Oleh
: Ninda Eka Nur Vytasari
Gadis berkaca mata itu duduk
termangu di sudut ruangan, tak ada rona kebahagiaan yang terpancar dalam
wajahnya. Gelak tawa teman
disekitarnya mungkin hanya menjadi iklan sesaat, ia pejamkan matanya. Butiran
air mata mulai menetes mengalir ke pipinya, kaca mata yang ia kenakan kini
mulai tertutup embun air mata.
Tak merasa kaget dengan kehadiran
temannya yang mendadak, ia hanya membuka perlahan kedua kelopak matanya. Ia
usap dengan segera air mata yang sempat membasahi pipinya, tangannya merogoh saku baju lalu mengabil secarik
kain kecil berwarna pink. Ia lepaskan kaca mata yang melekat di wajahnya,
tangannya mulai mengusap-usap lensa penuh embun tersebut. Rupanya ia tak ingin
menjawab pertanyaan teman yang sedari tadi menunggu di seberang bangku, tangannya
kembali tersibukkan dengan suatu aktivitas. Ia ketik pesan dalam ponselnya.
Sore
ini kita jadi ketemu ya, ditempat biasa kita ketemu dulu. Masih ingat kan??
Send,
ponselnya bergetar tanda pesan telah terkirim. Lamunan adalah temannya saat ini,
fikirannya melayang terbang meninggalkannya. Entah apa yang akan ia katakan sore
nanti, hatinya kini berkecamuk. Rasa bersalah menggerogoti perasaannya,
berharap kejadian di masa itu tidak pernah terjadi. Namun apa daya, waktu telah
bergulir mencatat sejarahnya yang kelam.
Waktu yang telah ditunggu datang
juga, gadis itu berdiri di sebuah jembatan penyebrangan. Kaos yang ia kenakan
berwarna biru muda, seolah tanda bahwa ia ingin sore ini tak akan berakhir
dengan air mata. Tubuhnya menghadap ke arah matahari. Keindahan pemandangan sore itu tak berhasil mengusir
kegundahan hatinya.
Sebuah jembatan di ujung bukit itu
menjadi saksi buta masa lalunya dengan seorang sahabat kecil yang sempat menghabiskan
waktu bersamanya. Gelak tawa, canda tangis ia alami bersama sahabatnya
tersebut. Tak peduli dunia telah merasa cemburu dengan kebersamaan mereka yang
sangat erat di masa itu.
“Sudah lama menunggu?” Seorang
laki-laki merobohkan lamunannya.
“Belum, mungkin baru lima menit
berlalu.” Ia membalikkan badannya. Orang yang ia tunggu kini telah datang,
penampilannya sedikit berubah. Tak terlihat ada timbunan lemak dalam tubuhnya,
kulitnya pun kini tak kusam seperti dulu. Argh
! mungkin karena lama tak berjumpa, fikirnya.
“Tadi di jalan aku melihat toko
bunga, aku ingat kau suka dengan mawar putih. Nih untukmu.” Ia memberikan seikat mawar putih itu pada seorang
gadis di hadapannya.
Tangan mungilnya menerima tanpa
sadar. Semerbak wangi bunganya hanya membuat ia merasa semakin bersalah. Sebuah
kesalahan yang sampai saat ini pun masih ia pertanyakan.
Haruskah aku mengatakan ini padanya
sekarang. Momen ini sungguh indah tuk kuhancurkan dengan perkataanku yang
mungkin akan membuatnya sakit. Aku takut setelah sore ini berlalu ia akan
semakin menjauh dariku. Hatinya kembali berkecamuk, perih.
Yakinlah pada hatimu Intan! Semua
ini harus segera terselesaikan. Apapun tanggapannya nanti, kau pasti kuat.
Segera ia tepis kata negative dari
fikirannya dan ia bangkitkan semangat dalam jiwanya.
“Maafin
aku Ren, dulu aku sempat meninggalkan kamu. Aku terlalu sibuk dengan
tugas-tugasku di sekolah dan karena itu juga persahabatan kita jadi seperti
ini. Kita seperti orang yang nggak
saling kenal. Bahkan di waktu libur pun aku tak pernah menghubungimu.” Gadis
bernama Intan itu hanya tertunduk dengan seikat mawar putih di tangannya.
Begitu lirih ia berucap, seolah angin pun tak boleh mendengar. Hanya seorang
sahabat lama di depannya.
“Aku tak terlalu mengharap kau
memaafkanku. Setidaknya, hati ini sedikit bisa bernafas saat ku katakan ini
padamu. Maaf..” lanjutnya.
Keheningan seketika hadir, cemas
dengan jawaban yang akan dilontarkan Reno kepadanya. Ia tak memberanikan diri
menatap sahabat kecilnya tersebut, seolah banjir akan segera melanda pipinya.
Tundukan wajahnya semakin menyembunyikannya dalam kesunyian.
Tak ada tanda-tanda Reno ingin
mengucap sesuatu padanya. Ia beranikan diri untuk menatap Reno, raut mukanya
tak secerah saat datang dengan sekuntum bunga di tangan tadi. Kini hanya ada
tatapan kosong yang singgah dalam wajah Reno.
Air dalam sungai itu telah mengalir
berlalu begitu jauh. Mungkinkah aku seperti air itu, aku hanya sanggup
melewatimu tuk selanjutnya pergi jauh darimu, batinnya mulai berbisik. Haruskah
aku pergi dari sini sekarang, fikirnya lalu mulai beranjak pergi.
“Tan, aku tak pernah merasa kita
terpisah. Aku merasa selama ini kita baik-baik saja,” Jawabnya menghentikan
langkah sahabatnya tersebut, ia menghampiri gadis bermata belo tersebut lalu ia
ajak ke atas jembatan untuk menyaksikan matahari yang hampir terbenam.
“Kau lihat matahari itu, apabila ia
telah menghilang dari bukit ini, apa yang akan terjadi?” Tanya Reno kepada
sahabatnya.
“Pasti malam telah tiba dan gelap
akan datang,” Jawabnya tanpa memalingkan wajah pada sang surya sore itu.
“Apakah dia telah meninggalkan
bumi?” tanyanya lagi.
“Tentu tidak, karena bumi memiliki
orbit. Maka ia akan selalu mengelilingi matahari dan itu artinya tidak ada yang
saling meninggalkan,” Jawabnya enteng, ia teringat dengan pelajaran IPA waktu
kelas 6 dulu.
“Itulah kita. Meskipun kita telah
mempunyai kesibukan masing-masing, bukan berarti persahabatan kita usai. Saat
itu kita hanya sedang belajar untuk saling memahami,” Ucapnya sambil tersenyum
pada Intan.
Kata-kata
itu cukup menenangkan, sebuah senyuman indah kini bertengger di wajah Intan.
Rasanya hati yang lama terpenjara kini telah bebas. Ia dapat menghirup udara
bebas di manapun ia inginkan.
“Dan ingat...” Lanjutnya
“Tidak ada yang saling meninggalkan
dan ditinggalkan,” Ucap mereka bersamaan.
Tak ada yang tahu hati seorang
sahabat, yang harusnya kita tahu adalah bagaimana kita memahami seorang sahabat
yang ada di samping kita karena rasa rindu itu ada ketika kita telah tak
bersama dengan dirinya dan karena kita ingin dipahami, maka kita harus memahami.







0 komentar:
Post a Comment