Karya : Bintun Nahl
Kring..!!!! bel masuk
sekolah sudah berbunyi, murid-murid SMA Cendekiawan yang masih berada di luar
gerbang bergegas menuju sekolah.
“Ayo
Rin, buruan..!” ucap Sinta yang mulai khawatir, karena pintu gerbang akan
segera ditutup
“Iya,
sabar dong, pak satpam itu pasti gak akan tega kalau ngelihat gue gak masuk
sekolah, kan gue ini adalah cewek paling cantik disekolah ini,” sahut Rina yang
berhenti sejenak sambil berpose ala miss Indonesia
“Udah
ah, gak usah banyak gaya kamu!” karena gak sabar,Sinta menarik tangan Rina
dengan paksa dan berakibat jepit rambut yang menempel dikepada Rina tiba-tiba
terjatuh
“Ha,
jepit rambut Gue,!” teriak Rina
“Relain
aja, paling harganya Cuma seribu. Pagi pak satpam, makin hari makin ganteng aja
nih,” ucap Sinta dengan senyum tipisnya
“Dasar
kalian ini, slalu saja datang di detik-detik terakhir.” Gerutu pak satpam
sambil menutup pintu gerbang SMA Cendekiawan.
Pagi
itu pelajaran pertama di kelas Rina adalah matematika. Tidak seperti biasanya,
walaupun guru yang dinanti belum datang, namun kelas tetap sunyi.
“Sin,
lihat yang nomer 10 dong!” bisik Rina kepada Sinta
“Ah,
kamu ini Rin, pintar-pintar kok maunya mencontek melulu,” jawab Sinta dengan
nada kesal
Teklek…teklek…teklek,
suara sepatu Bu Yanti terdengar dari kejauhan. Tidak lama kemudian Bu Yanti
memasuki kelas dengan seorang anak laki-laki dibelakangnya, rupanya dia adalah
anak baru.
“Selamat
pagi anak-anak!” salam Bu Yanti
“Selamat
pagi bu!” jawab murid-murid dengan serentak
“Anak-anak,
sekarang kalian punya teman baru, namanya Dani. Dani, ayo perkenalkan dirimu!”
ucap Bu Yanti
“Baik
bu, teman-teman perkenalkan nama saya Dani,” ucap Dani dengan sopan
“Dani,
silahkan kamu duduk disamping Riski,” Ucap Bu Yanti sambil menunjukkan tempat
duduk yang hendak Dani tempeti
Kali
ini Bu Yanti tidak membahas PR seperti biasanya, beliau langsung masuk materi
baru. Rina yang duduk dibangku tengah langsung menghembuskan nafas lega, karena
memang sejak tadi malam dia sibuk dengan tugas membuat mading sehingga dia lupa
mengerjakan PR matematika dari Bu Yanti.
“Hehe..Bu
Yanti baik banget ya,” kata Rina ke Sinta dengan senyum penuh misteri
“ Ah kamu Rin, bilang aja PR nya belum selesai,” jawab
Sinta dengan santai
Pelajaran
pagi itu berjalan dengan sangat cepat, tak terasa waktu istirahat sudah tiba .
Rina yang merasa belum sarapan semenjak pagi, langsung mengajak Sinta ke
kantin.
“Ayo
Sin buruan!” rengek Rina kayak anak kecil
“Hiuh,
giliran makan aja paling pertama,” ucap Sinta
“Namanya
juga lagi lapar, nanti kalau Gue kena serangan maag mendadak gimana hayo?”
sahut Rina
“Iya
deh tuan putri,” ucap Sinta
Mereka
langsung melejit pergi ke kantin sekolah. Dalam perjalanan menuju kantin, tak
jarang mereka mendapat simpati dari cowok-cowok yang sengaja menanti kedatangan
mereka, terutama kedatangan Rina. Rina memang cantik, tubuhnya yang ideal
dengan gaya rambut yang sederhana membuat cowok-cowok satu sekolah terpesona. Dalam
waktu seminggu, Rina bisa membuat 5 cowok menembaknya dengan gaya yang
bermacam-macam, namun tak seorang dari mereka yang bisa menakhlukan hati putri
sejagad itu.
