PUDING
Oleh : Bintun Nahl
Langit menampakkan keceriaan wajahnya yang menawan,
kemilau biru memancar di pelataran ruangnya dan secercah helaian putih
menghiasi di setiap sisinya. Hiruk piluk
keramaian di sebuah kota metropolitan, asap yang mengepul bercampur baur dengan
udara bebas terhirup masuk ke tenggorokkan lalu berputar sejenak dalam
alveolus.
SD Rantanilaga, sekolah dasar
tersohor di kotanya. Ia terletak di bukit pinggiran kota, gedung berstandar
internasional ini bertetanggakan rerimbunan pohon besar dan ilalang. Jalan
setapak menjadi alternatif utama untuk menuju sekolah tersebut karena tak ada
satupun kendaraan bermotor yang diizinkan melintas karena akan merusak keasrian
hutan yang memang belum pernah tersentuh tangan-tangan jahat para pengusik.
“Kita harus mengajarkan kepada
anak-anak itu suatu jerih payah dalam menggapai mimpi yang berwibawa,
kecerdasan harus diimbangi dengan kesopanan dan juga kemandirian. Makanya
sekolah ini dibangun di atas lahan yang jauh dari perkotaan, di sini tak
seperti di kota yang apa-apa serba instan. Tapi di tanah ini, serba-serbi yang
instan akan tersingkir dengan sendirinya dan apa-apa yang ingin dicapai harus diperjuangkan
sendiri walaupun itu hanya sebutir gandum.” Petuah itu selalu keluar dari bibir
Pak Subandi, kepala sekolah yang 25 tahun lalu menjadi saksi dibangunnya
sekolah terlaris ini. Usianya yang sudah sepuh tak membuatnya lelah untuk tetap
menjaga pencitraan sekolah tersebut.
“Hahaha,. Ayo Bunga kejar aku sampai
dapat. Masa gitu aja kamu sudah nggak kuat.”
Terdengar jerit tawa bocah-bocah kecil yang tengah asyik menikmati waktu
istirahatnya. Sejumlah permainan tradisional dimainkan berkelompok, beberapa
anak juga ada yang sedang menyantap bekal makannya sembari mengobrol dengan
kawan-kawan di sampingnya.
Kriiiiiiiing….suara
yang tak asing lagi bagi semua warga sekolah, tiga puluh menit telah usai.
Semua kembali ke bangkunya masing-masing untuk menerima materi dari sang guru
yang keberadaannya sangat dihormati.
“Pulang sekolah nanti mampir ke
asramaku ya, aku kemarin habis memetik buah di kebun belakang,” bisik Marsya
pada teman sebangkunya.
“Udah?
Cuma itu?” Tanya Bunga sambil terkekeh.
“Lalu, apa lagi? Bukankah aku telah
berniat baik?” Marsya sedikit geram, namun ada sesuatu yang tertahan dalam
ekspresinya.
Satu…dua…tiga
“Hahahahaha..”
keduanya tertawa lepas, sepasang mata yang saling beradu dengan yang lain
seakan sedang memperbincangkan sesuatu hal yang sama.
“Zzzzztt…Marsya,
Bunga jangan berisik!” tegur teman-temannya setengah berbisik agar tak
mengganggu yang lain.
Lima tahun sudah Marsya bersekolah
di SD Rantanilaga. Bukan hal mudah untuk beradaptasi dengan sebuah lingkungan
yang masih baru dan belum pernah terbayang dalam benaknya tentang sekolah yang
akan ia jadikan jembatan mencari ilmu. Waktu itu adalah masa-masa paling sulit
dalam dirinya. Di usianya yang baru menginjak umur 6 tahun ia harus tinggal di suatu
asrama yang terletak tepat di belakang sekolah, bahkan tangannya pun masih
terlalu kecil untuk mengurusi dirinya sendiri.
“Ma, jemput Syasa. Di sini nggak enak, nggak ada TV, nggak ada
daging, dan nggak ada kendaraan
kecuali kuda.” Rengek Marsya saat duduk di kelas 2 sekolah dasar. Dua tahun
bukanlah waktu yang sebentar untuknya beradaptasi dengan lingkungan yang kini
tak bisa dikatakan baru lagi.
