Flickr Images

Tuesday, April 28, 2015

Buktiku Berbicara


Oleh : Bintun Nahl

Pukul 04.00 WITA. Desa Tongkuno mulai menggeliat menampakkan sebuah kehidupan dimulai dengan kumandang adzan subuh yang menghipnotis masyarakat keluar dari sangkarnya lalu menuju ke suatu bangunan hijau di tengah-tengah desa.Tongkuno adalah desa kecil yang terletak di antara Kalimantan dan Sulawesi, tanahnya berupa bambu dengan pondasi berupa kayu-kayu besar yang kokoh.
“Alif sudah siap untuk berangkat?” tanya Bu Yanti dari dapur rumahnya yang kecil.
“hari ini Alif menumpang perahu siapa Bu? Tadi waktu Alif ke masjid dikasih tahu kalau Pak Kino sedang sakit, jadi beliau tidak berlayar hari ini.” jawab Alif sambil membenahi dasi seragamnya.

“Sebentar, Ibu telponkan Pamanmu dulu ya. Semalam Dia bilang kalau pagi ini mau ke pasar dekat sekolahmu.” Bu Yanti memilah beberapa kaleng susu bekas di ruang tamu.
Kaleng susu yang telah diberi tanda itupun ketemu dan Bu Yanti langsung menarik-nariknya dengan perlahan. Beberapa saat kemudian ada sebuah jawaban dari sisi yang lain. Dengan tanda tarikan dari sisi lain.
“Halo,” sapa Pak Burhan.
“Halo Bur, ini Alif mau berangkat sekolah tapi tidak ada angkutan. Kau bisa nggak mengantarkan keponakanmu ini?” tanya Bu Yanti.
Oh ya Mbak, kebetulan Aku ini lagi mau pergi ke daerah sana. Alif disuruh langsung ke kapal saja, kira-kira lima menit lagi Aku akan berangkat.” Jawab Pak Burhan santai.
“Baiklah, terima kasih ya Bur.” Bu Yanti menaruh kaleng yang teruat dari alumunium itu dan sedikit merapikan benangnya lalu menyuruh Alif untuk segera bergegas.
Tak sampai lima menit Alif sudah sampai di perahu kecil milik Pamannya, rupaya sang Paman telah berada di dalam kapal.
“Sudah datang rupanya, ayo segera naik!” perintah Pak Burhan.
Lalu mesin kapal itu menyala memecah kesunyian pagi dan melaju membelah laut yang masih tersamarkan oleh sisaan gulita malam. Alif memandang ke sekeliling, ribuan bintang masih terlihat jelas dan juga rembulan masih menguning. Sepagi ini ia harus berjuang memerangi sebuah kebodohan. Mengais ilmu di pulau tetangga.
“Kalau masih mengantuk, tidurlah dulu! Nanti Paman bangunkan kalau sudah sampai.” Suara Pak Burhan terdengar samar di telinga Alif.
“Tidak Paman, hari ini ada ulangan.” Jawab Alif sembari mengeluarkan sebuah buku setebal 1 cm dari dalam tasnya. Ia baca dengan rasa gembira dan beberapa kali mengulang kalimat yang sama untuk menghafalnya. Jarak perjalanan yang tak bisa dikatakan dekat dijadikan Alif sebagai bahan bakar penyemangat belajarnya.
Udah sampai Lif.” Ucap Pak Burhan sambil menenteng beberapa kantong ikan segar lalu menuruni kapal.
“Terimakasih Paman, Alif berangkat sekolah dulu.” Jawab Alif sambil berlari meninggalkan Pamannya.
Kriiiiiiiiing…waktu yang tepat untuk memulai membuka lembaran cerita di sekolah. Alif mengambil posisi tempat duduk di baris paling depan, Ia keluarkan selembar kertas putih lalu Ia bubuhkan sedikit identitas tentang dirinya di atas kertas tersebut.
“Selamat pagi Anak-Anak.” Sapa Bu Rina dengan tersenyum.
“Hari ini ulangan matematika, sudah siap semua?” Lanjutnya.
“Siap Bu!” Alif menjawab dengan suara lantang.
Tak harus menunggu jarum jam itu mengubah detik menjadi menit, Bu Rina langsung membagikan soal-soal ulangan ke semua siswanya. Ia tatap satu per satu wajah bocah didikannya dengan seksama untuk melihat ekspresi ketegangan mereka.
Alif melahap soal-soal dihadapannya bagaikan semut melihat manisan.
“Zzzzzt..Alif, Alif nomer lima caranya gimana?” Beberapa kali Chika menendang-nendang bangku Alif.
Chika berulang kali memanggil Alif dengan suara yang sangat hemat namun cukup untuk didengar.
Semenit. Dua menit. Alif tak menoleh bahkan tak merespon sedikit pun, membuat Chika geram dan akhirnya Ia mengeluarkan lipatan kertas kecil dari sakunya. Ia buka dengan perlahan dan matanya mulai menganalisis rumus-rumus yang ia catatat semalam.
