Flickr Images

Friday, February 17, 2017

Berbalut Rindu





-Bintun Nahl-


Nduk bangun, tidur nya pindah kamar!” Bapak tua itu membangunkan sambil mengangkat beberapa wadah dagangan yang kosong.
Nek bobok itu mbok langsung mapan, lha wong sudah di sediakan kamar lho.” Celotehnya sedikit kabur di pendengaran, belum sempurna betul rasanya mata ini terbuka. Sedikit mengumpulkan kesadaran, Aku lepaskan kaos kaki yang masih menempel.
“Pak, anterin ke kamar mandi!” Pintaku lirih. Belum sempat isya tertunaikan, namun tubuh ini terlalu letih untuk menghadap dan terlalu takut kalau-kalau di pertengahan pertemuan indah itu harus rusak karena rasa kantuk. Hingga Aku putuskan untuk merebahkan letih ini barang satu atau dua jam di atas kursi ruang tamu. Kursi dari anyaman bambu berwarna hitam yang tak pernah memberikan rasa hangat.
“Allahuakbar…” Sebuah ketukan ringan yang cukup terdengar oleh sang pemilik rumah. Atmosfirnya tidak berubah, angin yang berhembus juga masih sama tapi tanpa kusadari pintu itu langsung terbuka. Bak seorang pelayan menghadap tuannya, laporan demi laporan kuucapkan seperti biasa. Tak kudengar jawaban atas kebiasaanku tersebut karena memang telinga ini terlalu lemah untuk menerimanya.
“Allahuakbar..” Saat-saat terberat adalah saat rukuk, beruntunglah Aku karena dosa-dosa itu tidak diwujudkan seperti batu. Mungkin bila demikian maka Aku tak mampu lagi menopang punggung serta anggota badan yang lain dalam rukukku.
Sunyi yang begitu menggelayut rindu. Sudah memasuki tengah malam, saat dimana orang tertidur pulas untuk mengisi ulang tenaganya. Tapi Aku malah masih berkutik pada sebuah kewajiban yang belum tuntas.
“Allahuakbar…” Dalam niat yang berbeda, setelah kewajibanku gugur. Aku lanjutkan kunjungan. Mungkin ini belum berada di sepertiga malam terakhir, dan sekali lagi kecemasanku datang. Kalau-kalau saja esok mata ini terlambat atau bahkan sudah tak bisa di buka lagi.
“Allahuakbar…” Bagian dimana Aku akan tersadar bahwa diri ini bukanlah siapa-siapa, Sujud.
“Subhaana Rabbiyal A’laa Wabihamdih.” Kuulang kalimat indah itu tiga kali, lalu diamku menguasai.
“Aku MencintaiMu,” entah bagaimana Aku memiliki keberanian untuk mengucapkan hal tersebut dalam sujudku, bahkan perilaku yang aku tunjukkan tak cukup mampu membuktikannya. Namun itulah sebuah rasa yang tak sanggup Aku tutupi. Sebuah rasa yang tak berani Aku lepaskan.


Share:

1 comment:

Follow Us

BTemplates.com

Labels