“Semua akan baik-baik saja Nak, Mama
akan menjemputmu. Tenangkanlah hatimu, jangan khawatir.” Ujar sang ibu sembari
menenangkan putrinya.
“Sungguh? Kapan Ma?” tanya Marsya
dengan penuh antusias.
“Kalau kamu udah lulus,” jawab mama singkat lalu tiba-tiba telepon genggam itu
terputus. Beberapa sinyal mulai menghilang.
“Ma…Mama…Halo!” Wajahnya nampak panik, tangannya ia arahkan ke atas mega yang
sedikit gelap kala itu.
“Enough!
Waktu menelepon habis, kembalilah ke asramamu!” Petugas asrama mengambil
telepon genggamnya dengan segera.
“Baiklah, Bu,” jawab Marsya lesu. Ia
balikkan badan lalu melangkah penuh
kebimbangan menuju tempat persinggahannya. Terlihat jelas di samping kanan-kiri
ia berjalan banyak sekali teman-teman yang tengah asyik menikmati waktu liburan
mereka, hanya seorang diri ia menghadapi kesendiriannya. Bukan karena tak mampu
berteman, namun itu adalah salah satu wujud protesnya pada kedua orang tua agar
segera dipindahkan ke sekolah lain.
“Permisi, mau numpang tanya. Kamar asrama nomor 121 dimana ya?” Seorang gadis
menghampirinya, nampakknya mereka terlahir dalam selang waktu yang tak
terlampau jauh jaraknya.
“Itu kan dekat kamarku. Tapi
kalau aku jawab, nanti aksi protesku selama ini sia-sia dong. Hemb…cuekin
aja lah,” bisiknya dalam hati, pandangan matanya nampak kosong.
“HALLO,
MBAK DENGAR SAYA KAN ???” Ia
lambaikan tangannya di depan wajah seorang gadis di depannya, suaranya sedikit
ia keraskan.
Tanpa memedulikan yang sedang
bertanya, Marsya kembali melenggangkan kakinya. Kali ini ia tambahkan kecepatan
berjalannya, hampir berlari. Masih dengan nafas terputus-putus ia sandarkan
tubuhnya di depan pintu kamarnya, belum juga detak jantungnya mereda.
“Hay..”
seorang gadis muncul di balik pintu.
“Deg.”
Wajahnya terlihat memucat. “Bukankah orang ini sudah ku tinggalkan ya tadi,
bahkan lariku pun sudah cukup kencang.”
“Jadi, dimana kamar 121?” tanyanya
masih dengan kebimbangan karena belum juga menemukan apa yang sejak tadi ia
cari.
Tanpa berpikir lebih jauh lagi,
Marsya membuka pintu kamarnya lalu masuk dengan segera. Meninggalkan gadis
seumuran dengannya itu seorang diri di luar. Mungkin dengan begini dia akan
pergi atau mungkin dia menunggu sampai aku keluar lagi. Ia menutup matanya
sejenak, untuk merenungkan semua yang telah terjadi hari ini. Waktu terlalu
lama untuk dilalui hari ini.
“Tok..Tok..Tok..”
suara itu membuat Marsya cukup terkejut, tak biasanya jam segini ada yang bertamu di kamarnya. Bahkan selama ini tak ada
teman atau siapapun yang berkunjung ke kamarnya kecuali Mbok Min, tukang masak yang selalu mengantarkan makanan.
“Kreek,”
suara pintu sedikit demi sedikit terbuka. Irama jantung yang tersembunyi kini
semakin menggema tak beraturan.
“Hai,
ingin puding?” sambil menyodorkan sepiring pudding cokelat dengan lelehan vla
vanilla diatasnya.
“Gadis itu lagi?” pandangnya penuh
keheranan.
“Tapi
pudingnya sepertinya lezat.” Selincah cahaya melewati partikel-partikel kecil
di udara, ia raih puding coklat itu. Matanya melirik bangku kecil di depan
teras asrama lalu menghampirinya. Suapan pertama ia nikmati dengan penuh
perlahan, es krim lembut yang tersembunyi di dalamnya membuat lidahnya ikut
meleleh.
“Namaku Bunga, aku murid baru di sini.
