Flickr Images

Friday, March 6, 2015

Metamorfosis



Lihat Aku sekarang


Karya : Bintun Nahl

Kring..!!!! bel masuk sekolah sudah berbunyi, murid-murid SMA Cendekiawan yang masih berada di luar gerbang bergegas menuju sekolah.
            “Ayo Rin, buruan..!” ucap Sinta yang mulai khawatir, karena pintu gerbang akan segera ditutup
            “Iya, sabar dong, pak satpam itu pasti gak akan tega kalau ngelihat gue gak masuk sekolah, kan gue ini adalah cewek paling cantik disekolah ini,” sahut Rina yang berhenti sejenak sambil berpose ala miss Indonesia
            “Udah ah, gak usah banyak gaya kamu!” karena gak sabar,Sinta menarik tangan Rina dengan paksa dan berakibat jepit rambut yang menempel dikepada Rina tiba-tiba terjatuh
            “Ha, jepit rambut Gue,!” teriak Rina
            “Relain aja, paling harganya Cuma seribu. Pagi pak satpam, makin hari makin ganteng aja nih,” ucap Sinta dengan senyum tipisnya
            “Dasar kalian ini, slalu saja datang di detik-detik terakhir.” Gerutu pak satpam sambil menutup pintu gerbang SMA Cendekiawan.
            Pagi itu pelajaran pertama di kelas Rina adalah matematika. Tidak seperti biasanya, walaupun guru yang dinanti belum datang, namun kelas tetap sunyi.
            “Sin, lihat yang nomer 10 dong!” bisik Rina kepada Sinta
            “Ah, kamu ini Rin, pintar-pintar kok maunya mencontek melulu,” jawab Sinta dengan nada kesal
Teklek…teklek…teklek, suara sepatu Bu Yanti terdengar dari kejauhan. Tidak lama kemudian Bu Yanti memasuki kelas dengan seorang anak laki-laki dibelakangnya, rupanya dia adalah anak baru.
            “Selamat pagi anak-anak!” salam Bu Yanti
            “Selamat pagi bu!” jawab murid-murid dengan serentak
            “Anak-anak, sekarang kalian punya teman baru, namanya Dani. Dani, ayo perkenalkan dirimu!” ucap Bu Yanti
            “Baik bu, teman-teman perkenalkan nama saya Dani,” ucap Dani dengan sopan
            “Dani, silahkan kamu duduk disamping Riski,” Ucap Bu Yanti sambil menunjukkan tempat duduk yang hendak Dani tempeti
            Kali ini Bu Yanti tidak membahas PR seperti biasanya, beliau langsung masuk materi baru. Rina yang duduk dibangku tengah langsung menghembuskan nafas lega, karena memang sejak tadi malam dia sibuk dengan tugas membuat mading sehingga dia lupa mengerjakan PR matematika dari Bu Yanti.
            “Hehe..Bu Yanti baik banget ya,” kata Rina ke Sinta dengan senyum penuh misteri
            “ Ah kamu Rin, bilang aja PR nya belum selesai,” jawab Sinta dengan santai