Sesampainya
dikantin, mereka langsung memesan makanan dan minuman. Keadaan kantin saat itu
tergolong cukup ramai, tapi untungnya Rina dan Sinta masih mendapat tempat
duduk. Tak berapa lama makanan dan minuman yang meraka pesan pun datang, mereka
langsung melahapnya.
“Ini
jepitan rambut kamu, tadi jatuh didepan gerbang,” suara itu mengagetkan Rina
dan Sinta, merek sedikit asing dengan suara itu. Dengan gesit, Rina langsung
menoleh ke sumber suara.
“Eh
kamu kan anak baru yang baru asuk tadi pagi kan?” tanya Rina
“Iya,
aku kesini mau ngasih jepit rambut kamu yang tadi pagi jatuh didepan gerbang.”
Jawab Dani dengan entengnya
“oh
ya, trimakasih.” Mengambil jepit rambut yang ada di tangan Dani, “Gak dapat
tempat duduk ya, duduk bareng kita aja,” ujar Rina yang sebelumnya melihat
kondisi disekitarnya
“Trimakasih,”
ucap Dani yang kemudian duduk bersebelahan dengan mereka
“Ow
iya, kenalin gue Rina,” ucap Rina mengawali perbincangan sambil mengulurkan
tangannya
“Aku
Dani, salam kenal” jawab Dani dengan senyum mengembang diwajahnya, dia
menyambut tangan Rina dengan kedua tangannya yang satukan lalu diletakkan di
depan dadanya.
Melihat
tingkah Dani, Rina langsung menarik tangannya dan mencoba bersikap biasa saja.
Baru kali ini ada cowok yang berani menolak tangan lembut Rina sang ratu
sekolah yang terkenal itu.
Dani,
seorang anak yang dibesarkan dikeluarga yang memegang teguh prinsip islam, tak
heran kalau dia tak mau menjabat tangan wanita yang bukan mukhrimnya. Terkadang
Dani harus menerima teguran dari teman-teman sebayanya di sekolah yang lama
karena hal itu dianggap kurang sopan, tapi untungnya Rina bisa menerima semua
itu dengan biasa saja.
“hai
Dan, aku Sinta,” ujar Sinta pada Dani
“Aku
Dani,” jawab Dani dengan senyum mengembang diwajahnya
“Iya
udah tahu, kan tadi kamu udah kenalan di depan kelas,” celoteh Sinta
“Yah,
kali-kali aja lupa..hehehe,” ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak
gatal
Perbincangan
pagi itu berjalan dengan sangat mengasyihkan, sikap Dani yang mudah beradaptasi
rupanya menambah kehangatan diantara mereka. Tak terasa bel sudah berbunyi,
pertanda bahwa pelajaran selanjutnya sudah akan dimulai, merekapun beranjak
untuk menuju ruang kelas.
Semenjak
kejadian di kantin itu, Dani menjadi sosok yang misterius bagi Rina. Sikap Dani
yang sedikit menjaga jarak dengan wanita rupanya telah membuat gejolak cinta
tumbuh dihati Rina. Hingga suatu ketika, saat Rina mengerjakan tugas di ruang
tamu, Ia melamun dan peristiwa tersebut cukup menyita perhatian sang bunda.
“Rina,
bunda perhatikan kamu sekarang sering melamun?” tanya Bunda saat Rina melamun
di depan tugas-tugasnya yang menumpuk
Seketika
itu juga, Rinda menatap Bundanya dengan tajam-tajam. Sejenak keheningan menemani
mereka diruangan itu, Bunda hanya bisa membalas tatapan Rina dengan senyum
manis yang menyejukkan hati.
“Bunda,”
ucap Rina dengan perlahan
“Iya,”
jawab bunda dengan nada lembutnya
“Kalau
Rina mengenakan jilbab cantik tidak?” tiba-tiba Rina menundukkan kepalanya
Mendengar
pertanyaan Anaknya, Bunda sempat kaget, pasalnya selama ini Anak semata wayangnya
itu sulit sekali kalau disuruh mengenakan jilbab. Dia slalu mengelak kalau
memakai jilbab nanti kecantikan yang ada dalam dirinya tidak terlihat lagi.
