Oleh : Bintun Nahl
Pukul 04.00 WITA. Desa Tongkuno
mulai menggeliat menampakkan sebuah kehidupan dimulai dengan kumandang adzan
subuh yang menghipnotis masyarakat keluar dari sangkarnya lalu menuju ke suatu
bangunan hijau di tengah-tengah desa.Tongkuno adalah desa kecil yang terletak
di antara Kalimantan dan Sulawesi, tanahnya berupa bambu dengan pondasi berupa
kayu-kayu besar yang kokoh.
“Alif sudah siap untuk berangkat?”
tanya Bu Yanti dari dapur rumahnya yang kecil.
“hari ini Alif menumpang perahu
siapa Bu? Tadi waktu Alif ke masjid dikasih tahu kalau Pak Kino sedang sakit,
jadi beliau tidak berlayar hari ini.” jawab Alif sambil membenahi dasi
seragamnya.
“Sebentar, Ibu telponkan Pamanmu
dulu ya. Semalam Dia bilang kalau pagi ini mau ke pasar dekat sekolahmu.” Bu
Yanti memilah beberapa kaleng susu bekas di ruang tamu.
Kaleng susu yang telah diberi tanda
itupun ketemu dan Bu Yanti langsung menarik-nariknya dengan perlahan. Beberapa
saat kemudian ada sebuah jawaban dari sisi yang lain. Dengan tanda tarikan dari
sisi lain.
“Halo,” sapa Pak Burhan.
“Halo Bur, ini Alif mau berangkat
sekolah tapi tidak ada angkutan. Kau bisa nggak
mengantarkan keponakanmu ini?” tanya Bu Yanti.
“Oh
ya Mbak, kebetulan Aku ini lagi mau
pergi ke daerah sana. Alif disuruh langsung ke kapal saja, kira-kira lima menit
lagi Aku akan berangkat.” Jawab Pak Burhan santai.
“Baiklah, terima kasih ya Bur.” Bu
Yanti menaruh kaleng yang teruat dari alumunium itu dan sedikit merapikan
benangnya lalu menyuruh Alif untuk segera bergegas.
Tak sampai lima menit Alif sudah
sampai di perahu kecil milik Pamannya, rupaya sang Paman telah berada di dalam
kapal.
“Sudah datang rupanya, ayo segera
naik!” perintah Pak Burhan.
Lalu mesin kapal itu menyala memecah
kesunyian pagi dan melaju membelah laut yang masih tersamarkan oleh sisaan
gulita malam. Alif memandang ke sekeliling, ribuan bintang masih terlihat jelas
dan juga rembulan masih menguning. Sepagi ini ia harus berjuang memerangi
sebuah kebodohan. Mengais ilmu di pulau tetangga.
“Kalau masih mengantuk, tidurlah
dulu! Nanti Paman bangunkan kalau sudah sampai.” Suara Pak Burhan terdengar
samar di telinga Alif.
“Tidak Paman, hari ini ada ulangan.”
Jawab Alif sembari mengeluarkan sebuah buku setebal 1 cm dari dalam tasnya. Ia
baca dengan rasa gembira dan beberapa kali mengulang kalimat yang sama untuk
menghafalnya. Jarak perjalanan yang tak bisa dikatakan dekat dijadikan Alif
sebagai bahan bakar penyemangat belajarnya.
“Udah
sampai Lif.” Ucap Pak Burhan sambil menenteng beberapa kantong ikan segar lalu
menuruni kapal.
“Terimakasih Paman, Alif berangkat
sekolah dulu.” Jawab Alif sambil berlari meninggalkan Pamannya.
Kriiiiiiiiing…waktu yang tepat untuk
memulai membuka lembaran cerita di sekolah. Alif mengambil posisi tempat duduk
di baris paling depan, Ia keluarkan selembar kertas putih lalu Ia bubuhkan
sedikit identitas tentang dirinya di atas kertas tersebut.
“Selamat pagi Anak-Anak.” Sapa Bu
Rina dengan tersenyum.
“Hari ini ulangan matematika, sudah
siap semua?” Lanjutnya.
“Siap Bu!” Alif menjawab dengan
suara lantang.
Tak harus menunggu jarum jam itu
mengubah detik menjadi menit, Bu Rina langsung membagikan soal-soal ulangan ke
semua siswanya. Ia tatap satu per satu wajah bocah didikannya dengan seksama
untuk melihat ekspresi ketegangan mereka.
Alif melahap soal-soal dihadapannya
bagaikan semut melihat manisan.
“Zzzzzt..Alif, Alif nomer lima
caranya gimana?” Beberapa kali Chika menendang-nendang bangku Alif.
Chika berulang kali memanggil Alif
dengan suara yang sangat hemat namun cukup untuk didengar.
Semenit. Dua menit. Alif tak menoleh
bahkan tak merespon sedikit pun, membuat Chika geram dan akhirnya Ia
mengeluarkan lipatan kertas kecil dari sakunya. Ia buka dengan perlahan dan
matanya mulai menganalisis rumus-rumus yang ia catatat semalam.