Klek. Klek. Klek. Suara sepatu Bu Rina mendekat ke arah bangku Chika, Ia mulai panik. Keringat dingin mengalir membasahi wajahnya. Aliran darahnya menunjukkan tanda-tanda peningkatan dan secara sepontan Chika melempar kertas kecil yang Ia pegang. Kertas itu melambung lalu jatuh dan meluncur tepat di samping meja Alif.
“Kertas?” Ucap Bu Rina dalam hati.
Lalu Ia mengambil kertas kecil yang kini telah berubah bentuk karena sebelum dilepar sempat diremas-remas oleh pemiliknya.
“Alif, setelah jam sekolah selesai silakan temui Ibu di ruang guru.” Ucap Bu Rina pada Alif. yang disuruh cuma mengangguk dan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan Bu Rina kembali berkeliling mengawas.
Tok, tok, tok.
“Masuk Alif!” Bu Rina memersilakan Alif untuk masuk lalu duduk. Ia memberikan sesuatu ke Alif. Kertas ulangannya tadi pagi.
“Terima kasih Bu.” Alif melihat dengan mata yang berbinar, Ia hampir menangis karena yang Ia dapati adalah nilai yang sempurna.
Tak lama waktu berselang Bu Rina menyodorkan secarik kertas lain ke Alif.
“Apa ini Bu?” Tanya Alif tak mengerti.
“Itu Ibu temukan di samping meja kamu sewaktu ulangan berlangsung.” Jawab Bu Rina dengan nada sedikit kecewa.
Alif tak bisa berbuat apa-apa, pikirannya sekarang kalang kabut. Perasaan gembira yang tadi mewarnai hatinya kini memudar tak berbekas. Apa yang Ia khawatirkan selama ini terjadi juga.
“Maaf Bu, ini.” Alif mengembalikan lagi kertas ulangan itu lalu meminta izin pulang pada guru cantik yang berada di hadapannya sekarang.
“Tunggu!” Bu Rina mencegah ketika Alif sampai di bibir pintu.
“Benar? Apa ini semua perbuatan kamu Lif?” Tanya Bu Rina.
“Maaf Bu, bukti sudah berada di tangan Ibu. Saya mohon diri Bu.” Ucap Alif singkat lalu sesingkat angin menghembuskan udara Alif pun telah menghilang
Keesokan harinya ketika Bu Rina mengajar di kelas Alif, Ia tidak menjumpai murid yang menghadapnya kemarin. Mencoba bertanya ke beberapa teman dekat Alif tapi yang didapat adalah jawaban yang sama. Tidak tahu.
Tok. Tok. Tok
Tepat pukul 10.00 WITA ruang kantor Bu Rina kedatangan tamu yang tak biasa.
“Alif? Masuk!” Bu Rina memersilakan
Alif duduk. Bajunya tak berseragam, matanya sembab seperti habis begadang semalaman. Namun senyumnya mengembang ketika menatap sang guru.
“Saya berhak atas nilai seratus itu Bu.” Ucap Alif seketika.
“Kenapa kemarin kamu pergi begitu saja?” Tanya Bu Rina tanpa menghiraukan kalimat Alif sebelumnya. Rupanya Ia penasaran dengan apa yang akan diperbuat oleh anak didiknya ini.
“Saya tidak mencotek Bu.” Kini pembicaraan diantara keduanya berada di jalur yang berbeda.
“Karena kamu anak cerdas lalu kamu bisa menyangkal dengan semudah itu?” Bu Rina mulai meladeni celotehan Alif.
“Ibu masih menyimpan kertas yang kemarin?” Tanya Alif.
Tanpa pikir panjang Bu Rina mengeluarkan secarik kertas kecil yang kemarin Ia pungut sewaktu ulangan.
“Ini Bu. Lihat!” Alif membuka sebuah buku catatan bersampul plastik yang tertulis dengan rapi. Lalu mebandingkan tulisan yang berada di dalamnya dengan tulisan yang ada di secarik kertas contean itu.
“Mirip. Milik Kamu?” Tanya Bu Rina.
Tangan Alif membalik bagian bagian depan buku tersebut. Tertera nama CHIKA MAHARDIKA di atasnya. Beruntungnya sebelum kejadian, Alif sepat meminjam buku catatan sejarah milik Chika dan memang sampai saat ini belum sempat Ia kembalikan.
“Kenapa tidak bilang sejak kemarin?” Kembali Bu Rina bertanya.
“Saya tidak memunyai bukti apa-apa untuk menyangkal, Saya juga nggak mau menuduh seseorang tanpa bukti.” Alif menyembunyikan raut wajahnya.
Mendengar jawaban Alif yang sangat bijaksana Bu Rina pun menangis terharu. Betapa bahagianya Ia memunyai murid seperti Alif yang sangat cerdas dan bisa menggunakan kecerdasannya dengan sangat apik.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Us

BTemplates.com

Labels