“kenapa
Rina bertanya seperti itu pada Bunda, kenapa Rina tidak mencobanya langsung
saja?” bunda beranjak pergi ke kamarnya. Ketika kembali, bunda membawa setumpuk
jilbab warna-warni.
“Bunda,
itu buat apa?” tanya Rina dengan heran
Tanpa
menjawab pertanyaan Rina, bunda langsung memakaikan salah satu jilbab ke
anaknya tersebut. Tidak sampai 5 menit berlalu, akhirnya bunda tersenyum.
“Mari
ikut bunda,” ujar bunda sambil membawa Rina kedepan cermin
“Wah,
cantik sekali bunda,” ucap Rina memuji Dirinya sendiri
“Sayang,
cantik itu bukan yang auratnya kelihatan, tapi yang auranya kelihatan,” nasehat
bunda mulai memasuki renung hati anaknya
“Tapi
bun, bagaimana dengan seragam Rina?” tanya Rina mulai lesu
“Tenang,
bunda punya kok seragam panjang buat Rina,” jawab bunda
“Pasti
seragam bunda yang jadul itu, kan udah lusuh bunda,” rengek Rina
“Apakah
menurut Kamu ini lusuh?” tanya bunda seraya memperlihatkan seragam yang
diharapkan Rina
“Loh,
kok bisa masih baru gini sih bunda?” tanya Rina
“Waktu
itu kan bunda membuatnya dua model seragam,” jawab bunda
“Wah,
bunda trimakasih banyak,” ucap Rina disertai dengan pelukan hangatnya untuk
sang bunda tercinta
“Mungkin
dengan cara ini, Gue bisa dekat dengan Dani,” ucap Rina dalam hati
“Hayo,
Kamu mikirin apalagi?” tanya bunda yang langsung tanggap dengan Rina
“Eng…enggak
kok bun,” ucap Rina sedikit gugup
“Ya
sudah kalau begitu, sekarang lanjutkan tugas kamu, kasihan tuh udah nunggu dari
tadi,” ucap bunda
“Siap
bunda,” jawab Rina dengan sikap hormat
Rina
langsung melanjutkan mengerjakan tugas sampai semalaman suntuk, karena memang
tugas itu harus dikumpulkan besok paginya. Tepat jam 11 malam Rina baru
beranjak tidur.
Allahu
Akbar…Allahu Akbar, suara adzan subuh membangunkan Rina dari tidurnya. Hari ini
adalah hari dimana Ia pertama kalinya memakai jilbab kesekolah, seusai shalat
subuh, Ia langsung mandi.
“Bunda,
seragam Rina yang panjang dimana?” teriak Rina dari sudut kamar
“Ada
di almari,” jawab bunda
“Nah,
ini dia ketemu,” guman Rina, Ia langsung memakainya dan tak ketinggalan jilbab
putih yang akan menghiasi kepalanya. Setelah selesai berkemas-kemas, Rina
langsung berpamitan dengan bundanya karena Dia telah dinanti Sinta di depan
rumah sejak tadi.