Klek. Klek. Klek. Suara sepatu Bu
Rina mendekat ke arah bangku Chika, Ia mulai panik. Keringat dingin mengalir
membasahi wajahnya. Aliran darahnya menunjukkan tanda-tanda peningkatan dan
secara sepontan Chika melempar kertas kecil yang Ia pegang. Kertas itu
melambung lalu jatuh dan meluncur tepat di samping meja Alif.
“Kertas?” Ucap Bu Rina dalam hati.
Lalu Ia mengambil kertas kecil yang
kini telah berubah bentuk karena sebelum dilepar sempat diremas-remas oleh
pemiliknya.
“Alif, setelah jam sekolah selesai
silakan temui Ibu di ruang guru.” Ucap Bu Rina pada Alif. yang disuruh cuma
mengangguk dan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan Bu Rina kembali
berkeliling mengawas.
Tok, tok, tok.
“Masuk Alif!” Bu Rina memersilakan
Alif untuk masuk lalu duduk. Ia memberikan sesuatu ke Alif. Kertas ulangannya
tadi pagi.
“Terima kasih Bu.” Alif melihat
dengan mata yang berbinar, Ia hampir menangis karena yang Ia dapati adalah
nilai yang sempurna.
Tak lama waktu berselang Bu Rina
menyodorkan secarik kertas lain ke Alif.
“Apa ini Bu?” Tanya Alif tak
mengerti.
“Itu Ibu temukan di samping meja
kamu sewaktu ulangan berlangsung.” Jawab Bu Rina dengan nada sedikit kecewa.
Alif tak bisa berbuat apa-apa,
pikirannya sekarang kalang kabut. Perasaan gembira yang tadi mewarnai hatinya
kini memudar tak berbekas. Apa yang Ia khawatirkan selama ini terjadi juga.
“Maaf Bu, ini.” Alif mengembalikan
lagi kertas ulangan itu lalu meminta izin pulang pada guru cantik yang berada
di hadapannya sekarang.
“Tunggu!” Bu Rina mencegah ketika
Alif sampai di bibir pintu.
“Benar? Apa ini semua perbuatan kamu
Lif?” Tanya Bu Rina.
“Maaf Bu, bukti sudah berada di
tangan Ibu. Saya mohon diri Bu.” Ucap Alif singkat lalu sesingkat angin
menghembuskan udara Alif pun telah menghilang
Keesokan harinya ketika Bu Rina
mengajar di kelas Alif, Ia tidak menjumpai murid yang menghadapnya kemarin.
Mencoba bertanya ke beberapa teman dekat Alif tapi yang didapat adalah jawaban
yang sama. Tidak tahu.
Tok. Tok. Tok
Tepat pukul 10.00 WITA ruang kantor
Bu Rina kedatangan tamu yang tak biasa.
“Alif? Masuk!” Bu Rina memersilakan
Alif duduk. Bajunya tak berseragam,
matanya sembab seperti habis begadang semalaman. Namun senyumnya mengembang
ketika menatap sang guru.
“Saya berhak atas nilai seratus itu
Bu.” Ucap Alif seketika.
“Kenapa kemarin kamu pergi begitu
saja?” Tanya Bu Rina tanpa menghiraukan kalimat Alif sebelumnya. Rupanya Ia
penasaran dengan apa yang akan diperbuat oleh anak didiknya ini.
“Saya tidak mencotek Bu.” Kini
pembicaraan diantara keduanya berada di jalur yang berbeda.
“Karena kamu anak cerdas lalu kamu
bisa menyangkal dengan semudah itu?” Bu Rina mulai meladeni celotehan Alif.
“Ibu masih menyimpan kertas yang
kemarin?” Tanya Alif.
Tanpa pikir panjang Bu Rina mengeluarkan
secarik kertas kecil yang kemarin Ia pungut sewaktu ulangan.
“Ini Bu. Lihat!” Alif membuka sebuah
buku catatan bersampul plastik yang tertulis dengan rapi. Lalu mebandingkan
tulisan yang berada di dalamnya dengan tulisan yang ada di secarik kertas
contean itu.
“Mirip. Milik Kamu?” Tanya Bu Rina.
Tangan Alif membalik bagian bagian
depan buku tersebut. Tertera nama CHIKA MAHARDIKA di atasnya. Beruntungnya
sebelum kejadian, Alif sepat meminjam buku catatan sejarah milik Chika dan
memang sampai saat ini belum sempat Ia kembalikan.
“Kenapa tidak bilang sejak kemarin?”
Kembali Bu Rina bertanya.
“Saya tidak memunyai bukti apa-apa
untuk menyangkal, Saya juga nggak mau
menuduh seseorang tanpa bukti.” Alif menyembunyikan raut wajahnya.
Mendengar jawaban Alif yang sangat
bijaksana Bu Rina pun menangis terharu. Betapa bahagianya Ia memunyai murid
seperti Alif yang sangat cerdas dan bisa menggunakan kecerdasannya dengan
sangat apik.







0 komentar:
Post a Comment