Terima kasih ya kamu mau nganterin
aku ke kamarku, ternyata kita tetanggaan
ya.” Bunga memulai untuk membuka percakapan.
“Hemmmmm,
lezat sekali” Marsya tak menghiraukan pertanyaan Bunga.
“Terima kasih, itu buatan ibuku.
Nama kamu siapa?” tanya Bunga. Ia condongkan kepalanya agak ke bawah agar bisa
melihat dengan jelas wajah teman barunya tersebut.
“Nih,
udah selesai. Makasih ya.” Tangannya
menyodorkan piring kosong dan sendok plastik ke hadapan Bunga, lalu ia pergi
begitu saja.
Yang ditinggal cuma diam saja tanpa
sebuah respon yang berarti, yang terlihat hanyalah sebuah gelengan kecil
diikuti senyuman sumringah.
Liburan masih menghiasai tawa ceria
malaikat-malaikat kecil itu, memahami lebih dalam lagi arti pertemanan sambil
bermain mungkin itu adalah cara mereka untuk menghiasi ruang-ruang liburan ini.
Suasana berbeda terlihat dari deretan asrama kelas dua, kali ini Marsya yang
berperan melakukan adegan menangis di sana.
“Tadi malam aku membuat sesuatu
untukmu, nih.” Bunga mendekat sambil
menyodorkan sesuatu.
“Lagi dan lagi, itu terlihat
menggiurkan. Dia mencoba mendekatiku, menyuapku dengan hal kayak gitu. Oke lah”
batin Marsya. Ia amati puding buah di
hadapannya lalu ia santap perlahan demi perlahan.
“Kenapa
kamu menangis?” lekat-lekat ia memandang wajah Marsya yang terlihat sendu tapi
tak menunjukkan adanya bulir air mata.
“Aku nggak menangis, lihat nih
nggak ada air mata.” Marsya menunjukkan wajahnya agar dapat terlihat lebih
jelas lagi.
“Kamu bohong, sini pudingnya. Puding
ini nggak mau dimakan sama orang yang
nggak jujur.” Kali ini Bunga
mengambil kembali puding itu. Rupanya ia sedikit kesal karena sejak kemarin
belum juga berhasil berkenalan dengan sosok manusia yang kini berhadapan
dengannya.
“Argh…Baiklah.”
Jawabnya singkat sambil mengambil kembali apa yang telah menjadi haknya.
“Namaku Marsya, lengkapnya Mona Nona
Marysa.” Akhirnya berhasil juga Bunga mendapatkan jawaban atas pertanyaannya
selama ini.
“Nona?” alisnya terlihat terangkat
dari lukisan asalnya.
“Setidaknya aku sudah menjawab
pertanyaanmu.” Jawabnya cuek.
“Lalu?” ingin rasanya ia mendapatkan
jawaban lebih dari teman mengobrolnya tersebut.
“Apa lagi?” ia hentikan perjalanan
sesendok pudding yang akan memasuki lorong gelapnya.
“Kamu kelas berapa?” Bunga tanyakan
hal itu, walaupun dilihat dari deret letak asrama ia sudah tahu berada dimana
level Marsya sekarang.
“Dua.” Marsya mainkan sendok di
tangannya.
“Me
too, sejak kapan kamu tinggal disini?” lebih banyak lagi Bunga bertanya.
“Sejak aku sekolah di sini.” Sejenak
ia menatap gadis itu lalu mengalihkan pandangannya.
“Wahhh..Seru
sekali pasti. Punya banyak teman, udaranya sejuk, gurunya ramah-tamah dan
kemarin aku lihat banyak kupu-kupu di sekitar asrama ini.” Jelentrehnya seakan ia sudah lama tinggal dan mengenal sekolahan
itu.
“Seperti di neraka.” Jawab Marsya ketus
setelah terhipnotis dengan diagnosis Bunga yang terlalu berlebihan.
“Owh
iya aku masih punya beberapa puding di kamarku, mau main kesana? Mungkin
kapan-kapan kalau sempat.” Jawab Bunga, ia coba mengalihkan pembicaraan.
Percakapan itu terlalu beku untuk diteruskan.
