            Kenapa kamu mau mendekatiku? Maksudku, puding ini.” Marysa tunjukkan kembali pudding yang baru beberapa menit lalu ia dapatkan.
            “Bahkan kemarin aku meninggalkanmu. Aku juga tak menjawab pertanyaanmu setelah kemarin Kau berikan semua ini padaku,” Lanjutnya.
            “Kemarin?” ia berusaha mengembalikan beberapa kegiatan yang baru saja ia sebrangi.
            “Aku pikir kamu itu unik. Kemarin aku bertanya rute menuju kamarku. Diammu kemarin membuatku bingung, tapi selanjutnya aku mengerti ternyata kamu sangat baik hati ingin langsung mengantarkan aku ke kamarku.” Senyumnya mengembang bagai balon yang habis terisi udara.
            Duh..” Marsya menepuk jidat.
            “Aku masih punya sesuatu untukmu. Nih...” sebuah gelang berwarna biru berhiaskan bunga pink kecil disekelilingnya.
            “Buat?” tanya Marsya. Sedikit lagi puding di mulutnya akan segera habis, itu tandanya ia akan memulai tradisi untuk meninggalkan teman ngobrolnya. Sesegera mungkin tentunya.
            “Ini tanda pertemanan kita, aku juga punya.” Menunjukkan gelang yang serupa yang telah melekat pada pergelangan tangannya.
            “Sejak kapan kita berteman? Aku kan belum menyetujui semua itu.” Ia tudingkan sendok garpu persis didepan wajah Bunga.
            “Sejak gelang ini nangkring di tanganmu. Tanganmu kecil juga ya,” jawab Bunga sambil memakaikan gelang lucu itu ditangan Marsya.
            “Aku tak pernah punya teman sebelumnya, Aku juga nggak tahu bagaimana caranya memerlakukan seorang teman dengan baik.” Marsya memandangi gelang biru itu sambil memutar-mutar pergelangan tangannya.
            “kenapa kamu nggak mencoba berteman saja dengan mereka-mereka?” Bunga menunjuk ke sekumpulan anak kelas 2 yang sedang bermain.
            “Kalau aku berteman dengan mereka itu artinya aku gagal dalam melakukan unjuk rasa pada Ibuku.” Jawabnya dengan wajah cemberut.
            “Unjuk rasa?” Bunga mulai bingung.
            “Aku nggak suka sekolah disini. Terpelosok, menyeramkan, pokoknya nggak enak. Makanya Aku melakukan unjuk rasa biar aku dipulangkan atau seenggaknya aku dijemput lah sama orang tuaku.”
            “Kamu nggak betah karena kamu nggak punya teman, kamu nggak punya teman karena kamu nggak mau mencoba berteman dengan siapapun. Jadi rumus untuk memeroleh kenyamanan di sekolah ini adalah kamu harus punya teman. Ya kayak Aku gini.” Jelasnya.
            “Baiklah aku akan mencoba.” Jawabnya sedikit bimbang.
            Sedikit sulit untuk memahami dan menerima perubahan-perubahan ini pada diri Marysa, semua serba muncul secara mendadak. Namun kalau Dia menunggu sampai unjuk rasanya diterima ini akan memakan sedikit waktu dan ini nggak membuat dirinya lebih nyaman.
***
            “Lalu bagaimana dengan hidangannya M-O-N-A--N-O-N-A--M-A-R-S-Y-A?” Tanya Bunga sambil sedikit mengeja nama teman di hadapannya tersebut.
            “Mona Nona Marsya tidak menyukai hidangan ini, bahkan ini bukan buah yang tadi kamu janjikan di kelas,” jawab Marysa sambil terus melahap makanan di hadapannya.
            “Itu buah Nona, sedikit ada gubahan sih. Bahkan rasanya tak jauh berbeda dengan aslinya,” jawab Bunga sambil menyerobot sesendok puding yang mau masuk ke mulut Marsya.
            Hahahaha..Alhamdulillah.” Keduanya terkekeh.

END……
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Us

BTemplates.com

Labels