           
            Pelajaran pagi itu berjalan dengan sangat cepat, tak terasa waktu istirahat sudah tiba . Rina yang merasa belum sarapan semenjak pagi, langsung mengajak Sinta ke kantin.
            “Ayo Sin buruan!” rengek Rina kayak anak kecil
            “Hiuh, giliran makan aja paling pertama,” ucap Sinta
            “Namanya juga lagi lapar, nanti kalau Gue kena serangan maag mendadak gimana hayo?” sahut Rina
            “Iya deh tuan putri,” ucap Sinta
            Mereka langsung melejit pergi ke kantin sekolah. Dalam perjalanan menuju kantin, tak jarang mereka mendapat simpati dari cowok-cowok yang sengaja menanti kedatangan mereka, terutama kedatangan Rina. Rina memang cantik, tubuhnya yang ideal dengan gaya rambut yang sederhana membuat cowok-cowok satu sekolah terpesona. Dalam waktu seminggu, Rina bisa membuat 5 cowok menembaknya dengan gaya yang bermacam-macam, namun tak seorang dari mereka yang bisa menakhlukan hati putri sejagad itu.
            Sesampainya dikantin, mereka langsung memesan makanan dan minuman. Keadaan kantin saat itu tergolong cukup ramai, tapi untungnya Rina dan Sinta masih mendapat tempat duduk. Tak berapa lama makanan dan minuman yang meraka pesan pun datang, mereka langsung melahapnya.
            “Ini jepitan rambut kamu, tadi jatuh didepan gerbang,” suara itu mengagetkan Rina dan Sinta, merek sedikit asing dengan suara itu. Dengan gesit, Rina langsung menoleh ke sumber suara.
            “Eh kamu kan anak baru yang baru asuk tadi pagi kan?” tanya Rina
            “Iya, aku kesini mau ngasih jepit rambut kamu yang tadi pagi jatuh didepan gerbang.” Jawab Dani dengan entengnya
            “oh ya, trimakasih.” Mengambil jepit rambut yang ada di tangan Dani, “Gak dapat tempat duduk ya, duduk bareng kita aja,” ujar Rina yang sebelumnya melihat kondisi disekitarnya
            “Trimakasih,” ucap Dani yang kemudian duduk bersebelahan dengan mereka
            “Ow iya, kenalin gue Rina,” ucap Rina mengawali perbincangan sambil mengulurkan tangannya
            “Aku Dani, salam kenal” jawab Dani dengan senyum mengembang diwajahnya, dia menyambut tangan Rina dengan kedua tangannya yang satukan lalu diletakkan di depan dadanya.
            Melihat tingkah Dani, Rina langsung menarik tangannya dan mencoba bersikap biasa saja. Baru kali ini ada cowok yang berani menolak tangan lembut Rina sang ratu sekolah yang terkenal itu.
            Dani, seorang anak yang dibesarkan dikeluarga yang memegang teguh prinsip islam, tak heran kalau dia tak mau menjabat tangan wanita yang bukan mukhrimnya. Terkadang Dani harus menerima teguran dari teman-teman sebayanya di sekolah yang lama karena hal itu dianggap kurang sopan, tapi untungnya Rina bisa menerima semua itu dengan biasa saja.
            “hai Dan, aku Sinta,” ujar Sinta pada Dani
            “Aku Dani,” jawab Dani dengan senyum mengembang diwajahnya
            “Iya udah tahu, kan tadi kamu udah kenalan di depan kelas,” celoteh Sinta
            “Yah, kali-kali aja lupa..hehehe,” ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
            Perbincangan pagi itu berjalan dengan sangat mengasyihkan, sikap Dani yang mudah beradaptasi rupanya menambah kehangatan diantara mereka. Tak terasa bel sudah berbunyi, pertanda bahwa pelajaran selanjutnya sudah akan dimulai, merekapun beranjak untuk menuju ruang kelas.

