Flickr Images

Sunday, January 18, 2015

Waktu telah berucap



Pergi Untuk Kembali
Oleh : Ninda Eka Nur Vytasari

            Gadis berkaca mata itu duduk termangu di sudut ruangan, tak ada rona kebahagiaan yang terpancar dalam wajahnya. Gelak tawa teman disekitarnya mungkin hanya menjadi iklan sesaat, ia pejamkan matanya. Butiran air mata mulai menetes mengalir ke pipinya, kaca mata yang ia kenakan kini mulai tertutup embun air mata.
            Dor..!! Kamu kenapa? Kok nangis?” Tanya seorang teman dari balik keramaian.
            Tak merasa kaget dengan kehadiran temannya yang mendadak, ia hanya membuka perlahan kedua kelopak matanya. Ia usap dengan segera air mata yang sempat membasahi pipinya, tangannya merogoh saku baju lalu mengabil secarik kain kecil berwarna pink. Ia lepaskan kaca mata yang melekat di wajahnya, tangannya mulai mengusap-usap lensa penuh embun tersebut. Rupanya ia tak ingin menjawab pertanyaan teman yang sedari tadi menunggu di seberang bangku, tangannya kembali tersibukkan dengan suatu aktivitas. Ia ketik pesan dalam ponselnya.
            Sore ini kita jadi ketemu ya, ditempat biasa kita ketemu dulu. Masih ingat kan??
            Send, ponselnya bergetar tanda pesan telah terkirim. Lamunan adalah temannya saat ini, fikirannya melayang terbang meninggalkannya. Entah apa yang akan ia katakan sore nanti, hatinya kini berkecamuk. Rasa bersalah menggerogoti perasaannya, berharap kejadian di masa itu tidak pernah terjadi. Namun apa daya, waktu telah bergulir mencatat sejarahnya yang kelam.
            Waktu yang telah ditunggu datang juga, gadis itu berdiri di sebuah jembatan penyebrangan. Kaos yang ia kenakan berwarna biru muda, seolah tanda bahwa ia ingin sore ini tak akan berakhir dengan air mata. Tubuhnya menghadap ke arah matahari. Keindahan  pemandangan sore itu tak berhasil mengusir kegundahan hatinya.
            Sebuah jembatan di ujung bukit itu menjadi saksi buta masa lalunya dengan seorang sahabat kecil yang sempat menghabiskan waktu bersamanya. Gelak tawa, canda tangis ia alami bersama sahabatnya tersebut. Tak peduli dunia telah merasa cemburu dengan kebersamaan mereka yang sangat erat di masa itu.
            “Sudah lama menunggu?” Seorang laki-laki merobohkan lamunannya.
            “Belum, mungkin baru lima menit berlalu.” Ia membalikkan badannya. Orang yang ia tunggu kini telah datang, penampilannya sedikit berubah. Tak terlihat ada timbunan lemak dalam tubuhnya, kulitnya pun kini tak kusam seperti dulu. Argh ! mungkin karena lama tak berjumpa, fikirnya.
            “Tadi di jalan aku melihat toko bunga, aku ingat kau suka dengan mawar putih. Nih untukmu.” Ia memberikan seikat mawar putih itu pada seorang gadis di hadapannya.
            Tangan mungilnya menerima tanpa sadar. Semerbak wangi bunganya hanya membuat ia merasa semakin bersalah. Sebuah kesalahan yang sampai saat ini pun masih ia pertanyakan.
            Haruskah aku mengatakan ini padanya sekarang. Momen ini sungguh indah tuk kuhancurkan dengan perkataanku yang mungkin akan membuatnya sakit. Aku takut setelah sore ini berlalu ia akan semakin menjauh dariku. Hatinya kembali berkecamuk, perih.
            Yakinlah pada hatimu Intan! Semua ini harus segera terselesaikan. Apapun tanggapannya nanti, kau pasti kuat. Segera ia tepis kata negative dari fikirannya dan ia bangkitkan semangat dalam jiwanya.
            Maafin aku Ren, dulu aku sempat meninggalkan kamu. Aku terlalu sibuk dengan tugas-tugasku di sekolah dan karena itu juga persahabatan kita jadi seperti ini. Kita seperti orang yang nggak saling kenal. Bahkan di waktu libur pun aku tak pernah menghubungimu.” Gadis bernama Intan itu hanya tertunduk dengan seikat mawar putih di tangannya. Begitu lirih ia berucap, seolah angin pun tak boleh mendengar. Hanya seorang sahabat lama di depannya.
            “Aku tak terlalu mengharap kau memaafkanku. Setidaknya, hati ini sedikit bisa bernafas saat ku katakan ini padamu. Maaf..” lanjutnya.
            Keheningan seketika hadir, cemas dengan jawaban yang akan dilontarkan Reno kepadanya. Ia tak memberanikan diri menatap sahabat kecilnya tersebut, seolah banjir akan segera melanda pipinya. Tundukan wajahnya semakin menyembunyikannya dalam kesunyian.
            Tak ada tanda-tanda Reno ingin mengucap sesuatu padanya. Ia beranikan diri untuk menatap Reno, raut mukanya tak secerah saat datang dengan sekuntum bunga di tangan tadi. Kini hanya ada tatapan kosong yang singgah dalam wajah Reno.
            Air dalam sungai itu telah mengalir berlalu begitu jauh. Mungkinkah aku seperti air itu, aku hanya sanggup melewatimu tuk selanjutnya pergi jauh darimu, batinnya mulai berbisik. Haruskah aku pergi dari sini sekarang, fikirnya lalu mulai beranjak pergi.
            “Tan, aku tak pernah merasa kita terpisah. Aku merasa selama ini kita baik-baik saja,” Jawabnya menghentikan langkah sahabatnya tersebut, ia menghampiri gadis bermata belo tersebut lalu ia ajak ke atas jembatan untuk menyaksikan matahari yang hampir terbenam.
            “Kau lihat matahari itu, apabila ia telah menghilang dari bukit ini, apa yang akan terjadi?” Tanya Reno kepada sahabatnya.
            “Pasti malam telah tiba dan gelap akan datang,” Jawabnya tanpa memalingkan wajah pada sang surya sore itu.
            “Apakah dia telah meninggalkan bumi?” tanyanya lagi.
            “Tentu tidak, karena bumi memiliki orbit. Maka ia akan selalu mengelilingi matahari dan itu artinya tidak ada yang saling meninggalkan,” Jawabnya enteng, ia teringat dengan pelajaran IPA waktu kelas 6 dulu.
            “Itulah kita. Meskipun kita telah mempunyai kesibukan masing-masing, bukan berarti persahabatan kita usai. Saat itu kita hanya sedang belajar untuk saling memahami,” Ucapnya sambil tersenyum pada Intan.
Kata-kata itu cukup menenangkan, sebuah senyuman indah kini bertengger di wajah Intan. Rasanya hati yang lama terpenjara kini telah bebas. Ia dapat menghirup udara bebas di manapun  ia inginkan.
            “Dan ingat...” Lanjutnya
            “Tidak ada yang saling meninggalkan dan ditinggalkan,” Ucap mereka bersamaan.
            Tak ada yang tahu hati seorang sahabat, yang harusnya kita tahu adalah bagaimana kita memahami seorang sahabat yang ada di samping kita karena rasa rindu itu ada ketika kita telah tak bersama dengan dirinya dan karena kita ingin dipahami, maka kita harus memahami.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Us

BTemplates.com

Labels