“Wuih,
Rin kamu gak salah kostum nih?” Sinta kaget melihat teman karibnya yang
tiba-tiba berubah penampilan
“Apaan
sih kamu Sin,” ucap Rina yang langsung salah tingkah
Rina
dan Sinta berangkat sekolah dengan berjalan kaki, karena memang jarak antara
rumah dengan sekolah tidak terlalu jauh. Sesampainya di sekolah, Rina langsung
menuju kelas, rupanya Dia sedikit malu dengan penampilan barunya. Beberapa saat
kemudian ada sosok lelaki yang menghampirinya
“Assalamu’alaikum,”
salamnya ramah
“Wa’alaikumsalam,
eh Dani, ada apa?” jawabnya dengan segera
“Tidak
apa-apa, Cuma mau bilang kalau kamu semakin cantik dengan jilbab itu,” ujarnya
“Trimakasih,”
ucap Rina dengan tersipu malu
“Ow
iya Rin, nanti sepulang sekolah ada acara tidak?” tanya Dani yang langsung
tanggap dengan situasi dan kondisi
“Tuh
kan, kalau Gue merubah penampilan pasti bisa melunakkan hati Dani,” guman Rina
dalam hati
“Hai,
kok malah melamun?” lambaian tangan Dani membuyarkan lamunan Rina
“Tidak
kok, memangnya kenapa?” tanya Rina
“Aku
pengen ngajak kamu kerumahku, kebetulan
aku punya kakak perempuan dan nanti Dia mau ngadain mentoring dirumah,” jelas
Dani
“Mentoring,
apa itu mentoring?” tanya Rina penasaran
“Mentoring
itu mengkaji islam lebih dalam,” jawabnya
“Kayak
pengajian dong?” tanya nya
“Iya,
tapi pesertanya sedikit jadi suasananya lebih kondusif” ujar Dani
“Yah,
kok jadi kayak gini ya, tadinya kan pengen jalan bareng Dani, tapi kok malah
diajak ngaji.” Ucapnya dalam hati
“Tuh
kan malah melamun lagi, jadi gimana?” tanya nya
“Boleh
deh,” jawab Rina dengan senyuman yang sedikit dipaksa
“Okey
kalau begitu nanti kita pulang bareng,” ucap Dani yang langsung meninggalkan
Rina dengan salam nya.
Waktu
yang dinanti pun tiba, Rina sudah berada di rumah Dani untuk mentoring bersama
kak Siska dan kawan-kawan. Kak Siska adalah kakaknya Dani, Ia sekarang duduk di
bangku kuliah, sehingga obrolan mereka masih banyak nyambungnya. Kali ini
mentornya bernama kak Luna, setelah pembukaan dan kultum masuk lah pada acara
inti.
“Setiap
amal disertai niat, dan setiap orang dinilai berdasarkan niatnya.” Jelas kak
Luna pada adek-adek menti nya
“Kak,
itu maksudnya apa ya?” tanya salah seorang teman kak Siska
“Jadi
begini, setiap perbuatan itu dinilai berdasarkanniatnya. Jika kita melakukannya
dengan niat lurus, kita mendapat pahala. Misalnya kita berangkat ngaji ini
hanyaa karena ingin menyenangkan hati orang tua, maka yang kita dapat hanyalah
melihat orang tua senang. Beda halnya kalau kita mengaji benar-benar karena
ingin mengharap ridho-Nya, nanti yang kita dapat adalah pahala dan keridhoan
dari-Nya” kak Luna mulai menjelaskan lebih detail
“Kak,
kalau kita pakai jilbab hanya untuk seseorang, apakah kita salah?” tanya Rina
dengan segera
“Tidak
Dik, namun niatnya kurang lurus saja. Karena kalau kita memakai jilbab hanya
untuk seseorang, maka kita akan rugi.” Pernyataan itu sengaja dihentikan oleh
kak Luna
“Rugi
kenapa Kak,?” tanya Rina tak sabar
“Ya
rugi, kita susah-susah berjilbab hanya untuk seseorang, panas, gerah, repot,
tapi apa yang kita dapat dari dia di akhirat kelak? Dia gak bisa berbuat
apa-apa kepada kita karena dia manusia biasa. Sedangkan kalau kita berjilbab
itu karena Allah, maka insyaAllah panasnya adalah cobaan yang berbuah pahala,
sejukny adalah keringanan, dan repot karena jilbab yang terlalu panjang adalah
bentuk cinta-Nya kepada kita,” ujar kak Luna dengan penuh senyuman
Semenjak
saat itu, Rina merubah niatnya berjilbab dan mulai saat itu juga Dia slalu ikut
mentoring rutin yang diadakan oleh kak Siska dan kawan-kawan. Hal itu dilakukan
bukan karena Ia ingin mencari perhatian didepan Dani, tapi dia punya presepsi
kalau mempelajari islam secara setengah-setengah sama aja bohong karena islam
itu menyeluruh.
END







0 komentar:
Post a Comment