            Semenjak kejadian di kantin itu, Dani menjadi sosok yang misterius bagi Rina. Sikap Dani yang sedikit menjaga jarak dengan wanita rupanya telah membuat gejolak cinta tumbuh dihati Rina. Hingga suatu ketika, saat Rina mengerjakan tugas di ruang tamu, Ia melamun dan peristiwa tersebut cukup menyita perhatian sang bunda.
            “Rina, bunda perhatikan kamu sekarang sering melamun?” tanya Bunda saat Rina melamun di depan tugas-tugasnya yang menumpuk
            Seketika itu juga, Rinda menatap Bundanya dengan tajam-tajam. Sejenak keheningan menemani mereka diruangan itu, Bunda hanya bisa membalas tatapan Rina dengan senyum manis yang menyejukkan hati.
            “Bunda,” ucap Rina dengan perlahan
            “Iya,” jawab bunda dengan nada lembutnya
            “Kalau Rina mengenakan jilbab cantik tidak?” tiba-tiba Rina menundukkan kepalanya
            Mendengar pertanyaan Anaknya, Bunda sempat kaget, pasalnya selama ini Anak semata wayangnya itu sulit sekali kalau disuruh mengenakan jilbab. Dia slalu mengelak kalau memakai jilbab nanti kecantikan yang ada dalam dirinya tidak terlihat lagi.
            “kenapa Rina bertanya seperti itu pada Bunda, kenapa Rina tidak mencobanya langsung saja?” bunda beranjak pergi ke kamarnya. Ketika kembali, bunda membawa setumpuk jilbab warna-warni.
            “Bunda, itu buat apa?” tanya Rina dengan heran
            Tanpa menjawab pertanyaan Rina, bunda langsung memakaikan salah satu jilbab ke anaknya tersebut. Tidak sampai 5 menit berlalu, akhirnya bunda tersenyum.
            “Mari ikut bunda,” ujar bunda sambil membawa Rina kedepan cermin
            “Wah, cantik sekali bunda,” ucap Rina memuji Dirinya sendiri
            “Sayang, cantik itu bukan yang auratnya kelihatan, tapi yang auranya kelihatan,” nasehat bunda mulai memasuki renung hati anaknya
            “Tapi bun, bagaimana dengan seragam Rina?” tanya Rina mulai lesu
            “Tenang, bunda punya kok seragam panjang buat Rina,” jawab bunda
            “Pasti seragam bunda yang jadul itu, kan udah lusuh bunda,” rengek Rina
            “Apakah menurut Kamu ini lusuh?” tanya bunda seraya memperlihatkan seragam yang diharapkan Rina
            “Loh, kok bisa masih baru gini sih bunda?” tanya Rina
            “Waktu itu kan bunda membuatnya dua model seragam,” jawab bunda
            “Wah, bunda trimakasih banyak,” ucap Rina disertai dengan pelukan hangatnya untuk sang bunda tercinta
            “Mungkin dengan cara ini, Gue bisa dekat dengan Dani,” ucap Rina dalam hati
            “Hayo, Kamu mikirin apalagi?” tanya bunda yang langsung tanggap dengan Rina
            “Eng…enggak kok bun,” ucap  Rina sedikit gugup
            “Ya sudah kalau begitu, sekarang lanjutkan tugas kamu, kasihan tuh udah nunggu dari tadi,” ucap bunda
            “Siap bunda,” jawab Rina dengan sikap hormat
            Rina langsung melanjutkan mengerjakan tugas sampai semalaman suntuk, karena memang tugas itu harus dikumpulkan besok paginya. Tepat jam 11 malam Rina baru beranjak tidur.

            Allahu Akbar…Allahu Akbar, suara adzan subuh membangunkan Rina dari tidurnya. Hari ini adalah hari dimana Ia pertama kalinya memakai jilbab kesekolah, seusai shalat subuh, Ia langsung mandi.
            “Bunda, seragam Rina yang panjang dimana?” teriak Rina dari sudut kamar
            “Ada di almari,” jawab bunda
            “Nah, ini dia ketemu,” guman Rina, Ia langsung memakainya dan tak ketinggalan jilbab putih yang akan menghiasi kepalanya. Setelah selesai berkemas-kemas, Rina langsung berpamitan dengan bundanya karena Dia telah dinanti Sinta di depan rumah sejak tadi.
            “Wuih, Rin kamu gak salah kostum nih?” Sinta kaget melihat teman karibnya yang tiba-tiba berubah penampilan
            “Apaan sih kamu Sin,” ucap Rina yang langsung salah tingkah
            Rina dan Sinta berangkat sekolah dengan berjalan kaki, karena memang jarak antara rumah dengan sekolah tidak terlalu jauh. Sesampainya di sekolah, Rina langsung menuju kelas, rupanya Dia sedikit malu dengan penampilan barunya. Beberapa saat kemudian ada sosok lelaki yang menghampirinya
            “Assalamu’alaikum,” salamnya ramah
            “Wa’alaikumsalam, eh Dani, ada apa?” jawabnya dengan segera
            “Tidak apa-apa, Cuma mau bilang kalau kamu semakin cantik dengan jilbab itu,” ujarnya
            “Trimakasih,” ucap Rina dengan tersipu malu
            “Ow iya Rin, nanti sepulang sekolah ada acara tidak?” tanya Dani yang langsung tanggap dengan situasi dan kondisi
            “Tuh kan, kalau Gue merubah penampilan pasti bisa melunakkan hati Dani,” guman Rina dalam hati
            “Hai, kok malah melamun?” lambaian tangan Dani membuyarkan lamunan Rina
            “Tidak kok, memangnya kenapa?” tanya Rina
            “Aku pengen ngajak  kamu kerumahku, kebetulan aku punya kakak perempuan dan nanti Dia mau ngadain mentoring dirumah,” jelas Dani
            “Mentoring, apa itu mentoring?” tanya Rina penasaran
            “Mentoring itu mengkaji islam lebih dalam,” jawabnya
            “Kayak pengajian dong?” tanya nya
            “Iya, tapi pesertanya sedikit jadi suasananya lebih kondusif” ujar Dani
            “Yah, kok jadi kayak gini ya, tadinya kan pengen jalan bareng Dani, tapi kok malah diajak ngaji.” Ucapnya dalam hati
            “Tuh kan malah melamun lagi, jadi gimana?” tanya nya
            “Boleh deh,” jawab Rina dengan senyuman yang sedikit dipaksa
            “Okey kalau begitu nanti kita pulang bareng,” ucap Dani yang langsung meninggalkan Rina dengan salam nya.