“Kenapa?”
kali ini ia benar-benar menatap Bunga dengat serius.
Bunga memicingkan mata.
“Kenapa
kamu mau mendekatiku? Maksudku, puding ini.” Marysa tunjukkan kembali pudding
yang baru beberapa menit lalu ia dapatkan.
“Bahkan kemarin aku meninggalkanmu.
Aku juga tak menjawab pertanyaanmu setelah kemarin Kau berikan semua ini
padaku,” Lanjutnya.
“Kemarin?” ia berusaha mengembalikan
beberapa kegiatan yang baru saja ia sebrangi.
“Aku pikir kamu itu unik. Kemarin
aku bertanya rute menuju kamarku. Diammu kemarin membuatku bingung, tapi selanjutnya aku mengerti ternyata
kamu sangat baik hati ingin langsung mengantarkan aku ke kamarku.” Senyumnya
mengembang bagai balon yang habis terisi udara.
“Duh..”
Marsya menepuk jidat.
“Aku masih punya sesuatu untukmu. Nih...” sebuah gelang berwarna biru
berhiaskan bunga pink kecil disekelilingnya.
“Buat?” tanya Marsya. Sedikit lagi
puding di mulutnya akan segera habis, itu tandanya ia akan memulai tradisi
untuk meninggalkan teman ngobrolnya. Sesegera mungkin tentunya.
“Ini tanda pertemanan kita, aku juga
punya.” Menunjukkan gelang yang serupa yang telah melekat pada pergelangan
tangannya.
“Sejak kapan kita berteman? Aku kan
belum menyetujui semua itu.” Ia tudingkan sendok garpu persis didepan wajah
Bunga.
“Sejak gelang ini nangkring di tanganmu. Tanganmu kecil
juga ya,” jawab Bunga sambil memakaikan gelang lucu itu ditangan Marsya.
“Aku tak pernah punya teman sebelumnya, Aku juga nggak tahu bagaimana caranya memerlakukan seorang teman dengan
baik.” Marsya memandangi gelang biru itu sambil memutar-mutar pergelangan
tangannya.
“kenapa kamu nggak mencoba berteman saja dengan mereka-mereka?” Bunga menunjuk
ke sekumpulan anak kelas 2 yang sedang bermain.
“Kalau aku berteman dengan mereka
itu artinya aku gagal dalam melakukan unjuk rasa pada Ibuku.” Jawabnya dengan
wajah cemberut.
“Unjuk rasa?” Bunga mulai bingung.
“Aku nggak suka sekolah disini.
Terpelosok, menyeramkan, pokoknya nggak enak. Makanya Aku melakukan unjuk rasa
biar aku dipulangkan atau seenggaknya
aku dijemput lah sama orang tuaku.”
“Kamu nggak betah karena kamu nggak punya teman, kamu nggak punya teman
karena kamu nggak mau mencoba berteman dengan siapapun. Jadi rumus untuk
memeroleh kenyamanan di sekolah ini adalah kamu harus punya teman. Ya kayak Aku
gini.” Jelasnya.
“Baiklah aku akan mencoba.” Jawabnya
sedikit bimbang.
Sedikit sulit untuk memahami dan
menerima perubahan-perubahan ini pada diri Marysa, semua serba muncul secara
mendadak. Namun kalau Dia menunggu sampai unjuk rasanya diterima ini akan
memakan sedikit waktu dan ini nggak
membuat dirinya lebih nyaman.
***
“Lalu bagaimana dengan hidangannya
M-O-N-A--N-O-N-A--M-A-R-S-Y-A?” Tanya Bunga sambil sedikit mengeja nama teman
di hadapannya tersebut.
“Mona Nona Marsya tidak menyukai
hidangan ini, bahkan ini bukan buah yang tadi kamu janjikan di kelas,” jawab
Marysa sambil terus melahap makanan di hadapannya.
“Itu buah Nona, sedikit ada gubahan sih. Bahkan rasanya tak jauh berbeda
dengan aslinya,” jawab Bunga sambil menyerobot sesendok puding yang mau masuk
ke mulut Marsya.
“Hahahaha..Alhamdulillah.”
Keduanya terkekeh.
END……







0 komentar:
Post a Comment