            Waktu yang dinanti pun tiba, Rina sudah berada di rumah Dani untuk mentoring bersama kak Siska dan kawan-kawan. Kak Siska adalah kakaknya Dani, Ia sekarang duduk di bangku kuliah, sehingga obrolan mereka masih banyak nyambungnya. Kali ini mentornya bernama kak Luna, setelah pembukaan dan kultum masuk lah pada acara inti.
            “Setiap amal disertai niat, dan setiap orang dinilai berdasarkan niatnya.” Jelas kak Luna pada adek-adek menti nya
            “Kak, itu maksudnya apa ya?” tanya salah seorang teman kak Siska
            “Jadi begini, setiap perbuatan itu dinilai berdasarkanniatnya. Jika kita melakukannya dengan niat lurus, kita mendapat pahala. Misalnya kita berangkat ngaji ini hanyaa karena ingin menyenangkan hati orang tua, maka yang kita dapat hanyalah melihat orang tua senang. Beda halnya kalau kita mengaji benar-benar karena ingin mengharap ridho-Nya, nanti yang kita dapat adalah pahala dan keridhoan dari-Nya” kak Luna mulai menjelaskan lebih detail
            “Kak, kalau kita pakai jilbab hanya untuk seseorang, apakah kita salah?” tanya Rina dengan segera
            “Tidak Dik, namun niatnya kurang lurus saja. Karena kalau kita memakai jilbab hanya untuk seseorang, maka kita akan rugi.” Pernyataan itu sengaja dihentikan oleh kak Luna
            “Rugi kenapa Kak,?” tanya Rina tak sabar
            “Ya rugi, kita susah-susah berjilbab hanya untuk seseorang, panas, gerah, repot, tapi apa yang kita dapat dari dia di akhirat kelak? Dia gak bisa berbuat apa-apa kepada kita karena dia manusia biasa. Sedangkan kalau kita berjilbab itu karena Allah, maka insyaAllah panasnya adalah cobaan yang berbuah pahala, sejukny adalah keringanan, dan repot karena jilbab yang terlalu panjang adalah bentuk cinta-Nya kepada kita,” ujar kak Luna dengan penuh senyuman
            Semenjak saat itu, Rina merubah niatnya berjilbab dan mulai saat itu juga Dia slalu ikut mentoring rutin yang diadakan oleh kak Siska dan kawan-kawan. Hal itu dilakukan bukan karena Ia ingin mencari perhatian didepan Dani, tapi dia punya presepsi kalau mempelajari islam secara setengah-setengah sama aja bohong karena islam itu menyeluruh.


END
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Us

BTemplates.com

Labels